Tuhanku ada di Sosial Media

Berapa banyak penggalan ayat suci yang tersebar di sosial media atau WhatsApp group lo? Dari mulai bangun liat handphone sampai mau tidur. Gue rasa kalau dihitung mungkin lebih dari 10 mungkin.

Apakah dengan membagikan ayat suci yang secara harfiah bertujuan untuk mendoakan, memberi peringatan dan adapun yang sifatnya memang untuk mengutuk (biasanya kalau debat berkepanjangan, ayat suci jadi senjatanya), membuat kita tersadar?

Untuk gue pribadi, mungkin enggak sampai 5 ayat yang gue yang baca sih. Karena biasanya ayat tersebut enggak cuman 1 ayat yang sekelebat langsung selesai dibaca. Tapi biasanya panjang, walaupun enggak sampai 1 Juz juga sih. Ya tapi mau gimanapun, akan lebih mudah kalau membacanya dalam bahasa Indonesia.

Sewaktu sekitar umur 10 tahun dimana volume otak sudah mulai membesar, gue sering bertanya apakah Tuhan hanya mendengarkan doa kita dalam bahasa arab saja? Apakah Tuhan tidak se-Maha itu untuk mendengarkan doa hambanya dengan bahasa Indonesia? Apakah dengan bahasa arab doa kita berakselerasi maksimum?

Begitu banyak pertanyaan di dalam otak sewaktu itu. Dan kalaupun bertanyapun jawabannya tetap sama, yaitu bahasa arab adalah bahasa para nabi dan bahasa yang suci. Lalu kita yang kebetulan lahir dan tinggal di Indonesia kurang beruntung dong ya?

Bahasan ini terlalu sensitif untuk dikaji sebenarnya. Banyak polisi akhlak yang berkeliaran dengan hukum yang mutlak tanpa mengukur lingkar otak.

Padahal perintah pertama Tuhan kan Iqra. Dan itu bukan hanya “membaca” tapi memahami tentang apa yang kita lihat, rasakan, lakukan. Bedanya kita dengan binatang adalah kita punya otak dimana tingkat intelejensia kita berkali lipat dari binatang. Walapun anak umur 2,5 tahun punya kemampuan di beberapa aspek yang sama dengan primata.

Belum lagi kalau konteksnya adalah berdoa namun dibagikan di sosial media. Berdoa disini bisa beberapa bertujuan, dari yang berdoa untuk sesuatu hal yang baik kedepannya atau memang berdoa karena mengasihani kehidupan sendiri.

Disini sebenarnya logika harusnya berjalan, dimana Tuhan bukan manusia yang cek sosial medianya untuk dapat update. Dia bisa dengan mudahnya mengetahui ini, bahkan tanpa harus bicara. Karena Dia Maha Mengetahui.

Jadi tujuan sebenarnya ingin dapat perhatian kah? Ya, jawabannya disimpan dalam hati dan silakan intropeksi aja.

Tapi bagaimana pun, doa itu adalah aktivitas yang baik dan tidak merugikan orang. Opini ini datang dari seorang yang shalat 5 waktu aja bolong banyak. Jadi tidak bisa dijadikan opini yang kuat.

Yuk, kita baca bareng doa dibawah ini

Advertisements
Tuhanku ada di Sosial Media

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s