Generasi Gaduh

Berapa banyak dari kalian yang datang ke restoran, cafe atau warung makan untuk hanya sekedar makan, ngobrol sama teman atau kerja? Hal yang sering dilakukan tersebut kadang terganggu oleh suara gaduh dari meja lain. Dan kalau misalnya di lihat, biasanya bergerombol dan mereka melakukan aktivitas tertentu, yang paling sering adalah main game bareng. Ini bisa online game, board game atau main kartu.

Seringnya kalau sudah mulai berteriak dan ketawa lepas, mereka tidak melihat keadaan sekitar, atau mungkin tidak peduli malah. Kita pun ingin menegur jadi serba salah karena ini tempat publik, dimana semua orang punya hak masing – masing untuk beraktivitas. Dan bermain game sambil ketawa adalah bukan aktivitas yang melanggar hukum. Oleh karena itu jalan keluarnya adalah sabar, mengebaikan suara tersebut atau ya keluar dari tempat tersebut.

Tapi berapa banyak tempat publik yang kondusif? Mungkin ada yang ingin berkata, “Perpus aja kalau mau sepi”. Ya perpus tutup jam berapa, berapa banyak yang ada kota kalian dan sangat tidak terpuji kalau jadi tempat ngobrol dengan teman – teman karena tujuan perpus adalah untuk membaca dan menyendiri.

Jadi hal yang langka untuk mencari tempat yang kondusif, oleh karena itu padepokan earphone depan laptop jadi menjamur. Selain untuk mencari fokus dan juga tidak ingin terganggu fokusnya dengan suara gaduh di sekitar. Tapi itupun jadi masalah kalau kita ingin hanya sekedar ngobrol dengan teman, karena suaranya gaduh bukan kepalang. Kalau begini jadi apa bedanya dengan ngumpul di klub malam dan teriak – teriak hanya utuk ngobrol.

Generasi gaduh ini walaupun mereka tidak melakukan aktvitas walaupun hanya ngobrol, tendensi untuk mengeluarkan desibel yang sama dengan knalpot yang di bobok pun tinggi. Karena flow conversationnya pun sulit terjadi. Di setiap ada yang mengutarakan pendapatnya, sebelum selesai sudah di samber dengan temannya, dan di samber lagi dengan temannya tanpa ada ampun. Ini ibarat main Tekken, Eddie terus melakukan tendangan capoeira nya tanpa berhenti. Jadinya bukan ngobrol, tapi adu eksistensi.

Eksistensi adalah sesuatu yang sedari jaman sebelum masehi pun jadi topik pembicaraan dan bahan kontemplasi dari filsuf. Semua butuh eksistensi dan butuh feedback dari sekitar, karena kalau tidak ada feedback berarti kita seperti benda mati. Di tambah begitu banyaknya campaign yang selalu membicarakan tentang “Tunjukan jati diri”, “Be yourself”, “Unleash yourself”, dll. Apakah dengan berteriak di komunitas kecil tersebut adalah salah satu pencarian jati diri? Tentunya. Coba, berapa banyak dari kalian yang sewaktu remaja SMA mencoba hal – hal yang memang diluar kebiasaan dan kenyamanan kalian? Semua orang mencoba mencari caranya masing – masing. Di masa era informasi terbuka luas, permasalahan dari masyarakat terjadi dari komunitas tersebut karena informasi yang banjir dan tidak dapat di bendung.

Filterisasi informasi jadi sulit dimana circle terdekat adalah keluarga juga sulit mendukung (baca: keluarga). Bisa jadi orang tua yang sibuk bekerja, sibuk chatting dengan teman – teman di smartphone mereka, atau remaja yang memang tidak dekat dengan orang tua dan melihat orang tua bukan menjadi pilihan untuk jadi teman ngobrol.

Jadi ingat dulu, kalau memang ada cewek yang di sukai, segala cara dilakukan untuk menarik perhatiannya, dari mulai menjadi moderator kelompok diskusi kelas, bermain basket atau bola, dll nya. Mencari feedback dari objek untuk bisa menafkahi ego ini.

Primata yang menjadi saudara terdekat kita (kalau enggak percaya Teori Evolusi Darwin enggak apa – apa kok) pun melakukan hal yang sama dalam mencari perhatian si betina oleh kantan. Karena memang pada dasarnya kita haus dengan acknowledge sekitar, bahwa kita ada.

Ya sudahlah, tidak banyak yang bisa di ubah dalam generasi gaduh ini. Mudah – mudahan makin dewasa jadi makin sadar kalau ada individu dan komunitas lain juga di sekitar yang harus di hormati.

Tulisan ini di buat pada coffee shop yang kebetulan di belakang ada 5 remaja yang lagi main kartu dan di meja sebelah lagi ada orang – orang bekerja hanya bisa melihat ke arah mereka sambil berharap mereka sadar kalau suara mereka ngalahin toa masjid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.