Di sebuah Coffee Shop yang sepi

coffee shop

Biasanya pada setiap minggu malam, Kala selalu bekerja di salah satu coffee shop dekat rumahnya. Bukan jadi hal yang aneh buat Kala untuk bekerja di hari terakhir pada weekend. Dia bukan tipe yang bisa lama – lama leyeh – leyeh di rumah dengan menonton YouTube atau Series. Ada saja yang ada di kepalanya yang perlu dituangkannya.

Di malam tersebut, coffee shop tersebut terlihat sepi, hanya ada 2 pasangan dan 2 orang lainnya bekerja di meja panjang tempat dia biasanya bekerja. Apalagi keadaannya habis hujan, jadi udaranya sejuk sekali. Oh iya, artsitektur dari coffee shop ini semi outdoor jadi tidak ada AC.

Seperti biasa Kala memesan Cold Brew untuk menemaninya bekerja sambil di bukanya laptop dan dikeluarkan rokoknya. Sambil mendengarkan George Benson – My Cherish Amour dengan earphonenya. Sebuah keadaan malam yang khusyuk. Sebuah keadaan yang lumayan mahal sebenanya, karena terkadang banyak remaja bersama teman – temannya bermain board game yang menghasilkan polusi suara dan juga belum lagi sudah lamannya tidak turunnya hujan.

Sudah setengah jam berlalu dan Kala sedang serius melakukan fact checking pada artikel yang sedang di reviewnya. Di pojok kiri matanya terlihat ada seorang perempuan yang datang, sendirian, membawa tas laptop dan datang ke arahnya. Kala tidak berani untuk melihat langsung ke arah perempuan tersebut. Maka dia mencoba untuk tetap tenang. Sebuah jurus acting yang sudah lama dia tinggalkan.

“Sorry, boleh duduk di sini?”. Perempuan tersebut sambil melambaikan tangannya ke Kala, namun Kala terlelap dengan acting seriusnya.

“Halo mas, boleh saya duduk di sini?”. Kali ini lambaian tangan perempuan tersebut hanya berjarak 20 cm dari mata Kala.

“Oh, sorry sorry. Ya silakan”. Kala sambil mengambil tasnya yang dia taruh di meja depan dia.

“Terima kasih ya”, perempuan tersebut berucap sambil tersenyum.

Dan Kala bisa melihat langsung senyumannya tersebut. Dalam hitungan sepersekian detik, wajahnya terasa hangat dan jantungnya berdebar – debar.

“Sial, kenapa gw jadi deg – degan gini sih”. Kala menggerutu ke dirinya sendiri.

“Kenapa ya mas?”, ucap perempuan tersebut mendengar gerutuan dari Kala yang di dengarnya.

“Ah, engga apa – apa kok”, Kala membalasnya dengan wajah malu.

Selama mereka duduk berhadapan, beberapa kali Kala mencoba mencuri pandang ke perempuan tersebut. Tidak hanya memandang perempuan tersebut, tapi Kala juga seperti meng-observasi  perempuan tersebut.

Seorang perempuan berkacamata dengan frame tipis, mempunyai mata yang mengingatkannya seperti Audrey Tatou, dengan rambut sebahu, memakai kaos hitam dan jam casio calculator yang sempat hype 10 tahun lalu. Selain laptop yang sedang di pandang perempuan tersebut, dia juga melihat buku di sampingnya yang terkadang dia ambil dan coba membacanya. “Anna Karenina” – Leo Tolstoy. Kala melihat cover buku tersebut.

“Hmm, jarang juga liat cewek baca Tolstoy. Apalagi Anna Karenina yang ceritanya miris dengan kisah cinta yang terlalu banyak campur tangan pria – pria di dekatnya”. Kala makin kagum dengan perempuan di depannya tersebut. Tapi permasalahannya, bagaimana caranya berkenalan dengannya. Harus mulai dari mana.

Perempuan tersebut tidak sengaja menyalakan lagu dari laptopnya dan lumaan terdengar keras sampai pengunjung lain melihatnya. Dia malu sendiri, dan mengecilkan volumenya. Sambil dia mencoba mencari – cari sesuatu di tasnya. Cukup lama pencariannya tersebut dan kelihatannya dia cukup kesal dengan hasil nihilnya. Akhirnya dia memutuskan kembali fokus ke laptopnya. Dengan volume yang cukup kecil, Kala masih bisa dapat mendengarnya.

Sepertinya lagunya Heals “False Alarm”. Kala mencoba mendengarkannya serius. Dia berpura – pura melihat ke laptop sambil masih memasang earphonenya, sebuah trik sok seriusnya.

Pada reff lagu tersebut;

“Sway down this unfulfilled mind

Just try to speak with those eyes”

“Ah benerkan ini Heals”. Saking seriusnya dia mencoba mendengarkan lagunya, Kala secara tidak sadar bernyanyi pelan lagu tersebut.

“Mas lagi dengerin lagu saya ya?”, perempuan tersebut spontan bertanya ke Kala sambil tersenyum.

“Aduh, kenapa gw pake nyanyi segala lagi”, ucap Kala dalam hati. Dia mencoba menjawab ke perempuan tersebut dengan, “Enggak kok. Hehe”. Dia coba berkilah.

“Oh gitu, kalau mas keganggu saya kecilin volumenya. Soalnya, saya tadi nyari earphone saya tapi enggak ketemu”.

“Enggak apa – apa kok. Memangnya tadi lagi dengerin lagu apa ya?”, jurus basa basinya keluar begitu dari mulut Kala.

“Lagi dengerin Heals sih”

“Yang dari Bandung itu ya?”

“Iya bener, dengerin juga ya?”

“Ya beberapa lagu mereka aja sih. Kebetulan kemarin pas Soundrenaline gw ngeliput mereka juga”

“oiya? Wah seru banget. Memangnya mas wartawan dari media mana?”

“Waduh, berat banget kalau bahasanya wartawan. Gw cuman punya media kecil gitu doang kok dan kebetulan temen panitianya, jadi bisa dapet kesempatan interview beberapa band”

“Saya jadi iri dengernya. Oiya, kenalin saya Rula”, dengan posisi setengah berdiri, tangannya menghampiri saya untuk bersalaman.

“Kala”, ucapnya sambil menjabat tangannya Rula.

Seperti yang sudah di prediksi, Kala terbang ke atmosfer tertinggi saat ini merasa sangat senang bukan kepalang dan untungnya tidak mimisan. Dan dia terlalu lama memegang tangan Rula sampai Rula melepaskan tangannya tersebut.

“Sorry sorry ya”, Kala minta maaf karena dia sadar akan kebodohannya.

“Duh, gw bisa dikirain pervert lagi nih”, sebuah prejudice yang muncul di kepalanya Kala karena perbuatannya.

“Enggak apa – apa kok. Hehe”

Mereka berlanjut obrolannya mengenai skena musik Indonesia yang dimana jadi topik hangat malam tersebut. Sempat terbesit dalam hati Kala kalau Rula ini seperti “Stephanie Anak Seni” dari lagunya Jason Ranti kalau melihat dari gayanya dan obrolannya. Namun ini bukan pendapat yang negatif menurutnya, tapi lebih ke arah pujian. Karena bisa bertemu sosok Stephanie yang kata Jason Ranti atau Jeje panggilan akrabnya adalah seorang sosok yang memang asli.

Dari mulai ngobrol tentang band Heals tadi sampai membahas “The rise of sidestream/indie music in Indonesia”. Sebuah obrolan yang hakiki, untung saja Kala tidak sampai orgasme dibuatnya. Menurut Kala, ini adalah kesempatan yang datang mungkin hanya sekali. Jadi harus dimaksimalkannya. Dengan modal media kecil punyanya, dia memperlihatkan eksistensi dan dominasinya dalam obrolan tersebut.

“Mohon maaf kita sudah mau tutup. Kami mau close bill, ada tambahan lainnya?”, waitress datang menginterupsi obrolan kami.

“Enggak mas, sudah cukup. Saya minta bill ya. Lo mau bill sekalian La?”, tanya Kala ke Rula.

“Iya boleh mas sekalian”.

“Seru juga ya obrolan malem ini. Walaupun agak random juga. Haha”, komentar dari Rula yang mencoba menutup obrolan ini.

“Iya nih, jarang – jarang bisa dapat teman ngobrol random gini. Hmm, gw boleh minta nomor whatsapp lo kah, kali aja di lain waktu kita bisa ngobrol lagi”, sebuah punchline dari Kala yang sudah di tunggu – tunggu dari banyaknya bit yang dia buat daritadi.

“Boleh kok, ini nomor saya di 0818847007. Coba di call deh, biar nanti bisa langsung di save”.

“Okay, gw call ya”

“Udah di terima nih. Saya simpen ya nomornya”

“iya sok aja, hehe”

Percapakan malam itu berakhir dengan saling bertukar nomor. Kala mempunyai keyakinan cukup besar kalau akan terjadinya pertemuan berikutnya. Sambil menaiki motor tuanya, dia bisa pulang dengan tersenyum hingga giginya kering terhempas angin malam. Kebahagiaan menutupi malamnya, sebuah malam “lailatul qadr” yang akhirnya di alaminya.

Advertisements

2 thoughts on “Di sebuah Coffee Shop yang sepi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.