Kurasi Informasi Adalah Koentji

Limitasi akses informasi

Gue masih ingat perasaan sewaktu kecil kalau gue punya informasi yang teman lain belum tau rasanya seperti gue ada di awang – awang. Padahal mungkin se-simple gue baru nonton Dragon Ball Z dan teman lainnya kelewatan.

Lebih besar dikit dan sudah mengenal musik dimana gue baru baca majalah di Gramedia dan baca artikel tentang penelitian kalau musik Limp Bizkit dapat meningkatkan agresif remaja. Gue bak guru di depan kelas menceritakan hal tersebut seperti gue yang melakukan penelitian ditambah bumbu – bumbu ego seperti, “makanya gue lebih suka Linkin Park daripada Limp Bizkit”. Yang dimana tidak ada hubungannya sama sekali.

20 tahun mungkin hingga 10 tahun lalu, informasi terbilang komoditas yang lumayan sulit didapat karena medium-nya masih terbatas dan mahal. Hanya TV, Radio, Koran, Majalah, Buku atau ya ngobrol sebagai medium yang paling umum. Dalam 10 tahun ini, hanya bermodalkan paket kuota internet saja yang harganya pun sama dengan uang jajan harian anak sekolah, setiap orang bisa mengakses isi dari Perpustakaan Alexandria yang ludes terbakar 2 millenia yang lalu.

Gue masih ingat betul untuk SMS aja mahal, bahkan dulu pulsa termurah adalah IDR 50 ribu. Itu pun harus dihemat sampai akhir bulan. Itupun paling banter cuman dapat informasi tentang gebetan kita sudah makan atau belum. Sekarang modal IDR 50 ribu pulsa sudah bisa menjadi modal mencari uang yang berkali-kali lipat hasilnya dari modal beli pulsa.

Keajaiban internet yang nyata

Salah satu cerita “keajaiban” Internet adakah menurut gue itu munculnya Rich Brian. Anak rumahan yang belajar bahasa inggris hanya dari YouTube dan ngobrol dengan teman-teman virtualnya. Dulu paling mentok ya sahabat pena dibalik buku LKS, itu juga biasanya masih di pulau Jawa. Sekarang bahkan untuk ngobrol dengan random people bisa dengan mudahnya. Okay balik lagi ke Rich Brian, dengan lancarnya bahasa inggris dan sudah ter-verify oleh Sacha Stevenson dengan predikat “100% Like a native”. Bukan anak international school ataupun tinggal diluar negeri. Anak dari Tangsel yang sekarang mengadu nasib di jazirah Amerika.

Salah satu yang mungkin keajaiban nyata untuk diri gue sendiri adalah pekerjaan pertama gue didapat dari Twitter sekitar hampir 10 tahun lalu. Dimana saat itu gue ingat betul informasi loker yang paling umum hanya dari Lina JobStreet atau dari Jobs Expo. Hanya bermodalkan jempol ngetwit, kirim CV dan voila gue dapat pekerjaan. Bahkan, klien pertama gue waktu itu juga didapat dari twit. Dimana gue sendiri yang ngetwit lewat akun kantor gue saat itu untuk memberikan Kultwit, dan setelah itu banyak klien lainnya didapatkan dari Twitter.

Selain pekerjaan, keajaiban nyata lainnya adalah online dating. Mungkin kalau dilakukan survey untuk pasangan yang menikah dalam 10 tahun ini di Indonesia, setidaknya 13% dari mereka berkenalan dari online dating ataupun social media. Ini pun terjadi pada gue dan teman-teman gue lainnya. Bahkan social media menjadi tolak ukur dari bibit, bebet dan bobot seseorang sebelum mereka bertemu. Terlebih lagi untuk remaja (Gen Z) yang sudah hidup di dunia digital.

Keajaiban tersebut bukan hanya sebatas random things happened menurut gue. Karena baik Rich Brian ataupun gue mengkurasi apa yang ingin kami dapatkan informasinya. Siapa orang – orang ataupun media yang menurut kami berpengaruh dan mempunyai konten dengan mutual interest yang menjadikan kami mendapat benefit dari Internet tersebut.

Tsunami informasi dalam 1 dekade

Dalam 1 dekade ini begitu banyak yang informasi yang kita konsumsi. Dari mulai Koin untuk Prita sampai video jamaah FPI yang menyambut sang Habib di bandara. Bahkan dalam kurun 1 tahun ini, semua orang dipaksa untuk mampu bekerja virtual atau yang saat ini ramai dengan terminologi “belajar daring” untuk anak – anak sekolah dan kuliah. Orang tua kita pun mulai belajar memakai Zoom untuk sekedar arisan atau mendatangi undangan pernikahan virtual.

Yang kesulitan dalam menerima tsunami informasi bukan hanya orang tua yang gemar dengan mengkonsumsi berita hoax dari WhatsApp keluarga, namun millennial ataupun Gen Z pun berjibaku untuk bisa berkompetisi dengan kencangnya arus informasi. Gue tidak kebayang bagaimana diskusi anak sekolah sekarang yang bisa mendapatkan informasi secepat itu.

Kurasi Informasi adalah koentji

Namun, dibalik tsunami informasi ini, banyak hal lain yang bisa didapatkan, tidak hanya ilmu namun juga uang dengan berbisnis. Salah satu industri yang marak adalah e-commerce. Dimana menjadi pasar untuk miliaran penduduk dunia untuk berjual beli. Oleh karena itu jargon yang paling banyak digunakan adalah “membantu umkm” ataupun “memperkuat ekonomi dan daya beli”. Karena yang dibutuhkan memang akses ke pasar yang lebih luas dan kurasi yang baik. Namun efek sampingnya bagi kita pembeli adalah kita bisa menemukan duplikasi barang yang dijual dengan harga beda yang tipis sekali.

Ini tidak hanya terjadi dalam dunia bisnis aja. Tapi menjadi media/publisher dadakan adalah efek samping lainnya dari tsunami informasi ini. Homeless media yang bermodalkan social media yang mungkin dikelola oleh 1 orang menjadi celah lainnya. Dengan begini, walaupun informasi lalu lalang tanpa berhenti, media dadakan ini mengambil ceruk pasarnya sendiri yang biasanya memang sesuai dengan interest mereka. Bahkan, mereka pun tidak usah untuk produksi konten, karena konten akan tersedia tanpa diminta. Sebagai pemilik media hanya tinggal mengkurasi konten yang sesuai untuk mereka poles dan repost.

Berbagai media dan bisnis yang berdatangan memenuhi social media dan aplikasi, mungkin sebagian besar adalah dengan menggunakan konsep “kurasi informasi” atau “aggregator” atau “platform”. Kita tau dimana sifat manusia pada dasarnya pemalas walaupun kita punya free will, dengan banyaknya informasi bukannya menjadi lebih giat, namun banyaknya menjadi passive karena banyak mediator yang akan menyuapi kita. Tampaknya menjadi hal terbalik kalau kita berkaca 100 tahun lalu dimana limitasi informasi dan orang begitu laparnya dengan informasi. Founding fathers kita bisa membaca “Das Kapital” pada umur remaja.

Ada salah satu twit yang menjelaskan tentang bagaimana develop product pada era informasi saat ini, yaitu fokus kepada 7 deadly sins. Karena hampir semua aplikasi yang kita gunakan setidaknya representasi dari itu semua.

Epilog

Mungkin yang jadi kadang buat ketawa atau bahkan jengkel adalah jadi banyak sekali so called startup dengan bisnis kurasi di industrinya dan dibalut dengan UI/UX yang seamless. Gue rasa 10 tahun lagi bisnis dengan konsep atau narasi kurasi, aggregator, platform ini sudah berangsur berkurang. Selanjutnya adalah dengan basis Machine Learning, AI, Otomasi dan IoT. Tahapannya sudah mempermudah hidup tanpa harus banyak bergerak dan berpikir.

Ini jadi mirip dengan film Wall-E dimana manusia menjadi gendut tidak berguna karena semuanya dibantu oleh robot. Atau mungkin Matrix dimana hidup kita sesungguhnya adalah di dalam grid. Bahkan skenario paling buruknya adalah Skynet menguasai dunia, dimana kita tinggal menunggu Terminator untuk membantu. Ngomong – ngomong Terminator, jadi teringat Imam Mahdi. Karena somehow agak mirip secara garis beras. But anyway, tamatlah buzzword “kurasi” dan “aggregator” dari dunia ini. Sudah overused dan makin usang. Mudah-mudahan banyak konsep yang lebih menenangkan di masa depan.

Adios!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.