Generalist vs Specialist

Sebenarnya tulisan ini akibat nonton film “Innocent Moves” yang menceritakan tentang prodigy chess master di umur belia. Bahasan tentang catur Ini pun jadi ramai karena series “The Queen’s Gambit” beberapa bulan lalu. Tapi bukan hanya karena kedua film tersebut tulisan ini muncul. Gw baru baca buku dari David Epstein, “Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World”. Yang membahas tentang pola pengembangan kompetensi manusia yang dilatih dari belia dan fokus untuk membahas generalist vs specialist. Buku ini menjadi salah satu buku yang direkomendasi oleh Bill Gates di 2020.

Gw coba cerita dulu dari film “Innocent Moves” [SPOILER ALERT]. Joshua Waitzkin dalam karakter film ini memang nyata. Dia adalah pemenang US Junior Chess Championship  tahun 1993 & 1994. Jadi film ini sebenarnya menceritakan tentang proses Josh ini mengenal catur sampai dia memenangi championship tersebut. Bapaknya adalah wartawan olahraga yang fokus ke baseball. Jadi dari kecil Josh ini diperkenalkan dengan baseball ketimbang catur. Pertemuan dia dengan catur bermula sewaktu dia, adik dan Ibunya melewati sebuah taman yang dipenuhi oleh orang-orang bermain speed chess dengan taruhan. Beberapa kali lewat di taman tersebut dan dia memperhatikan permainan catur tersebut. 

'Searching for Bobby Fischer' (aka 'Innocent Moves')

Sampai akhirnya dia dilatih oleh Bruce Pandolfini seorang guru catur yang terkenal. Bruce melihat kalau Josh bisa menjadi the next Bobby Fischer. Seorang chess grandmaster termuda. Oleh karena itu Josh secara rutin tiap minggu dilatih secara intensif. Karena cara latih dari Bruce yang melarang Josh untuk bermain speed chess dan harus fokus ke catur membuat Josh menyerah. Sampai akhirnya ayahnya membebaskan Josh untuk meluangkan waktunya tidak bermain catur. Josh kembali main baseball bahkan sampai ikut memancing dengan bapaknya. Dan tidak disangka walaupun dia tidak fokus ke catur, dia tetap memenangkan championship di umurnya yang masih dibawah 10 tahun. 

Berbeda sedikit dengan series “The Queen’s Gambit”. Film ini adalah fiksi, diambil dari novel dengan judul yang sama. Konsultan dari novel dan series ini adalah Bruce Pandolfini, guru dari Joshua Waitzkin. Karakter utamanya adalah Beth Harmon. Seorang chess prodigy muda yang mengalahkan grandmaster dari Rusia. Sepertinya cerita Ini pun terinspirasi dari Bobby Fischer. Karena Bobby menjadi grandmaster di umur 15-16 tahun pada tahun 1972 dan mengalahkan grandmaster dari Rusia. Ini jadi salah satu tonggak penting dari Cold War US vs Uni Soviet pada waktu itu. Beth disini fokus bermain catur dan rajin mengikuti semua kejuaraan di US. Aktivitas diluar catur yang dia tekuni hanya konsumsi alkohol dimana dia sempat vacuum dari dunia catur beberapa saat.

The Queen's Gambit (miniseries) - Wikipedia

Namun pada cerita di “The Queen’s Gambit” dia fokus untuk belajar dan berlatih secara rutin untuk memenangi kompetisi catur ini. Berbeda dengan Josh yang masih menggeluti kegiatan lain. Bahkan Josh akhirnya keluar dari dunia catur dan fokus untuk belajar Aikido. Sampai akhirnya dia memegang medali emas untuk Jiu Jitsu & Tai Chi. Sebuah fairy tale melihat Josh yang terlihat multi talented dan berhasil meraih titik tertinggi dari setiap olahraga yang dia tekuni.

Pada buku David Epstein, “Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World” dia fokus membahas tentang penelitian-penelitian di dunia tentang pola pengembangan kompetensi yang luas pada anak dan melihat dampaknya pada karir mereka. Cerita yang menjadikan pembuka di buku ini memperlihatkan bagaimana proses Roger Federer vs Tiger Woods dari mereka kecil sampai akhirnya keduanya menjadi juara dunia di bidang masing-masing. Roger Federer kecil tidak hanya fokus bermain tenis, tapi dia juga bermain olahraga lain dari sepak bola, basket, dll. Sedangkan Tiger Woods sedari kecil sudah diajari bapaknya bermain golf dan fokus terus sampai dia masuk level profesional. Untuk Roger Federer sampai akhirnya dia berumur 11 – 12 tahun dia baru mulai fokus ke tenis sampai akhirnya sekarang dia memegang rekor pemegang title grand slam terbanyak dalam sejarah. 

Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World by David Epstein

Inti dari buku ini dengan begitu banyaknya bukti penelitian ini adalah pentingnya untuk mempelajari atau menekuni bidang yang lain yang tidak hanya terpaku pada 1 bidang saja. Karena hasil dari mempelajari banyak hal bisa membuat mereka mempunyai cara pikir yang sistemis dan taktis. Dengan kompetensi yang luas berarti mempunyai referensi yang lebih banyak, dimana sangat membantu pada saat menghadapi masalah pada pekerjaannya. Buku ini memang dari awal buku sudah jelas lebih condong untuk memperkuat keberadaan dari “Generalist” yang dimana perdebatan ini tidak pernah ada pemenangnya. Bahkan sempat ada perseteruan antara David Epstein vs Malcolm Gladwell dengan 10,000 hours dimana lebih fokus terhadap “Specialist”.

Namun ada premis yang menarik dari David Epstein mengenai “Generalist”, “System thinkers with an ability to connect disparate pieces of information from many different sources and who read more (and more broadly) than specialist”. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.