Ngabuburead #1 | Kalau gede mau jadi apa?

Judul diatas adalah penggalan dari lagu Susan dan Ria Enes berjudul “Susan Punya Cita-cita”. Didalam liriknya tersebut hanya 3 profesi yang disebutkan; Dokter, Insinyur dan Presiden. Profesi ini sangat lazim diinginkan anak-anak yang besar di dekade 90-an. Walaupun jumlah dokter dan insinyur di Indonesia pun sampai sekarang kita masih kekurangan. Kalau di dekade 2010-2020 akan lebih bervariasi, bahkan “Content Creator” atau “Youtuber” jadi salah dua profesi yang banyak diinginkan anak kecil. Setidaknya untuk anak-anak yang mendapatkan akses Internet.

Ria Enes – Susan Punya Cita-Cita. Circa 1993.

Pertanyaannya adalah apakah dengan penentuan cita-cita sewaktu kita kecil akan sejalan dengan profesi yang akan kita ambil sewaktu dewasa?

Tentu jawabannya akan tergantung pada ribuan faktor yang dapat mengubah atau bahkan menguatkan cita-cita kita. Namun coba deh kalian renungkan sebentar, apakah kalian atau orang-orang terdekat kalian yang dulunya bercita-cita menjadi sesuatu, apakah sekarang mereka mendapatkannya? Berapa rasionya? Apakah 1 dari 10 orang sejalan dengan apa yang mereka cita-citakan dulu?

Gw mencoba untuk mencari datanya lewat neliti.com (repositori ilmiah Indonesia) namun belum menemukannya. Padahal studi mengenai hal ini akan sangat berguna untuk menjadi salah satu alasan untuk diubahnya kurikulum pendidikan Indonesia.

Keresahan gw dari waktu SMA sampai sekarang itu sama. Bagaimana seorang siswa bisa menentukan jurusan kuliah yang akan sejalan dengan pekerjaan yang akan dia ambil nantinya? Tidak harus linear, tapi setidaknya membantu untuk menjadi bekal kompetensi mereka. Namun, sebagai siswa berapa banyak profesi yang mereka ketahui? Apalagi kalau harus sampai mengetahui tiap profesi apa kompetensi apa saja yang dibutuhkan.

Pertanyaan yang menarik adalah, maka untuk mempersiapkan siswa ini tahu dan memahami mengenai pasar kerja di depan, itu tugasnya siapa? Pemerintah? Orang tua? Guru? Tempat les? Siswa? Om Tante? Tetangga?

Ada penjelasan singkat mengenai fenomena salah jurusan yang disampaikan oleh Tirto dalam salah satu konten YouTube-nya.

Sebuah missing link yang paling besar dalam mengkoneksikan sekolah – universitas – lapangan kerja. Karena tanpa adanya bridging ini, kita hanya akan memiliki lulusan SMA dan kuliah yang luntang lantung bertahun-tahun untuk menemukan profesi yang dia sukai. Dan gw sangat yakin, dengan adanya “gap year” ini merugikan negara dengan jumlah mungkin sampai triliunan rupiah. Karena berapa banyak pasien meninggal karena kurangnya dokter? Berapa banyak jembatan yang tidak bisa dibangun yang akhirnya membuat ekonomi suatu daerah melamban? Berapa banyak orang yang mengidap depresi karena kurangnya hiburan dari para musisi yang sedang sibuk menghitung debet kredit di layar komputer?

Dengan banyaknya informasi dan perusahaan dalam industri edtech apakah dapat membantu gap tersebut? Mungkin. Namun sampai saat ini yang gw liat hanyalah fragment informasi yang belum terintigrasi dengan sistem pendidikan yang dapat membantu seorang siswa dapat menentukan pilihannya semenjak dini.

Gw rasa, kalau ada yang dapat memecahkan hal ini dan scalable. Nama inventor tersebut akan dikenang sebagai the real career coach. Tidak seperti career coach yang tidak jauh beda dengan motivator jualan seminar dan buku. Dan juga penemuannya akan bermanfaat sangat besar untuk khalayak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.