Aku ini adalah dirimu

Penggalan lirik dari lagu Dewa berjudul Satu. Kalau kita baca sekilas memang seperti hanya seperti lirik puitis Dhani yang lain. Tapi coba kita ganti menjadi, “Aku ini adalah diri-Mu “. Maknanya akan jadi beda dan jadi pertanyaan. Kita yang adalah ciptaan-Nya kok berani -beraninya menyamakan derajat dengan Sang Pencipta. Zat yang dipercaya Agung dan bersemayam di dimensi yang kita tidak ketahui.

Bahkan sering kita diberitahukan oleh orang tua ataupun guru agama untuk tidak memikirkan itu. Jadi teringat sewaktu kelas 1 SMA, ada satu teman menanyakan ke guru agama, “Pak, sebenernya Tuhan itu ada dimana?”. Spontan sewaktu itu saya menjawab, “Ya enggak usah dipikir. Yang jelas Dia ada”. Dan dengan sigap, guru agama saya waktu itu menepuk pundak saya sambil berkata, “Ya benar Gugi”. Jawaban spontan saya berhasil di afirmasi oleh “Ahli” agama rasanya seperti menang medali emas di Olimpiade Agama.

Akan jadi debat kusir kalau membahas masalah Tuhan. Sama saja seperti membahas teori Bumi Datar vs Bulat. Yang sejatinya, apakah kita peduli kalau ternyata Bumi berbentuk jajaran genjang atau bahkan trapesium? Toh, kita hidup di bumi tanpa pernah melihat sendiri bagaimana bentuknya. Yang lebih menarik adalah membahas pilihan kata Dhani pada lirik Satu.

Aku ini adalah dirimu

Cinta ini adalah cintamu

Aku ini adalah dirimu

Jiwa ini adalah jiwamu

Rindu ini adalah rindumu

Darah ini adalah darahmu

Rasanya kalau melantunkan verse awal lagu Satu ini membawa kita dekat dengan belahan hati kita. Lirik tersebut mencoba menjadi medium antara kita dan dia. Mengesankan kalau kita tidak terpisah, kita ya Satu. Mungkin versi dangdutnya seperti Sepiring Berdua - Hj. Ida Laila yang hits di era 80an.

Tak ada yang lain selain dirimu

Yang selalu ku puja

Ku sebut namamu di setiap hembusan nafasku

Ku sebut namamu, ku sebut namamu

Reff tersebut melangutkan diri kepada belahan hati kita. Begitu dekatnya kita dengan dia sampai di granular aktivitas biologis kita. Begitu cintanya kita dengan terus menyebut namanya berkali-kali. Sebuah bukti bahwa afeksi yang begitu besar terjadi di diri kita.

Dengan tanganmu aku menyentuh. 

Dengan kakimu aku berjalan

Dengan matamu aku memandang

Dengan telingamu aku mendengar

Dengan lidahmu aku bicara

Dengan hatimu aku merasa

Pada verse terakhir ini, tanpa bantuannya kita seperti manusia yang paralisis. Semua indera yang disematkan di tubuh kita tidak ada artinya tanpa dia. Tanpa kuasanya, kita seperti boneka yang bersandar di panggung teatrikal menunggu pentas. Kita hanya meminjam tubuh tanpa punya andil. Atas seizinnya kita bisa hidup.

Lagu ini dibuat Dhani dengan paham ajaran Tasawuf atau Sufisme yang dia pelajari. Atau bisa dibilang ini berada di tingkatan Makrifat, yaitu tingkat spiritual paling tinggi setelah Hakekat, Tarekat, lalu paling dasar adalah Syariat. Pada kalimat pertama di lagu ini, “Aku adalah dirimu” sebenarnya mirip dengan perkataan Syekh Siti Jenar, “Aku adalah Tuhan” adalah Prinsip Kemanunggalan dalam ajaran tentang manunggaling kawula Gusti. Sebuah tingkatan spiritual yang tidak bisa diterima semua orang.

Oleh karena itu, lagu Satu dibalut dengan nada Pop dan menuliskan, “Aku adalah dirimu”, bukan “Aku adalah diri-Mu” membuat lagu ini bertafsir tentang romansa dengan lawan jenis bukan lain Zat. Tapi kecintaan Dhani tentang Sufisme dicurahkan dengan artwork album Laskar Cinta yang menyerupai kaligrafi bertuliskan Allah.

Artwork ini yang menjadi lambang Dewa di setiap panggungnya. Baik menjadi backdrop ataupun menjadi “alas” stagenya. Dan inilah yang menjadikan salah satu Ormas pada saat itu memprotes Dhani untuk tidak menggunakannya lagi.

Ah iya, pada verse terakhir lagu Satu ini sepertinya Dhani mengambil dari salah satu ajaran Syekh Siti Jenar yang mengumpamakan bahwa manusia hidup ini sesungguhnya mayat yang gentayangan untuk mencari pangan pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang dapat menyenangkan jasmani. Oleh karena itu dituliskan di verse tersebut kalau kita seperti meminjam tubuh.

Walaupun terdengar begitu dalam dan tingginya filosofi dari setiap lirik Dhani, tidak luput dari dasarnya sifat manusia yang penuh dengan cela. Bahwa sesungguhnya kesalahan hanya milik kita dan kesempurnaan hanya milik Andra and The Backbone.
Sekian. 

Advertisements
Aku ini adalah dirimu

Waktu

Coba kalau waktu tidak ada batasnya. Tiap malam bisa jadi terus malam sampai tertidur. Tidak harus terburu – buru mengejar waktu tidur yang katanya harus 8 jam. Tidak harus takut dengan berbagai dogma karena kehabisan waktu. 
Coba kalau hidup tidak harus bergegas karena realita menunggu di depan. Kalau ada orang yang bisa menikmati hidup dengan adanya waktu, pasti orang itu hebat. Dan cuman waktu juga yang bisa menghentikan hidup ini suatu saat.

Waktu adalah satuan hidup. Kata benda yang jadi penentu hidup seseorang.

Waktu

Malaikat Commuter Line


“Hei, sorry. Hmm.. Sudah pernah ada yang pernah bilang kamu cantik pada saat pertama kali ketemu?” 

Sebuah pickup line norak yang sempat terlintas pada saat melihat di ujung gerbong ada seorang perempuan memakai blouse biru tua, rok pensil hitam dan kitten heels hitam dengan rambut lurus sebahu yang sedang serius sibuk mengetik pada layar smartphonenya. Mungkin di pagi hari ini sudah di bombardir oleh email kantor.

Biasanya gue selalu naik kereta sekitar jam 9. Baru kali ini berangkat jam 8 karena ada meeting. Karena kalau di jam biasa gue naik kereta, jarang banget ada yang secantik ini. Biasanya paling banter kelas cantiknya seperti artis FTV yang baru sekali main. Dan yang ada di depan gue ini kelasnya bukan artis lagi, tapi malaikat.

“Apa gue coba mendekat ya, toh juga di sebelah dia ada space kosong. Kali aja ada kesempatan ngobrol”.

Akhirnya setelah membaca surat Yusuf (berharap muka gue akan bersinar dan akan berhasil memikat dia) gue memberanikan diri untuk berjalan mendekat. Sambil sok menerima telepon, “halo…. halo…. sebentar gue cari sinyal dulu”. Akhirnya gue berada disebelah dia, “nah ini suaranya baru jelas. Sorry, boleh di jelasin lagi?”. Gue coba untuk ngobrol sedikit keras dan jelas supaya dia setidaknya menoleh ke arah gue. Dan gue berharap banget kalau surat Yusuf yang tadi dibaca mujarab.

Tidak sampai 1 menit gue tutup telepon karena takut dia keburu turun di stasiun berikutnya. Gue coba mengintip sedikit ke kanan, dia masih berkutat dengan emailnya. Sambil sesekali menggigit bibirnya. Lipstik nude melapisi bibir tipisnya yang mirip bibir Kirsten Dunst.

Tangan gue sudah mulai keringat dingin. Daritadi hanya berganti tangan yang berpegangan untuk menyeka keringat di jeans. Kalau sudah kepalang penasaran tapi grogi jadinya begini. Gue takut nanti kejang – kejang saking groginya.

“Dulu gue dipalakin preman aja bisa gue palak balik. Masa buat kenalan sama cewek aja segini susahnya”. Otak kanan gue sudah mulai mengeluarkan sugesti yang tidak masuk akal untuk mengalahkan otak kiri.

Ah, akhirnya gue melihat dia menurunkan handphonenya. Berarti dia sudah tidak sibuk. ini waktu yang tepat untuk memulai lembaran hidup baru dan memperbaiki garis keturunan keluarga gue.

“Akhirnya bisa break sebentar dari email kerjaan ya?”. Puji syukur bukan pickup line norak yang keluar dari mulut gue. Berguna juga keseringan nemenin adik gue nonton romantic comedy, jadi bisa ada improvisasi buat memulai obrolan sama perempuan.

“iya nih, sebenarnya aku paling sebel kalau pagi-pagi udah lihat email sebanyak ini dan isinya kebanyakan dengan subject ‘urgent’. Eh, sorry malah kelepasan curhat kerjaan. Sanguine aku keluar kalau lagi stres gini. Hehe..”

Mimpi apa gue kalau feedbacknya kayak gini. Pakai “aku” pula. Makasih ya Tuhan.

“Enggak apa-apa kok. Setidaknya kamu udah release emotion walaupun sedikit. Hehe..”

“Iya nih, agak mendingan sih. Setidaknya sebelum sampai kantor bisa sedikit lepas dari issue di email tadi”

“Kalau boleh tau, memang lagi ada issue apa sih?”

“Aduh maaf, bukan aku mau kasih tau. Tapi ini confidential. Sorry ya”

“Hehe.. Enggak apa-apa kok”.

Duh, ngapain juga sih gue tanya terlalu detail. Malah jadi jelek kan first impression gue. Bodoh banget.

Dan dia langsung lihat handphonenya begitu ada bunyi notifikasi. Dengan wajah seriusnya ini, gue rasa dia bisa jadi bintang iklan di segala brand. Bukan hanya kata “cantik” yang cukup merepresentasikan wajahnya. Gue enggak menemukan kata yang tepat untuk dia. Parasnya seperti memberi tauladan kepada adik – adik cabe kalau mau cantik tidak harus memakai make up tebal kayak mau ngelenong. Ah, ini sih flawless. Gue ingin berserah diri rasanya melihat dia sedikit tersenyum. Sepertinya ada kabar baik yang baru dia terima. Dengan wajah serius aja sudah bisa menaklukkan duniaku. Kalau dia tersenyum seperti ini, semesta akan bersujud di hadapan dia.
“Eh, sorry tadi chat masuk. Jadi fokus ke handphone”. 

“Iya, enggak apa-apa. Sok aja lanjutin chatnya. Kayaknya senang pas tadi baca chatnya”

“Iya nih, tadi suamiku bilang kalau dia nanti malam udah bisa pulang dari dinas luar kotanya”.

Gue langsung reflek lihat jari manisnya. Dan benar terlingkar cincin disana. Kenapa daritadi gue enggak fokus ke situ sih. Seperti ketabrak kereta rasanya. Tubuh ini diam tanpa ada satu helai bulu pun yang bergerak. Ini kayak naik Niagara-gara tapi di ulang 10x. Lemes banget. Ekspektasi gue sudah tinggi. Sebelumnya belum pernah motivasi hidup gue sekuat ini.

“Hei, kamu enggak apa-apa? Kok mukanya jadi pucet gitu”.

“Eh, iya nih. Kayaknya gegara belum sarapan tadi”

“Ya ampun kasian banget, ini aku ada roti. Tadi aku sempet bawa bekel. Makan aja dulu nih. Daripada sakit”.

Ini ujian atau apa ya Tuhan. Kok ada perempuan cantik, baik, dan ramah tapi kok sudah punya suami. Padahal tadi awalnya sudah bagus. Gue kira ini bakal jadi permulaan yang baik untuk akhir yang sempurna. Ternyata pupus.

“Enggak usah, makasih banyak. Nanti di kantor langsung sarapan kok”.

“Oh gitu, hmm. Yaudah deh. Aku juga punya maag. Makanya kalau belum sarapan aku sempatin buat bekel”.

~ SESAAT LAGI KERETA MEMASUKI STASIUN PAL MERAH ~

“Aku turun di pal merah. Makasih ya udah di ajak ngobrol. Maaf tadi kelepasan curhat kerjaan. Hehe.. Jangan lupa sarapan”.

“Iya, sama-sama. Makasih banyak ya”

Gue hanya bisa memberikan senyum miris tidak ikhlas. Sedangkan dia tersenyum layaknya malaikat yang bersinar. Dan akhirnya dia turun meninggalkan jasad gue membusuk di Commuter Line ini.

Memang too good to be true bisa hoki berkenalan dengan perempuan di random place & random moment seperti ini. Apalagi secantik dia yang benar-benar ramah. Perfect banget kayaknya.

Awas aja kalau muka suaminya ternyata enggak seganteng Adam Jordan atau Onky Alexander. Karena kalau secantik dia harus punya suami yang sama gantengnya. Sepertinya suaminya sudah baca surat Yusuf dari remaja. Makanya bisa mendapatkan perempuan secantik dia.

Ah, ternyata dari tadi gue lupa untuk berkenalan. Padahal kalau saja tahu namanya, setidaknya gue bisa kepoin dan masih bisa melihat dia di sosial medianya

Sudahlah, mari lanjutkan hidup dengan bekerja dan berharap jodoh datang tanpa PHP. Pokoknya PR gue adalah, jangan pernah lupa untuk lihat jari manis perempuan sebelum di ajak ngobrol.

Malaikat Commuter Line

Pulchra Nocte

“Mas, bangun mas. Sudah jam setengah 8. Nanti kamu dimarahi atasan kamu lagi”.

Suara ibu yang tiap pagi buat gue tertarik dari dunia mimpi. Mata yang masih sulit dibuka karena terangnya matahari lewat jendela kamar yang langsung menghadap ke timur. Ini salah satu hal kenapa gue ingin sekali tinggal sendiri. Karena tiap pagi pasti ibu ke kamar untuk bukakan jendela supaya matahari pagi dan udaranya masuk, setelah itu disambung dengan teriakannya untuk membangunkan gue.

“Iya bu, ini aku sudah bangun. Tenang aja, sehabis ini enggak tidur lagi kok”.

“Okay Mas, jangan bohong loh. Kalau bohong, nanti Ibu yang mandikan kamu kayak waktu masih kecil”.

Ancaman yang terdengar tidak cukup berbahaya, namun sebenarnya membuat gue agak trauma. Karena sewaktu kecil dulu setiap dimandikan oleh Ibu, pasti dia menggosok kencang punggung gue dengan sabut kelapa supaya bersih katanya. Memang kebiasaan keluarga kami begitu higienisnya kalau perihal membersihkan diri. Makanya sewaktu SD kalau sedang pembagian raport dan dia melihat tengkuk leher teman gue yang hitam, pasti Ibu ngomong, “Tuh lihat, pasti ibunya enggak pernah kasih tau ke anaknya untuk mandi yang bersih”. Ya begitulah Ibu, hal detail selalu jadi hal terpenting baginya.

Selesai mandi, sambil memakai deodoran dan memilih kemeja. Gue menyalakan speaker bluetooth hasil rampasan dari rumah teman, Di iringi dengan lantunan dari Dian Pramana Poetra – Biru, lagu yang sering di putar oleh Ibu sewaktu gue kecil jadi kebiasaan setiap memulai hari.

“Mas, kamu siap – siapnya lama banget sih. Nanti kamu telat lagi”

“Sabar dong bu, ini lagi cari kaos kaki yang warna abu. Ibu tahu dimana enggak?”

“Kan kemarin sudah dipakai kaos kakinya, semalam ibu taruh di keranjang cucian. Cari yang lain ah. Kaos kaki banyak kok dipakainya yang itu terus”

See? Setiap pagi selalu diramaikan oleh obrolan masalah kaos kaki, kemarin masalah celana dalam, minggu lalu masalah kemeja bolong yang langsung Ibu buang padahal cuman bolong sedikit karena kena bara rokok. Kata ibu, “Kamu tuh sudah kerja, jangan malu – maluin ah”. Tapi kebayang kalau cita – cita ingin tinggal sendiri tapi cari kaos kaki aja belum becus. Itu kamar pasti bakal kayak gudang karena perkara cari kaos kaki doang.

Roti bakar isi telor sudah tersedia di meja beserta susu milo hangat. Tidak sampai 5 menit gue habiskan sarapan pagi. Langsung bergegas untuk mengeluarkan motor. Ibu selalu membukakan gerbang dan mencium keningku sambil berkata, “Hati – hati dijalan. Jangan ngebut, jangan berantem, jangan enggak pulang, nanti Ibu sendirian enggak ada yang nemenin”. Ucapan yang selalu sama dari dulu. Ibu hanya tinggal bertiga dengan gue dan adik sudah hampir 10 tahun ini. Ayah sudah meninggalkan kami karena serangan jantung sewaktu bekerja. Ayah yang terlalu sibuk bekerja untuk menghidupi keluarganya. Dan adik sekarang kuliah di Bandung sudah tingkat akhir, jadi dia sudah tidak dirumah dari 3 tahun lalu.

“Iya bu, tenang aja aku pasti dengerin kata ibu kok. You can count on me okay. Love you Bu”

Setelah cium tangan ibu, gue langsung bergegas keluar komplek karena mengingat jalanan depan komplek ada galian PLN yang sudah berbulan –bulan buat macet. Jakarta yang makin lama makin panas membuat gue berpikir untuk cari pekerjaan diluar kota ini. Dulu sewaktu SMP kalau naik ojek ke sekolah, kayaknya matahari tidak seterik dan sepanas ini deh. Sekarang, walaupun pakai jeans. Paha sampai terasa perih saking panasnya.

Sampai parkiran motor langsung lari masuk kantor. Takutnya telat lagi terus kena omel lagi dari Mas Ardi. Dia adalah manajer baru. Umurnya beda 5 tahun dengan gue. Jadi sebenarnya masih lumayan nyambung kalau ngobrol. Cuman memang orangnya lumayan disiplin soal waktu. Hal yang paling lemah dalam hidup gue ya soal waktu. Jadi ini seperti diberi pelajaran oleh Tuhan kali ya.

“Wih, padahal 5 menit lagi aja lo baru datang. Gue bakal suruh lo push-up Nay”.

“Hahaha, enak aja. Jatah telat gue udah habis minggu ini Mas. Selang – seling aja biar afdol”.

“Kalau gitu minggu depan gue suruh lo bantuin Pak Jati untuk ngepel 1 lantai ini”.

“Iya becanda kali mas. Hehe”, gue kasih senyuman sambil buka laptop dan taruh tas.

Kantor memang lagi hectic beberapa bulan ini, karena pergantian manajemen. CEO kami baru diganti setelah RUPS beberapa bulan lalu. Jadi banyak business process yang berubah makanya jadi lebih ribet. Tapi ya namanya perusahaan pasti melewati masa seperti ini. Jadi nikmatin aja. Namanya juga kacung kupret kan.

Dengan earphone yang menyumpal kuping ini dan hentakan double pedal Chris Adler sewaktu masih di Lamb of God membuat gue enggak sadar kalau Kina memanggil dengan penuh kekesalan yang terlihat dari matanya. Gue langsung senyum sebagai ucapan maaf sambil copot earphone gue.

“Nay, lain kali dengerin lagunya tuh yang tenang gitu. Bukan lagu yang berisik enggak jelas bikin lo kayak kerasukan setan budeg”

“Kina, setan budeg enggak doyan sama metal. Di playlist Spotify dia adanya “Kompilasi Dangdut Koplo Jilid 2”

“Ah lo mah bercanda mulu. Sini deh, gue enggak ngerti cara kerjainnya gimana. Lo pernah kerjain case kayak gini enggak”

Tangan dia narik kemeja gue supaya mendekat ke laptopnya. Masalahnya setiap dia nanya kerjaan gini, gue enggak pernah fokus. Karena gue selalu kayak terhipnotis dengan wangi Citrus dari Tom Ford “Neroli Portofino” ini. Benar – benar buat pikiran gue mikirin yang “lain”. Kenapa sampai gue hafal parfumnya? Karena pernah sewaktu itu sehabis makan malam di mall dekat kantor, gue nemenin dia untuk beli parfumnya itu. Dan sewaktu lihat harganya. Sempat enggak percaya lihat digitnya, karena harga parfumnya sama kayak uang jajan gue sebulan. Dari SMP sampai sekarang, gue selalu setia dengan cologne Gatsby “Musky”. Karena wanginya fresh dan gue orangnya memang loyal sama suatu brand. Padahal mah karena harganya murah sih. Belum pernah kepikiran beli parfum sampai semahal itu juga.

“Nay, kok lo malah bengong sih. Ini bantuin gue. Mas Ardi minta ini selesai sebelum jam 12. Karena dia mau meeting jam 2. Masa gue enggak makan siang lagi”

“Kina, gue tuh bengong karena lagi inget – inget caranya gimana”

“Gue aja belum jelasin masalahnya. Bohong aja deh lo. Bilang aja lagi ngeliatin anak baru yang lagaknya kayak Princess Elsa”

“Wah serem dong, nanti kalau gue salaman pas kenalan malah jadi es serut”

“Garing deh lo. Udah ah sini duduk dulu gue mau jelasin”

Bukannya gue enggak mau ganti playlist ke lagu yang lebih tenang. Kalau lagunya tenang, nanti gue bakal dengar setiap kali Kina manggil untuk minta bantuan. Sedangkan kalau gue dengerin lagu Metal, pasti dia bakal cape sendiri karena gue enggak nengok – nengok.

Dan jam sudah menunjukan jam 12.03. Akhirnya selesai juga bantuin Kina. Sekarang kerjaan gue yang terbengkalai gegara dia. Selalu deh kalau bantuin teman kayak begini. Kemarin bantuin anak magang apalagi, sampai gue harus melewatkan gigsnya Scaller. Padahal gue niat dari minggu lalu ingin nonton. Karena penasaran lihat mereka live perform.

“Nay, karena lo sudah berbaik hati bantuin gue. Sini gue traktir makan siang”.

“Nah gitu dong Kin, gue paling suka nih makan gratis. Yaudah gue mau Hanamasa”.

“Naraya Putra, kalau makan gratis tuh tahu diri dong. Kan gue cuman mau traktir Indomie Goreng doang di Warung Bu Mar”.

“Ah, kalau Indomie Goreng mah. Mending gue makan siang sendiri kalau gitu”.

“Becanda kali, yaudah makan Sushi Tei yuk. Gue lagi ngidam nih. Naik mobil gue aja. Tapi lo yang nyetir ya. Please. Hehe”

“Hmm.. Yaudah deh yuk”

Jarak dari kantor ke Sushi Tei hanya 15 menit. Jadi kami sering makan disana kalau ada occasion tertentu. Sesampainya depan Sushi Tei benar seperti dugaan gue. Waiting listnya sudah 5 orang.

“Tuh kin, ini kalau kita mau maksa makan disini. Bisa – bisa jam makan siangnya habis. Mending makan di tempat lain deh”.

“Enggak mau ah, sayang udah kesini terus makan tempat lain. Paling lagi – lagi lo mau makan KFC”.

“Ya abis gimana lagi, daripada telat ke kantor kan”.

“Enggak ah, nanti biar gue yang ngomong ke Mas Ardi. Karena harus ngerjain ad-hoc dari dia jadi telat makan siang. Dia mah kalau sama gue pasti nurut. Nanti gue pakai suara centil deh. Hihihi”.

“Yaudah kalau gitu, pokoknya kalau dimarahin nanti gue lemparnya ke lo ya”.

“Iya tenang aja Nay”.

Nunggu di bangku waiting list itu buat perut tambah lapar. Karena enggak ada senderannya. Harus duduk tegap kayak security. Kina asik dengan handphonenya. Aktivitas dia itu cuman lihat Instagram Stories dan lihat message dari fansnya. Maklum, Kina itu gue nobatkan sebagai “Rising Star of Celebgram 2016”. Kalau gue katain begitu, dia pasti cubit lengan gue sampai biru. Kebiasaan yang buat gue ingin balas dengan cubit yang lain. Tapi nanti gue kena pasal pelecehan seksual.

“Atas nama Kina Larasati. Panggilan atas nama Kina Larasati”.

“Kin, itu dipanggil tuh. Yuk”.

“Yeay, akhirnya makan. Let’s go!”

Mukanya sumringah seperti anak kecil masuk ke Toys r us.

Kamipun duduk di depan conveyor belt. Kata Kina supaya gue bisa langsung ambil apa yang gue mau. Sebenarnya gue enggak pernah hafal dengan Sushi. Yang gue hafal itu cuman Salmon Maki. Karena seinget gue itu doang yang harganya lumayan terjangkau. Kalau gue di ajak ke KFC, gue hafal diluar kepala deh. Karena isinya ayam doang, yang beda cuman paketnya aja. Jadi gampang di ingat.

Jam menunjukan 12.26 dan Kina masih asik makan.

“Kina, udahan yuk. Udah jam segini nih. Nanti dicariin loh”

“Aduh tenang aja Nay, nih habis gue makan ini ya. Kita langsung cus pulang. Okay, babe?”

Tuh kan, dia mulai deh genit kalau lagi ngerayu. Udah tahu gue baper kalau dia begitu. Nih ya, dari pertama kali masuk Sushi Tei, sudah berapa cowok yang perhatiin dia. Bahkan ada cowok yang sepertinya lagi makan siang sama ceweknya, sampai patah banget lihat Kina. Dan akhirnya tangan tuh cewek cubit paha cowoknya. Baru deh cowoknya nengok sambil nyengir miris kayak kucing ketahuan nyolong ikan.

Kina itu cuman beda 2 tahun dengan gue. Dia lebih muda. Gue akuin dia itu cantik. I would say that she is flawless. Muka dia enggak usah pakai masker kefir untuk tetap keliatan tetap cerah. Kayaknya dari lahir memang sudah begitu. Dan karena kecantikan dia, makanya followers Instagramnya banyak banget. Kalau enggak salah sekarang sudah mendekati angka 50 ribu. Tapi dia enggak seperti celebgram lainnya yang feednya seperti baliho jalanan yang isinya endorse melulu. Dia hanya post foto – fotonya sama teman – temannya atau keluarganya. Oiya, bapaknya tuh salah satu pejabat. Dirjen di Kementrian Perdagangan kalau enggak salah. Gue enggak pernah menanyakan detail tentang keluarganya, karena siapa gue juga.

“Yuk balik kantor Nay. Enak nih perut kenyang tinggal tidur deh di mobil. Hehe”

“Kina, dikira gue supir lo apa. Kalau lo tidur nanti gue nyalain lagu Metal loh”

“Ah enggak mau. Nanti speaker mobil gue rusak”

“Lebay deh lo”

Perjalanan ke kantor agak macet karena banyak orang kantoran yang habis makan siang juga. Jadi sembari menikmati macet yang tidak bisa dihindari ini, kita mendengarkan playlistnya Kina yang isinya musik “pintar” kalau kata gue. Dia enggak seperti cewek lainnya yang sukanya Top 40 atau EDM. Selera dia sama seperti bapaknya. Dulu dia pernah bilang kalau setiap pagi bapaknya selalu mendengarkan music seperti Coltrane, Sinatra, Manhattan Transfer, Ella Fitzgerald dan musisi jadul kenamaan lainnya. Kali ini kami mendengarkan Naima dari John Coltrane. Sebenarnya gue enggak kuat mendengarkan musik begini sambil nyetir. Karena buat ngantuk. Tapi melihat Kina sudah tertidur duluan. Gue enggak tega untuk ganti lagunya.

Pemandangan ini sering gue lalui kalau lagi menyetir mobilnya Kina. Dia cepat sekali terlelap. Karena aktivitas dia padat juga sebenarnya. Bangun pagi sekali lalu jogging keliling komplek rumahnya, baru ke kantor, pulang kantor dia punya segudang aktivitas yang berbeda tiap hari. Kalau tidak salah ya, senin dan rabu dia les piano, selasa dan kamis dia les masak dirumahnya dengan Chef ternama yang gue lupa namanya, lalu jumat malam dia ikut book club gitu. Kadang gue berpikir, kok kuat ya dan dia konsisten menjalaninya. Ini yang jarang gue lihat dari perempuan saat ini. I always adore woman who has that spirit and consistency.

Setiap kali dia tertidur seperti ini dan melihat wajahnya. Gue selalu berpikir, sebenarnya apa yang gue rasakan ke dia. Maksudnya, terkadang jantung berdegup kencang kalau dia pegang tangan gue misalnya karena mau nyebrang atau hanya sekedar narik tangan gue ke kantin untuk ngemil sore. Apalagi dia sangat detail, dia selalu ingat dengan kemeja apa yang gue pakai kalau sudah gue pakai 2x dalam seminggu. Dia pasti akan ngomel dan ngatain gue jorok. Atau sekedar mengingatkan gue minum air putih kalau dia lihat botol minum gue kosong dari pagi dan dia akan ke dispenser untuk mengisikan botol gue. Walaupun habis itu dia selalu minta tolong gue dengan kerjaannya. Tapi ya beigtulah Kina, perempuan yang menurut gue spesiesnya berbeda. Ini makhluk langka. Jadi harus masuk konservasi, yaitu Konservasi Alam milik Naraya Putra.

Ah, gue kebanyakan melamun babu di siang bolong gini.

Sesampainya di parkiran kantor. Gue bangunin Kina.

“Kin, bangun, Kita udah sampai kantor”. Sambil perlahan gue tepuk tangannya.

“Wah, sudah sampai kantor aja. Maaf ya Nay gue ketiduran. Baik sekali tadi lo enggak tiba – tiba ganti dengan lagu metal lo”

“Hahaha ya enggak lah. Habis ngeliat lo lelap begitu, gue enggak tega isengin lo. Yuk, ke atas”

The rest of the day is like another day. Gue dan Kina ngemil sore dengan beberapa teman yang lain. Lalu setelah Maghrib kita pulang. Sedangkan Kina pastinya harus les dulu. Dan gue langsung pulang ke rumah karena Ibu tadi whatsapp kalau dia sudah menyiapkan Tumis Tempe dan Ikan Pesmol. Karena kebayang betapa enaknya masakan Ibu, gue sepanjang jalan keroncongan. Untung perut masih bisa bertahan. Kalau tidak, gue sudah melipir untuk beli Sate langganan gue di perempatan dekat rumah.

“Ibu, aku pulang”.

“Halo nak, gimana kantor? Tadi enggak terlambat kan?”.

“Alhamdulilah enggak bu. Hehe.. Ibu sudah makan?”.

“Syukurlah kalau begitu, belum lah. Ibu kan mau makan malam bareng kamu. Coba taruh dulu tasnya sama cuci tangan dulu. Kamu kebiasaan habis pulang enggak bersih – bersih dulu. Tangan kamu banyak kumannya itu”.

“Siap bu, sebentar ya aku cuci tangan dulu”.

Makan malam dengan Ibu adalah kegiatan yang hampir tiap malam kalau gue tidak lembur. Biasanya gue ceritakan kegiatan hari ini apa aja. Termasuk traktiran makan siang tadi dan apa yang gue pikirkan sewaktu melihat wajahnya Kina di mobil. Tapi Ibu selalu hanya mendengarkan, dia jarang sekali memberikan nasihat kalau dia melihat anaknya masih bisa untuk mencari solusi sendiri. Dia tahu apa yang dibutuhkan anaknya, yaitu didengarkan. Karena gue bukan tipe yang terbuka masalah pribadi ke orang lain. Jadi hanya Ibu yang selalu mendengarkan celotehan gue. Dan dia juga rajin untuk menelepon adik gue setiap pagi dan malam untuk menanyakan kabarnya atau mengingatkan dia untuk makan. Karena adik gue ini tipikal cewek yang menjaga badannya. Takut enggak laku kalau gendut katanya. Padahal mah alasan dia aja karena mager untuk beli makan keluar kosan.

Setelah mandi dan melanjutkan baca bukunya Gladwell “Tipping Point”, mata gue sudah tidak bisa diajak kompromi. Maka malam berakhir dengan mencoba tidur sembari mendengarkan Oasis – She is love

“I don’t know where you come from

no I haven’t got a clue

All I know is I’m in love

with someone who loves me too.”

Pulchra Nocte

Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)

mengadili persepsi
Lirik Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan). Diambil dari akun instagram @edykhemod

Gambar di atas adalah lirik dari band Seringai yaitu Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan). Band yang didirikan oleh senior kolot scene metal yaitu Arian, Ricky Siahaan dan Edy Khemod lalu masuknya Sammy membuat band ini menjadi wolf pack yang memiliki taring. Dan gambar diatas adalah postingan dari Edy Khemod pada akun instagramnya yang menjadi viral beberapa hari ini. Mengadili Persepsi menjadi representatif keadaan saat ini, bahwa suatu persepsi yang dibakukan dan tidak menerima perbedaan menjalar dengan cepatnya.

Tulisan ini tidak membahas secara detail mengenai lirik ataupun profil Seringai sendiri, karena ini hanya adalah opini dan bentuk apresiasi untuk karya mereka yang jadi melegenda karena lirik yang mengangkat social issue dan masih terus relevan. Apalagi dengan keadaan saat ini. Lagu ini pertama kali saya dengar sewaktu kuliah yaitu sekitar 10 tahun yang lalu.

Teriakan Arian menyambut kita dengan, “Individu, individu merdeka!” membuat saya membayangkan betapa epicnya jika melihat mereka perform dan semua penonton mengepalkan tangannya ke atas. Meneriakan hak masing – masing individu untuk merdeka tanpa dihakimi oleh yang lain.

“Mereka bermain tuhan”

Bermain Tuhan adalah permainan kata yang cukup berbahaya sebenarnya, mengesankan bahwa kita manusia dengan seenak udelnya memainkan Sang Penciptanya. Namun kalau membaca liriknya secara lengkap dan coba pahami dengan keadaan saat ini, maka kata Bermain Tuhan lebih mengena. Walaupun sudah 10 tahun lamanya lagu ini diciptakan, namun liriknya tak lekang oleh waktu.

Cara yang digunakan sebenarnya sama saja dengan puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Menggunakan agama dan Tuhan untuk menggiring opini untuk suatu tujuan. Namun karena kesakralannya tersebut banyak yang terjebak dengan konformitas (bisa baca di: https://www.wsj.com/articles/the-brain-science-of-conformity-1492722013). Persepsi yang dibuat massif menjadi ketakukan bila menjadi yang beda.

 

“Merasa benar, menjajah nalar”

Nalar menjadi hal yang tabu. Sesuatu yang haram. Nalar menjadi tidak layak ada di otak. Merasa kebenaran atas sebuah konstruksi sosial menjadi sesuatu hal yang mutlak. Tidak menerima perbedaan pendapat ataupun lainnya. Lagi, konformitas menjadi lekat.

“Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya”

Penggalan lirik diatas seperti cambukan untuk mengingatkan kalau kejadian seperti ini tidak bisa dibiarkan. Karena terlalu berlarut dengan masalah yang sama. Hampir 2 dekade lalu Indonesia mengalami tragedi yang terjadi dibanyak kota yaitu dengan konflik SARA. Berapa banyak korban yang terbunuh karena perbedaan? Terlahir dengan ras berbeda dengan temannya, memeluk agama yang berbeda dengan tetangganya menjadi suatu kesalahan karena menjadi minoritas. Bersusah payah menyatukan bangsa yang terdiri dari berbagai suku dan agama, lalu dihancurkan begitu saja? Kebencian menjadi bahan bakar yang ampuh. kebencian menjadi konten yang digemari, kebencian menjadi senjata pemusnah massal.

Mungkin damai tidak akan pernah ada dan kebencian atas perbedaan selalu ada. Namun yang bisa kita lakukan adalah meminimalisirnya. Bukan berarti saya tidak optimis dengan adanya utopia itu. Hanya sudah ribuan tahun bumi ini hidup dengan seperti ini. Jadi bersikap realistis tanpa berekspektasi lebih sepertinya jadi pilihan.

Kalaupun benci karena berbeda atas hal apapun, biarkan kebencian itu disimpan sendiri tanpa menghasut orang lain. Jangan sampai persepsi pribadi dibuat seolah – olah menjadi persepsi massif yang akhirnya menjadi konflik besar. Dan hal ini terjadi di berbagai level, dari mulai pertemanan sampai kelompok lebih besar yaitu bangsa.

Kita harus menjamin hak masing – masing individu. Karena Negara pun menjaminnya. Kita hidup bukan dengan diri kita sendiri saja. Kita hidup dengan manusia yang berbeda sampai setiap sel tubuhnya. Jangan sampai konflik membesar dan akhirnya melibatkan otot dan darah. Hidup akan lebih hikmat bila perbedaan menjadi kewajaran bukan kenistaan.

“Individu, Individu Merdeka!”

Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)