Nabi Jeje Berkhotbah

Jason-Ranti-featured-2
Credit: thecrafters.co

Enggak perlu marah – marah atau teriak – teriak untuk menyampaikan pendapat atau membuat onar di sosial media untuk segala sesuatu yang lo tidak setuju. Dan gw merasa premis tersebut di-amin-kan dengan adanya Jason Ranti (biasa di sapa dengan Jeje ceunah) di blantika khalayak galaksi musik Indonesia yang di penuhi oleh penonton sobat misqin-nya.

Continue reading “Nabi Jeje Berkhotbah”

Solennes Nocte (Part III)

Screen Shot 2018-08-01 at 9.20.29 PM

Ada malam dimana tidak ada seorang pun yang dapat mengganggu kekhidmatan aktualisasi diri gue, yaitu membaca. Kebetulan banyak buku yang gue beli di Big Bad Wolf Books tahun ini. Namun belum satupun gue selesaikan. Karena perbuatan ini, gue harus mengakui kalau gue memang (sedikit) Tsundoku.

Kali ini gue sedang seru – serunya membaca “It’s not about shark” karya David Niven. Buku yang membahas tentang bagaimana mengatasi masalah yang tidak dapat dipecahkan. Memang terdengar seperti buku self help lainnya yang isinya naratif dan retoris. Tapi sebenarnya bahasan di buku ini cukup seru karena penulis membahas dengan studi kasus seperti cerita di balik film Jaws.

Continue reading “Solennes Nocte (Part III)”

Berisiknya Coffee Shop Belakangan Ini

Coffee Shop

Ini memang hasil pengamatan gw pribadi selama mengunjungi Coffee Shop yang ada di Jakarta. Kebanyakan kunjungan ke Coffee Shop ini adalah numpang kerja. Karena pada saat mencari tempat kerja yang menawarkan tempat yang (seharusnya) nyaman, minuman, wifi dan tentunya stop kontak, yang muncul pertama adalah Coffe Shop.

Continue reading “Berisiknya Coffee Shop Belakangan Ini”

Tuhanku ada di Sosial Media

Berapa banyak penggalan ayat suci yang tersebar di sosial media atau WhatsApp group lo? Dari mulai bangun liat handphone sampai mau tidur. Gue rasa kalau dihitung mungkin lebih dari 10 mungkin.

Apakah dengan membagikan ayat suci yang secara harfiah bertujuan untuk mendoakan, memberi peringatan dan adapun yang sifatnya memang untuk mengutuk (biasanya kalau debat berkepanjangan, ayat suci jadi senjatanya), membuat kita tersadar?

Continue reading “Tuhanku ada di Sosial Media”

Pulchra Nocte (Part II)

image_20170927_215423

“Coba gini deh, kamu tuh sebenernya suka enggak sih sama aku?”

Pertanyaan yang keluar dari mulut Kina beberapa hari lalu. Setelah kejadian tersebut, Kina enggak masuk kantor dengan alasan sakit. Gue bingung, kalau gue tanya dia sakit apa, takut jadi canggung. Kalau enggak di tanya, kesannya gue enggak perhatian.

Keadaan seperti ini sebenarnya sudah gue prediksi. Keadaan dimana gue bermain dengan garis prinsip sendiri untuk tidak “mendekati” perempuan dalam satu circle, yaitu kalau keadaan disini adalah satu kantor. Alhasil, gue jadi stres sendiri.

Memilih antara prinsip atau hati.

Continue reading “Pulchra Nocte (Part II)”

Aku ini adalah dirimu

Penggalan lirik dari lagu Dewa berjudul Satu. Kalau kita baca sekilas memang hanya seperti lirik puitis Dhani yang lain. Tapi coba kita ganti menjadi, “Aku ini adalah diri-Mu “. Maknanya akan jadi beda dan jadi pertanyaan. Kita yang adalah ciptaan-Nya kok berani -beraninya menyamakan derajat dengan Sang Pencipta. Zat yang dipercaya Agung dan bersemayam di dimensi yang kita tidak ketahui.

Continue reading “Aku ini adalah dirimu”

Waktu

Coba kalau waktu tidak ada batasnya. Tiap malam bisa jadi terus malam sampai tertidur. Tidak harus terburu – buru mengejar waktu tidur yang katanya harus 8 jam. Tidak harus takut dengan berbagai dogma karena kehabisan waktu. 
Coba kalau hidup tidak harus bergegas karena realita menunggu di depan. Kalau ada orang yang bisa menikmati hidup dengan adanya waktu, pasti orang itu hebat. Dan cuman waktu juga yang bisa menghentikan hidup ini suatu saat.

Waktu adalah satuan hidup. Kata benda yang jadi penentu hidup seseorang.

Malaikat Commuter Line

“Hei, sorry. Hmm.. Sudah pernah ada yang pernah bilang kamu cantik pada saat pertama kali ketemu?”

Sebuah pickup line norak yang sempat terlintas pada saat melihat di ujung gerbong ada seorang perempuan memakai blouse biru tua, rok pensil hitam dan kitten heels hitam dengan rambut lurus sebahu yang sedang serius sibuk mengetik pada layar smartphonenya. Mungkin di pagi hari ini sudah di bombardir oleh email kantor.

Biasanya gue selalu naik kereta sekitar jam 9. Baru kali ini berangkat jam 8 karena ada meeting. Karena kalau di jam biasa gue naik kereta, jarang banget ada yang secantik ini. Biasanya paling banter kelas cantiknya seperti artis FTV yang baru sekali main. Dan yang ada di depan gue ini kelasnya bukan artis lagi, tapi malaikat.

Continue reading “Malaikat Commuter Line”