Malaikat Commuter Line


“Hei, sorry. Hmm.. Sudah pernah ada yang pernah bilang kamu cantik pada saat pertama kali ketemu?” 

Sebuah pickup line norak yang sempat terlintas pada saat melihat di ujung gerbong ada seorang perempuan memakai blouse biru tua, rok pensil hitam dan kitten heels hitam dengan rambut lurus sebahu yang sedang serius sibuk mengetik pada layar smartphonenya. Mungkin di pagi hari ini sudah di bombardir oleh email kantor.

Biasanya gue selalu naik kereta sekitar jam 9. Baru kali ini berangkat jam 8 karena ada meeting. Karena kalau di jam biasa gue naik kereta, jarang banget ada yang secantik ini. Biasanya paling banter kelas cantiknya seperti artis FTV yang baru sekali main. Dan yang ada di depan gue ini kelasnya bukan artis lagi, tapi malaikat.

“Apa gue coba mendekat ya, toh juga di sebelah dia ada space kosong. Kali aja ada kesempatan ngobrol”.

Akhirnya setelah membaca surat Yusuf (berharap muka gue akan bersinar dan akan berhasil memikat dia) gue memberanikan diri untuk berjalan mendekat. Sambil sok menerima telepon, “halo…. halo…. sebentar gue cari sinyal dulu”. Akhirnya gue berada disebelah dia, “nah ini suaranya baru jelas. Sorry, boleh di jelasin lagi?”. Gue coba untuk ngobrol sedikit keras dan jelas supaya dia setidaknya menoleh ke arah gue. Dan gue berharap banget kalau surat Yusuf yang tadi dibaca mujarab.

Tidak sampai 1 menit gue tutup telepon karena takut dia keburu turun di stasiun berikutnya. Gue coba mengintip sedikit ke kanan, dia masih berkutat dengan emailnya. Sambil sesekali menggigit bibirnya. Lipstik nude melapisi bibir tipisnya yang mirip bibir Kirsten Dunst.

Tangan gue sudah mulai keringat dingin. Daritadi hanya berganti tangan yang berpegangan untuk menyeka keringat di jeans. Kalau sudah kepalang penasaran tapi grogi jadinya begini. Gue takut nanti kejang – kejang saking groginya.

“Dulu gue dipalakin preman aja bisa gue palak balik. Masa buat kenalan sama cewek aja segini susahnya”. Otak kanan gue sudah mulai mengeluarkan sugesti yang tidak masuk akal untuk mengalahkan otak kiri.

Ah, akhirnya gue melihat dia menurunkan handphonenya. Berarti dia sudah tidak sibuk. ini waktu yang tepat untuk memulai lembaran hidup baru dan memperbaiki garis keturunan keluarga gue.

“Akhirnya bisa break sebentar dari email kerjaan ya?”. Puji syukur bukan pickup line norak yang keluar dari mulut gue. Berguna juga keseringan nemenin adik gue nonton romantic comedy, jadi bisa ada improvisasi buat memulai obrolan sama perempuan.

“iya nih, sebenarnya aku paling sebel kalau pagi-pagi udah lihat email sebanyak ini dan isinya kebanyakan dengan subject ‘urgent’. Eh, sorry malah kelepasan curhat kerjaan. Sanguine aku keluar kalau lagi stres gini. Hehe..”

Mimpi apa gue kalau feedbacknya kayak gini. Pakai “aku” pula. Makasih ya Tuhan.

“Enggak apa-apa kok. Setidaknya kamu udah release emotion walaupun sedikit. Hehe..”

“Iya nih, agak mendingan sih. Setidaknya sebelum sampai kantor bisa sedikit lepas dari issue di email tadi”

“Kalau boleh tau, memang lagi ada issue apa sih?”

“Aduh maaf, bukan aku mau kasih tau. Tapi ini confidential. Sorry ya”

“Hehe.. Enggak apa-apa kok”.

Duh, ngapain juga sih gue tanya terlalu detail. Malah jadi jelek kan first impression gue. Bodoh banget.

Dan dia langsung lihat handphonenya begitu ada bunyi notifikasi. Dengan wajah seriusnya ini, gue rasa dia bisa jadi bintang iklan di segala brand. Bukan hanya kata “cantik” yang cukup merepresentasikan wajahnya. Gue enggak menemukan kata yang tepat untuk dia. Parasnya seperti memberi tauladan kepada adik – adik cabe kalau mau cantik tidak harus memakai make up tebal kayak mau ngelenong. Ah, ini sih flawless. Gue ingin berserah diri rasanya melihat dia sedikit tersenyum. Sepertinya ada kabar baik yang baru dia terima. Dengan wajah serius aja sudah bisa menaklukkan duniaku. Kalau dia tersenyum seperti ini, semesta akan bersujud di hadapan dia.
“Eh, sorry tadi chat masuk. Jadi fokus ke handphone”. 

“Iya, enggak apa-apa. Sok aja lanjutin chatnya. Kayaknya senang pas tadi baca chatnya”

“Iya nih, tadi suamiku bilang kalau dia nanti malam udah bisa pulang dari dinas luar kotanya”.

Gue langsung reflek lihat jari manisnya. Dan benar terlingkar cincin disana. Kenapa daritadi gue enggak fokus ke situ sih. Seperti ketabrak kereta rasanya. Tubuh ini diam tanpa ada satu helai bulu pun yang bergerak. Ini kayak naik Niagara-gara tapi di ulang 10x. Lemes banget. Ekspektasi gue sudah tinggi. Sebelumnya belum pernah motivasi hidup gue sekuat ini.

“Hei, kamu enggak apa-apa? Kok mukanya jadi pucet gitu”.

“Eh, iya nih. Kayaknya gegara belum sarapan tadi”

“Ya ampun kasian banget, ini aku ada roti. Tadi aku sempet bawa bekel. Makan aja dulu nih. Daripada sakit”.

Ini ujian atau apa ya Tuhan. Kok ada perempuan cantik, baik, dan ramah tapi kok sudah punya suami. Padahal tadi awalnya sudah bagus. Gue kira ini bakal jadi permulaan yang baik untuk akhir yang sempurna. Ternyata pupus.

“Enggak usah, makasih banyak. Nanti di kantor langsung sarapan kok”.

“Oh gitu, hmm. Yaudah deh. Aku juga punya maag. Makanya kalau belum sarapan aku sempatin buat bekel”.

~ SESAAT LAGI KERETA MEMASUKI STASIUN PAL MERAH ~

“Aku turun di pal merah. Makasih ya udah di ajak ngobrol. Maaf tadi kelepasan curhat kerjaan. Hehe.. Jangan lupa sarapan”.

“Iya, sama-sama. Makasih banyak ya”

Gue hanya bisa memberikan senyum miris tidak ikhlas. Sedangkan dia tersenyum layaknya malaikat yang bersinar. Dan akhirnya dia turun meninggalkan jasad gue membusuk di Commuter Line ini.

Memang too good to be true bisa hoki berkenalan dengan perempuan di random place & random moment seperti ini. Apalagi secantik dia yang benar-benar ramah. Perfect banget kayaknya.

Awas aja kalau muka suaminya ternyata enggak seganteng Adam Jordan atau Onky Alexander. Karena kalau secantik dia harus punya suami yang sama gantengnya. Sepertinya suaminya sudah baca surat Yusuf dari remaja. Makanya bisa mendapatkan perempuan secantik dia.

Ah, ternyata dari tadi gue lupa untuk berkenalan. Padahal kalau saja tahu namanya, setidaknya gue bisa kepoin dan masih bisa melihat dia di sosial medianya

Sudahlah, mari lanjutkan hidup dengan bekerja dan berharap jodoh datang tanpa PHP. Pokoknya PR gue adalah, jangan pernah lupa untuk lihat jari manis perempuan sebelum di ajak ngobrol.

Advertisements
Malaikat Commuter Line

Pulchra Nocte

“Mas, bangun mas. Sudah jam setengah 8. Nanti kamu dimarahi atasan kamu lagi”.

Suara ibu yang tiap pagi buat gue tertarik dari dunia mimpi. Mata yang masih sulit dibuka karena terangnya matahari lewat jendela kamar yang langsung menghadap ke timur. Ini salah satu hal kenapa gue ingin sekali tinggal sendiri. Karena tiap pagi pasti ibu ke kamar untuk bukakan jendela supaya matahari pagi dan udaranya masuk, setelah itu disambung dengan teriakannya untuk membangunkan gue.

“Iya bu, ini aku sudah bangun. Tenang aja, sehabis ini enggak tidur lagi kok”.

“Okay Mas, jangan bohong loh. Kalau bohong, nanti Ibu yang mandikan kamu kayak waktu masih kecil”.

Ancaman yang terdengar tidak cukup berbahaya, namun sebenarnya membuat gue agak trauma. Karena sewaktu kecil dulu setiap dimandikan oleh Ibu, pasti dia menggosok kencang punggung gue dengan sabut kelapa supaya bersih katanya. Memang kebiasaan keluarga kami begitu higienisnya kalau perihal membersihkan diri. Makanya sewaktu SD kalau sedang pembagian raport dan dia melihat tengkuk leher teman gue yang hitam, pasti Ibu ngomong, “Tuh lihat, pasti ibunya enggak pernah kasih tau ke anaknya untuk mandi yang bersih”. Ya begitulah Ibu, hal detail selalu jadi hal terpenting baginya.

Selesai mandi, sambil memakai deodoran dan memilih kemeja. Gue menyalakan speaker bluetooth hasil rampasan dari rumah teman, Di iringi dengan lantunan dari Dian Pramana Poetra – Biru, lagu yang sering di putar oleh Ibu sewaktu gue kecil jadi kebiasaan setiap memulai hari.

“Mas, kamu siap – siapnya lama banget sih. Nanti kamu telat lagi”

“Sabar dong bu, ini lagi cari kaos kaki yang warna abu. Ibu tahu dimana enggak?”

“Kan kemarin sudah dipakai kaos kakinya, semalam ibu taruh di keranjang cucian. Cari yang lain ah. Kaos kaki banyak kok dipakainya yang itu terus”

See? Setiap pagi selalu diramaikan oleh obrolan masalah kaos kaki, kemarin masalah celana dalam, minggu lalu masalah kemeja bolong yang langsung Ibu buang padahal cuman bolong sedikit karena kena bara rokok. Kata ibu, “Kamu tuh sudah kerja, jangan malu – maluin ah”. Tapi kebayang kalau cita – cita ingin tinggal sendiri tapi cari kaos kaki aja belum becus. Itu kamar pasti bakal kayak gudang karena perkara cari kaos kaki doang.

Roti bakar isi telor sudah tersedia di meja beserta susu milo hangat. Tidak sampai 5 menit gue habiskan sarapan pagi. Langsung bergegas untuk mengeluarkan motor. Ibu selalu membukakan gerbang dan mencium keningku sambil berkata, “Hati – hati dijalan. Jangan ngebut, jangan berantem, jangan enggak pulang, nanti Ibu sendirian enggak ada yang nemenin”. Ucapan yang selalu sama dari dulu. Ibu hanya tinggal bertiga dengan gue dan adik sudah hampir 10 tahun ini. Ayah sudah meninggalkan kami karena serangan jantung sewaktu bekerja. Ayah yang terlalu sibuk bekerja untuk menghidupi keluarganya. Dan adik sekarang kuliah di Bandung sudah tingkat akhir, jadi dia sudah tidak dirumah dari 3 tahun lalu.

“Iya bu, tenang aja aku pasti dengerin kata ibu kok. You can count on me okay. Love you Bu”

Setelah cium tangan ibu, gue langsung bergegas keluar komplek karena mengingat jalanan depan komplek ada galian PLN yang sudah berbulan –bulan buat macet. Jakarta yang makin lama makin panas membuat gue berpikir untuk cari pekerjaan diluar kota ini. Dulu sewaktu SMP kalau naik ojek ke sekolah, kayaknya matahari tidak seterik dan sepanas ini deh. Sekarang, walaupun pakai jeans. Paha sampai terasa perih saking panasnya.

Sampai parkiran motor langsung lari masuk kantor. Takutnya telat lagi terus kena omel lagi dari Mas Ardi. Dia adalah manajer baru. Umurnya beda 5 tahun dengan gue. Jadi sebenarnya masih lumayan nyambung kalau ngobrol. Cuman memang orangnya lumayan disiplin soal waktu. Hal yang paling lemah dalam hidup gue ya soal waktu. Jadi ini seperti diberi pelajaran oleh Tuhan kali ya.

“Wih, padahal 5 menit lagi aja lo baru datang. Gue bakal suruh lo push-up Nay”.

“Hahaha, enak aja. Jatah telat gue udah habis minggu ini Mas. Selang – seling aja biar afdol”.

“Kalau gitu minggu depan gue suruh lo bantuin Pak Jati untuk ngepel 1 lantai ini”.

“Iya becanda kali mas. Hehe”, gue kasih senyuman sambil buka laptop dan taruh tas.

Kantor memang lagi hectic beberapa bulan ini, karena pergantian manajemen. CEO kami baru diganti setelah RUPS beberapa bulan lalu. Jadi banyak business process yang berubah makanya jadi lebih ribet. Tapi ya namanya perusahaan pasti melewati masa seperti ini. Jadi nikmatin aja. Namanya juga kacung kupret kan.

Dengan earphone yang menyumpal kuping ini dan hentakan double pedal Chris Adler sewaktu masih di Lamb of God membuat gue enggak sadar kalau Kina memanggil dengan penuh kekesalan yang terlihat dari matanya. Gue langsung senyum sebagai ucapan maaf sambil copot earphone gue.

“Nay, lain kali dengerin lagunya tuh yang tenang gitu. Bukan lagu yang berisik enggak jelas bikin lo kayak kerasukan setan budeg”

“Kina, setan budeg enggak doyan sama metal. Di playlist Spotify dia adanya “Kompilasi Dangdut Koplo Jilid 2”

“Ah lo mah bercanda mulu. Sini deh, gue enggak ngerti cara kerjainnya gimana. Lo pernah kerjain case kayak gini enggak”

Tangan dia narik kemeja gue supaya mendekat ke laptopnya. Masalahnya setiap dia nanya kerjaan gini, gue enggak pernah fokus. Karena gue selalu kayak terhipnotis dengan wangi Citrus dari Tom Ford “Neroli Portofino” ini. Benar – benar buat pikiran gue mikirin yang “lain”. Kenapa sampai gue hafal parfumnya? Karena pernah sewaktu itu sehabis makan malam di mall dekat kantor, gue nemenin dia untuk beli parfumnya itu. Dan sewaktu lihat harganya. Sempat enggak percaya lihat digitnya, karena harga parfumnya sama kayak uang jajan gue sebulan. Dari SMP sampai sekarang, gue selalu setia dengan cologne Gatsby “Musky”. Karena wanginya fresh dan gue orangnya memang loyal sama suatu brand. Padahal mah karena harganya murah sih. Belum pernah kepikiran beli parfum sampai semahal itu juga.

“Nay, kok lo malah bengong sih. Ini bantuin gue. Mas Ardi minta ini selesai sebelum jam 12. Karena dia mau meeting jam 2. Masa gue enggak makan siang lagi”

“Kina, gue tuh bengong karena lagi inget – inget caranya gimana”

“Gue aja belum jelasin masalahnya. Bohong aja deh lo. Bilang aja lagi ngeliatin anak baru yang lagaknya kayak Princess Elsa”

“Wah serem dong, nanti kalau gue salaman pas kenalan malah jadi es serut”

“Garing deh lo. Udah ah sini duduk dulu gue mau jelasin”

Bukannya gue enggak mau ganti playlist ke lagu yang lebih tenang. Kalau lagunya tenang, nanti gue bakal dengar setiap kali Kina manggil untuk minta bantuan. Sedangkan kalau gue dengerin lagu Metal, pasti dia bakal cape sendiri karena gue enggak nengok – nengok.

Dan jam sudah menunjukan jam 12.03. Akhirnya selesai juga bantuin Kina. Sekarang kerjaan gue yang terbengkalai gegara dia. Selalu deh kalau bantuin teman kayak begini. Kemarin bantuin anak magang apalagi, sampai gue harus melewatkan gigsnya Scaller. Padahal gue niat dari minggu lalu ingin nonton. Karena penasaran lihat mereka live perform.

“Nay, karena lo sudah berbaik hati bantuin gue. Sini gue traktir makan siang”.

“Nah gitu dong Kin, gue paling suka nih makan gratis. Yaudah gue mau Hanamasa”.

“Naraya Putra, kalau makan gratis tuh tahu diri dong. Kan gue cuman mau traktir Indomie Goreng doang di Warung Bu Mar”.

“Ah, kalau Indomie Goreng mah. Mending gue makan siang sendiri kalau gitu”.

“Becanda kali, yaudah makan Sushi Tei yuk. Gue lagi ngidam nih. Naik mobil gue aja. Tapi lo yang nyetir ya. Please. Hehe”

“Hmm.. Yaudah deh yuk”

Jarak dari kantor ke Sushi Tei hanya 15 menit. Jadi kami sering makan disana kalau ada occasion tertentu. Sesampainya depan Sushi Tei benar seperti dugaan gue. Waiting listnya sudah 5 orang.

“Tuh kin, ini kalau kita mau maksa makan disini. Bisa – bisa jam makan siangnya habis. Mending makan di tempat lain deh”.

“Enggak mau ah, sayang udah kesini terus makan tempat lain. Paling lagi – lagi lo mau makan KFC”.

“Ya abis gimana lagi, daripada telat ke kantor kan”.

“Enggak ah, nanti biar gue yang ngomong ke Mas Ardi. Karena harus ngerjain ad-hoc dari dia jadi telat makan siang. Dia mah kalau sama gue pasti nurut. Nanti gue pakai suara centil deh. Hihihi”.

“Yaudah kalau gitu, pokoknya kalau dimarahin nanti gue lemparnya ke lo ya”.

“Iya tenang aja Nay”.

Nunggu di bangku waiting list itu buat perut tambah lapar. Karena enggak ada senderannya. Harus duduk tegap kayak security. Kina asik dengan handphonenya. Aktivitas dia itu cuman lihat Instagram Stories dan lihat message dari fansnya. Maklum, Kina itu gue nobatkan sebagai “Rising Star of Celebgram 2016”. Kalau gue katain begitu, dia pasti cubit lengan gue sampai biru. Kebiasaan yang buat gue ingin balas dengan cubit yang lain. Tapi nanti gue kena pasal pelecehan seksual.

“Atas nama Kina Larasati. Panggilan atas nama Kina Larasati”.

“Kin, itu dipanggil tuh. Yuk”.

“Yeay, akhirnya makan. Let’s go!”

Mukanya sumringah seperti anak kecil masuk ke Toys r us.

Kamipun duduk di depan conveyor belt. Kata Kina supaya gue bisa langsung ambil apa yang gue mau. Sebenarnya gue enggak pernah hafal dengan Sushi. Yang gue hafal itu cuman Salmon Maki. Karena seinget gue itu doang yang harganya lumayan terjangkau. Kalau gue di ajak ke KFC, gue hafal diluar kepala deh. Karena isinya ayam doang, yang beda cuman paketnya aja. Jadi gampang di ingat.

Jam menunjukan 12.26 dan Kina masih asik makan.

“Kina, udahan yuk. Udah jam segini nih. Nanti dicariin loh”

“Aduh tenang aja Nay, nih habis gue makan ini ya. Kita langsung cus pulang. Okay, babe?”

Tuh kan, dia mulai deh genit kalau lagi ngerayu. Udah tahu gue baper kalau dia begitu. Nih ya, dari pertama kali masuk Sushi Tei, sudah berapa cowok yang perhatiin dia. Bahkan ada cowok yang sepertinya lagi makan siang sama ceweknya, sampai patah banget lihat Kina. Dan akhirnya tangan tuh cewek cubit paha cowoknya. Baru deh cowoknya nengok sambil nyengir miris kayak kucing ketahuan nyolong ikan.

Kina itu cuman beda 2 tahun dengan gue. Dia lebih muda. Gue akuin dia itu cantik. I would say that she is flawless. Muka dia enggak usah pakai masker kefir untuk tetap keliatan tetap cerah. Kayaknya dari lahir memang sudah begitu. Dan karena kecantikan dia, makanya followers Instagramnya banyak banget. Kalau enggak salah sekarang sudah mendekati angka 50 ribu. Tapi dia enggak seperti celebgram lainnya yang feednya seperti baliho jalanan yang isinya endorse melulu. Dia hanya post foto – fotonya sama teman – temannya atau keluarganya. Oiya, bapaknya tuh salah satu pejabat. Dirjen di Kementrian Perdagangan kalau enggak salah. Gue enggak pernah menanyakan detail tentang keluarganya, karena siapa gue juga.

“Yuk balik kantor Nay. Enak nih perut kenyang tinggal tidur deh di mobil. Hehe”

“Kina, dikira gue supir lo apa. Kalau lo tidur nanti gue nyalain lagu Metal loh”

“Ah enggak mau. Nanti speaker mobil gue rusak”

“Lebay deh lo”

Perjalanan ke kantor agak macet karena banyak orang kantoran yang habis makan siang juga. Jadi sembari menikmati macet yang tidak bisa dihindari ini, kita mendengarkan playlistnya Kina yang isinya musik “pintar” kalau kata gue. Dia enggak seperti cewek lainnya yang sukanya Top 40 atau EDM. Selera dia sama seperti bapaknya. Dulu dia pernah bilang kalau setiap pagi bapaknya selalu mendengarkan music seperti Coltrane, Sinatra, Manhattan Transfer, Ella Fitzgerald dan musisi jadul kenamaan lainnya. Kali ini kami mendengarkan Naima dari John Coltrane. Sebenarnya gue enggak kuat mendengarkan musik begini sambil nyetir. Karena buat ngantuk. Tapi melihat Kina sudah tertidur duluan. Gue enggak tega untuk ganti lagunya.

Pemandangan ini sering gue lalui kalau lagi menyetir mobilnya Kina. Dia cepat sekali terlelap. Karena aktivitas dia padat juga sebenarnya. Bangun pagi sekali lalu jogging keliling komplek rumahnya, baru ke kantor, pulang kantor dia punya segudang aktivitas yang berbeda tiap hari. Kalau tidak salah ya, senin dan rabu dia les piano, selasa dan kamis dia les masak dirumahnya dengan Chef ternama yang gue lupa namanya, lalu jumat malam dia ikut book club gitu. Kadang gue berpikir, kok kuat ya dan dia konsisten menjalaninya. Ini yang jarang gue lihat dari perempuan saat ini. I always adore woman who has that spirit and consistency.

Setiap kali dia tertidur seperti ini dan melihat wajahnya. Gue selalu berpikir, sebenarnya apa yang gue rasakan ke dia. Maksudnya, terkadang jantung berdegup kencang kalau dia pegang tangan gue misalnya karena mau nyebrang atau hanya sekedar narik tangan gue ke kantin untuk ngemil sore. Apalagi dia sangat detail, dia selalu ingat dengan kemeja apa yang gue pakai kalau sudah gue pakai 2x dalam seminggu. Dia pasti akan ngomel dan ngatain gue jorok. Atau sekedar mengingatkan gue minum air putih kalau dia lihat botol minum gue kosong dari pagi dan dia akan ke dispenser untuk mengisikan botol gue. Walaupun habis itu dia selalu minta tolong gue dengan kerjaannya. Tapi ya beigtulah Kina, perempuan yang menurut gue spesiesnya berbeda. Ini makhluk langka. Jadi harus masuk konservasi, yaitu Konservasi Alam milik Naraya Putra.

Ah, gue kebanyakan melamun babu di siang bolong gini.

Sesampainya di parkiran kantor. Gue bangunin Kina.

“Kin, bangun, Kita udah sampai kantor”. Sambil perlahan gue tepuk tangannya.

“Wah, sudah sampai kantor aja. Maaf ya Nay gue ketiduran. Baik sekali tadi lo enggak tiba – tiba ganti dengan lagu metal lo”

“Hahaha ya enggak lah. Habis ngeliat lo lelap begitu, gue enggak tega isengin lo. Yuk, ke atas”

The rest of the day is like another day. Gue dan Kina ngemil sore dengan beberapa teman yang lain. Lalu setelah Maghrib kita pulang. Sedangkan Kina pastinya harus les dulu. Dan gue langsung pulang ke rumah karena Ibu tadi whatsapp kalau dia sudah menyiapkan Tumis Tempe dan Ikan Pesmol. Karena kebayang betapa enaknya masakan Ibu, gue sepanjang jalan keroncongan. Untung perut masih bisa bertahan. Kalau tidak, gue sudah melipir untuk beli Sate langganan gue di perempatan dekat rumah.

“Ibu, aku pulang”.

“Halo nak, gimana kantor? Tadi enggak terlambat kan?”.

“Alhamdulilah enggak bu. Hehe.. Ibu sudah makan?”.

“Syukurlah kalau begitu, belum lah. Ibu kan mau makan malam bareng kamu. Coba taruh dulu tasnya sama cuci tangan dulu. Kamu kebiasaan habis pulang enggak bersih – bersih dulu. Tangan kamu banyak kumannya itu”.

“Siap bu, sebentar ya aku cuci tangan dulu”.

Makan malam dengan Ibu adalah kegiatan yang hampir tiap malam kalau gue tidak lembur. Biasanya gue ceritakan kegiatan hari ini apa aja. Termasuk traktiran makan siang tadi dan apa yang gue pikirkan sewaktu melihat wajahnya Kina di mobil. Tapi Ibu selalu hanya mendengarkan, dia jarang sekali memberikan nasihat kalau dia melihat anaknya masih bisa untuk mencari solusi sendiri. Dia tahu apa yang dibutuhkan anaknya, yaitu didengarkan. Karena gue bukan tipe yang terbuka masalah pribadi ke orang lain. Jadi hanya Ibu yang selalu mendengarkan celotehan gue. Dan dia juga rajin untuk menelepon adik gue setiap pagi dan malam untuk menanyakan kabarnya atau mengingatkan dia untuk makan. Karena adik gue ini tipikal cewek yang menjaga badannya. Takut enggak laku kalau gendut katanya. Padahal mah alasan dia aja karena mager untuk beli makan keluar kosan.

Setelah mandi dan melanjutkan baca bukunya Gladwell “Tipping Point”, mata gue sudah tidak bisa diajak kompromi. Maka malam berakhir dengan mencoba tidur sembari mendengarkan Oasis – She is love

“I don’t know where you come from

no I haven’t got a clue

All I know is I’m in love

with someone who loves me too.”

Pulchra Nocte

Tamasya

Taman Cibodas

Saya & teman yang lain sedang tamasya di Taman Cibodas. Kegiatan ini sepertinya tidak pernah dilakukan sebelumnya. Karena kami anak rumahan yang terlalu nyaman kalau sudah duduk di sofa. Kami ke Taman Cibodas dengan bawa bekal makanan, tikar, dan laptop untuk nonton bareng. Aneh memang sih lagi tamasya di taman malah bawa laptop, tapi ya begitulah kami.

Saya mulai menggelar tikar secara seksama di permukaan yang rata supaya enak duduknya. Lalu di lanjut dengan teman yang lain menyiapkan segala bawaan kami untuk mulai menyantap bekal yang kami bawa. Karena ini tamasya “cantik” dan malas ribet. Jadi ya hanya bawa makanan yang siap saji saja.

Perjalanan kami dari rumah ke taman ini saja sudah memakan waktu yang lumayan cukup untuk mengistirahatkan mata. Apalagi jarak dari parkiran ke area ini juga melewati banyaknya anak tangga yang lumayan buat betis & lutut boleh beradu otot dengan abang odong – odong.

Dengan hikmat kami melahap semua bekal yang kami sudah siapkan dengan sisipan foto – foto (sok) candid yang memperlihatkan aktivitas kami yang (sok) beda dari biasanya. Anak kantoran yang biasanya menghabiskan waktu senggangnya paling banter ke mall atau kafe hits di Jakarta. Sekarang mencoba untuk tamasya lesehan di taman supaya terlihat layaknya New Yorker menghabiskan pagi mereka di Central Park sewaktu summer.

Tujuan kami sampai niat bawa laptop adalah nonton bareng, tapi baru ingat bahwa kapasitas baterai laptop apakah sebanding dengan durasi film yang kita mau tonton. Tapi film yang mau di tonton juga genre comedy yang durasinya hanya 1 setengah jam. Kenapa memilih comedy? Karena ringan, bisa ketawa bareng, dan sebagai timer kita juga kalau filmnya selesai berarti kita harus bersiap pulang karena takut panas matahari. Rada aneh emang, mau habiskan waktu di taman tapi malah takut panas.

Sewaktu lagi seru nonton, teman yang lain satu per satu pergi. Mereka terdistraksi dengan sekumpulan anak kecil yang asik bermain layang – layang. Sedangkan saya terhipnotis dengan film ini. Padahal film ini sudah saya tonton mungkin lebih dari 5x. Tapi acting Sacha Baron Cohen benar – benar ajaib. Maka tersisa saya yang tidak peduli dengan aktivitas menerbangkan layang – layang itu. Dan ternyata si Dia yang juga lagi seru nonton. Tapi saya pun tidak menanyakan kenapa Dia tidak ikut bersama teman yang lain, terlalu malas untuk ngobrol.

Saya melihat ada gerakan mendekat dari ujung mata saya. Tapi mencoba untuk menghiraukannya. Sampai akhirnya Dia menyenderkan kepalanya di tangan kiri saya yang sedang bertumpu di atas lutut. Itu rasanya mengalahkan jantung yang berdetak kencang sewaktu masih kecil di kejar anjing komplek. Rasa seperti ini yang sudah lama sekali tidak saya rasakan. Dan ini yang selalu terjadi dikala Dia ada, saya harus melawan gugup setiap kali Dia ada. Kenapa begitu? Karena saya tidak mau kelihatan begitu gugup. Padahal tangan keringat dingin & jantung berdetak kencang. Dalam hati sewaktu lihat dia bersandar, “ini mungkin balasan Tuhan sewaktu kemarin saya bersedekah”. 

Dia dengan tenangnya bersandar & tertidur pulas di tangan saya dengan tangannya mendekap kaki saya. Disini yang membuat saya bingung, apakah memang Dia seperti ini ke semua orang, atau memang Dia menaruh rasa ke saya (ngarep ceritanya). Karena tidak sepatah katapun yang Dia ucapkan dari awal nonton. Tetiba mendekat & bersandar. Rasanya hati seperti di Surga.

Karena dia terlelap tenang di tangan saya dan perasaan senang yang tak terbendung lagi. Saya pun mencoba memegang tangannya yang hangat itu. Kapan lagi bisa memegang tangan orang yang kamu suka. Ini pun akhirnya saya beranikan diri dengan menganalisa terlebih dahulu segala skenario yang muncul kalau Dia sampai bangun.

Lalu action kedua yang saya lakukan ini sangat berani (baca: oportunis bukan pervert). Karena kalau orangnya tidak suka & merasa terganggu, mungkin saya akan kena pasal perbuatan yang tidak menyenangkan. Semoga tidak ditambah dengan pasal berlapis untuk pelecehan seksual. Saya beranikan diri mengecup keningnya. Tidak sampai sedetik bibir ini ada di keningnya. Bodohnya saya tidak melihat sekitar karena takut ada teman yang melihat. Kalau sampai mereka lihat, ah sudah pasti saya jadi bulan – bulanan. Belum sampai otak ini mencari alasan kalau ada teman yang melihat.

Dan………. Diapun terbangun dari tidurnya.

Sontak saya terkejut sewaktu Dia bangun & merubah posisinya jadi duduk tegak menghadap saya sembari ngulet & ngucek matanya. Saya hanya bisa diam seperti kucing ketangkap basah nyolong ikan dari meja makan.

Dia dengan tenang mengambil tangan saya sambil menatap dan ngomong, “lain kali kalau kamu pengen cium aku ngomong aja. Jangan nyuri nyuri pas aku tidur gitu ya. Okay?”.

Itu rasanya ya, sepertinya semua perasaan senang selama hidup ini kalau diakumulasikan juga tidak akan bisa mengalahkan perasaan senang sewaktu mendengar perkataan Dia. Rasanya seperti ingin mati saat itu juga. Karena mati bahagia sepertinya tidak menyiksa.

Saya hanya bisa membalas dengan tatapan malu dengan bibir yang bergetar dan berucap, “i y a”.

——————-

Ini adalah cerpen pertama saya. Yang mungkin nanti bisa bersambung dengan cerpen yang lain. Inspirasi menulis cerpen hadir setelah membaca “Jakarta Kafe” karya Tatyana. Semoga cerpen berikutnya bisa lebih rapih dalam segi penulisan, penokohan dan isi cerita.

Tamasya