Di sebuah Coffee Shop yang sepi

coffee shop

Biasanya pada setiap minggu malam, Kala selalu bekerja di salah satu coffee shop dekat rumahnya. Bukan jadi hal yang aneh buat Kala untuk bekerja di hari terakhir pada weekend. Dia bukan tipe yang bisa lama – lama leyeh – leyeh di rumah dengan menonton YouTube atau Series. Ada saja yang ada di kepalanya yang perlu dituangkannya.

Continue reading “Di sebuah Coffee Shop yang sepi”

Advertisements

Fuck Sin (baca: Vaksin)

Credit: Mojok.co

Agaknya terlalu kasar, tapi di satu sisi relate dengan keadaan sekarang juga. Vaksin yang jadi polemik sedari beberapa tahun lalu karena di duga mengandung bahan haram, di salah satu ceramah bahkan katanya mengandung dari mulai darah pelacur, pengguna narkoba, babi, dll. Enggak tahu juga motif nya apa membuat konspirasi seperti ini, walaupun mungkin motif konspirasinya adalah membuat pihak pemerintah menjadi antagonis di depan umat islam. Sepertinya memang “cara” surgawi yang digunakan ya.

Continue reading “Fuck Sin (baca: Vaksin)”

Nabi Jeje Berkhotbah

Jason-Ranti-featured-2
Credit: thecrafters.co

Enggak perlu marah – marah atau teriak – teriak untuk menyampaikan pendapat atau membuat onar di sosial media untuk segala sesuatu yang lo tidak setuju. Dan gw merasa premis tersebut di-amin-kan dengan adanya Jason Ranti (biasa di sapa dengan Jeje ceunah) di blantika khalayak galaksi musik Indonesia yang di penuhi oleh penonton sobat misqin-nya.

Continue reading “Nabi Jeje Berkhotbah”

Seni Memilih

Hidup itu pilihan. Bisa hanya satu atau puluhan pilihan yang terhampar. Yang paling sulit adalah memilih.

Dari kecil terbiasa dipilihkan. Makanan disiapkan & disuapi. Besar sedikit kita bisa memilih, walaupun hanya sekedar memilih mau nonton kartun yang mana.

Pilihan akan berujung kepada apa kata hati kita atau apa kata otak kita. Tapi seringnya mereka bertengkar. Karena yang otak tidak mau terima apa kata hati, karena (biasanya) tidak logis.

Continue reading “Seni Memilih”

Sendal Mamah

image

Ini adalah foto letak sendal mamahku setiap dia meninggalkan rumah. Sendalnya selalu menghadap ke pintu persis di sebelah pintu yang terbuka.
Kalau mamah sedang dikamarnya, maka sendalnya akan bertengger diatas keset depan pintu kamarnya.

Hanya dengan melihat sendalnya, aku tahu apakah dia ada dirumah atau tidak.

Dirumah ini tidak ada satupun selain dia yang memakai sendal didalam rumah. Aku dan adikku pernah mencobanya, namun ternyata kami tidak seberadab dia. Walaupun sampai saat ini aku belum pernah bertanya, “Mah, kenapa sih dirumah selalu memakai sendal?”

Aku punya satu ketakutan yang suatu saat nanti akan menjadi nyata, yaitu letak sendal yang menghadap pintu tersebut tidak akan berubah. Hari dimana sendal itu tidak bertuan. Hari dimana penyesalanku ke Mamah tidak berucap, “Mah, makasih ya selama ini sudah mengandung aku, sudah sabar membesarkan aku, sudah banyak memberikan kehangatan kasihmu sampai saat ini”.

Aku ini hanya anak durhaka yang hanya bisa membuatnya kesal sampai diapun menangis karena aku. Sampai kapanpun aku tidak bisa memberikan kasih yang setimpal dengan apa yang kau berikan kepadaku.

Sebisa mungkin saat kau ada, aku akan mencoba memberikan apa yang kau inginkan untuk kau bahagia. Tapi aku takut apa yang kuberikan tidak akan cukup, karena kasihmu lebih besar daripada itu.

Dari kecil, setiap ada makanan enak, dia akan memberikan kepada anaknya. Aku dan adikku berkata, “Mamah memang tidak mau makan ini? Kan ini enak mah”. Dan dia berkata, “Enggak kok, mamah makan ini aja. Sudah makan aja sana”. Dan sampai detik ini Mamah ku masih seperti itu setiap ada makanan enak. Memang terdengar kejadian sederhana, tapi itu adalah contoh kecil dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.

Selama ini yang aku tahu hanya Mamah dan Ayah yang setiap pagi akan membukakan pagar rumah untuk mengantarkan anaknya keluar rumah. Dari mulai sekolah sampai sudah kerja. Apalagi Mamah ku yang seorang Ibu Rumah Tangga, dari mulai sekolah sampai kuliah hanya dia seorang yang mengantarkan anaknya sampai pagar rumah. Aktivitas yang terlihat sederhana, namun sangat berarti.

Sekarang apa yang kubalas? Pulang kerja sudah larut, mereka sudah tidur. Hanya pagi hari pada saat aku sarapan adalah waktu untuk ngobrol dengannya. Itupun tidak sampai setengah jam karena aku harus pergi ke kantor. Kadang di malam hari ketika dia belum tidur, dan aku baru pulang kantor. Aku pasti membuka tudung saji untuk melihat makanan, kebetulan meja makan berada depan kamarnya. Dia pasti akan keluar dari kamarnya untuk menanyakan, “Kamu sudah makan malam? Atau mamah mau buatkan makanan?”. Dan biasanya dia sambil mengambil air minum sekedar untuk bertemu anaknya dan punya waktu untuk ngobrol walaupun lagi – lagi tidak sampai setengah jam.

Yang kuharapkan saat ini adalah semoga sendal ini akan dipakainya kembali dan aku bisa punya waktu lebih lama untuk ngobrol dengannya. Karena itu yang kami butuhkan. Saling bertukar cerita seperti aku kecil dulu sewaktu pulang sekolah.

Makasih ya mah, love you