Berisiknya Coffee Shop Belakangan Ini

Coffee Shop

Ini memang hasil pengamatan gw pribadi selama mengunjungi Coffee Shop yang ada di Jakarta. Kebanyakan kunjungan ke Coffee Shop ini adalah numpang kerja. Karena pada saat mencari tempat kerja yang menawarkan tempat yang (seharusnya) nyaman, minuman, wifi dan tentunya stop kontak, yang muncul pertama adalah Coffe Shop.

Continue reading “Berisiknya Coffee Shop Belakangan Ini”

Advertisements

Tuhanku ada di Sosial Media

Berapa banyak penggalan ayat suci yang tersebar di sosial media atau WhatsApp group lo? Dari mulai bangun liat handphone sampai mau tidur. Gue rasa kalau dihitung mungkin lebih dari 10 mungkin.

Apakah dengan membagikan ayat suci yang secara harfiah bertujuan untuk mendoakan, memberi peringatan dan adapun yang sifatnya memang untuk mengutuk (biasanya kalau debat berkepanjangan, ayat suci jadi senjatanya), membuat kita tersadar?

Continue reading “Tuhanku ada di Sosial Media”

Aku ini adalah dirimu

Penggalan lirik dari lagu Dewa berjudul Satu. Kalau kita baca sekilas memang hanya seperti lirik puitis Dhani yang lain. Tapi coba kita ganti menjadi, “Aku ini adalah diri-Mu “. Maknanya akan jadi beda dan jadi pertanyaan. Kita yang adalah ciptaan-Nya kok berani -beraninya menyamakan derajat dengan Sang Pencipta. Zat yang dipercaya Agung dan bersemayam di dimensi yang kita tidak ketahui.

Continue reading “Aku ini adalah dirimu”

Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)

mengadili persepsi
Lirik Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan). Diambil dari akun instagram @edykhemod

Gambar di atas adalah lirik dari band Seringai yaitu Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan). Band yang didirikan oleh senior kolot scene metal yaitu Arian, Ricky Siahaan dan Edy Khemod lalu masuknya Sammy membuat band ini menjadi wolf pack yang memiliki taring. Dan gambar diatas adalah postingan dari Edy Khemod pada akun instagramnya yang menjadi viral beberapa hari ini. Mengadili Persepsi menjadi representatif keadaan saat ini, bahwa suatu persepsi yang dibakukan dan tidak menerima perbedaan menjalar dengan cepatnya.

Continue reading “Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)”

Mahameru Aksara

image

Sebenarnya sadar atau tidak, ternyata tulisan merepresentasikan apa yang sedang dipikirkan. Walaupun sebelum menulis hanya ada rasa keinginan mengeluarkan apa yang ada di kepala, bahkan pada saat itu tidak ada mood untuk menulis. Tapi terkadang mengalir begitu saja.

Bukan pujangga ataupun fanatik dengan sastra. Penulis amatir hanya mengungkapkan apa yang ada di otak tanpa memikirkan estetika dan pakem yang ada.

Kadang apa yang di rasa dan di pikir itu tidak bisa dikeluarkan dengan suara. Dengan tulisan, seperti ada penyaring yang membuat perasaan kitapun berubah asa.

Membuat notasi dari guratan tulisan, dengan notasi minor yang melantunkan kata hati dan pikir mungkin akan menjelma menjadi mahameru dari deretan aksara.

30Jan 01.36

3 tahun lagi menuju 30

image
Captured by @ekkidp

Technically dalam 3 tahun 2 bulan lagi gw baru berumur 30. Itupun juga kalau masih di perpanjang kontrak.

Statement “3 tahun lagi menuju 30” keluar dari seorang teman saat kami sedang liburan. Menurut gw, bisa – bisanya lagi liburan dimana kita enggak mau untuk memikirkan tentang duniawi, malah keluar statement yang membuat seolah gw dan teman yang lain merasa tertampar.

Fyi, dari sekitar 16 orang teman yang liburan. Hanya 2 orang yang (baru) menikah. Dan 2 orang tersebut memang sepasang suami istri saat ini. Sisanya yang lain ada yang sudah berpasangan, ada yang berencana untuk menikah, dan gerombolan Jones (jomblo ngenes).

Umur 30 kalau menurut gw pribadi adalah usia yang sudah mature. Persepsi yang dibuat oleh dunia sekitar adalah usia 30 bagi pria itu sudah menjadi seorang suami, seorang ayah, bekerja di perusahaan besar, tinggal dirumah sendiri (kalau masih nebeng sama orang tua ataupun mertua juga enggak masalah sih), punya mobil sendiri. Pokoknya sudah settled lah. Ini seperti sudah target banyaknya pria di Indonesia.

Menikah

Persepsi tersebut seperti Utopia bagi kaum pria. Dan mungkin bagi kaum wanita pun sama. Malah menurut gw, kalau wanita lebih berat lagi beban moral & sosial yang mereka pikul. Karena usia 30 sudah cukup terlambat untuk menikah. Walaupun gw yakin persepsi tersebut keluar dari generasi yang lebih di atas. Ya memang ada juga sih yang seumuran tapi persepsinya juga sama dengan mereka. Tapi, bagi wanita yang mau menginjak umur 30 tetapi masih menyendiri karena berbagai alasan, yang sport jantung adalah orang tuanya, “Kapan bisa mengantarkan anak gadisku ke pelaminan dan bisa secepatnya meminang bayi?”.

Tapi jangan salah, pria pun mengalami hal yang mirip dengan wanita. Ada beban moral dimana pria sebagai keluarga harus bisa menafkahi. Ini yang menurut pria adalah menjadi salah satu concern yang penting sewaktu memutuskan menikah. Maka dari itu, banyak pria yang menunda menikah karena belum merasa mapan. Selalu ada alasan dan batasan mengenai kata “mapan”. Walaupun banyak yang bilang, “kalau cari mapan, kapan nikahnya” atau “kalau sudah menikah, nanti juga ada rejekinya”. Kalimat tersebut biasanya keluar dari teman yang sudah mengarungi rumah tangga lebih dahulu.

Pekerjaan

Masalah mengenai status pekerjaan adalah menjadi momok bagi kami para pencari nafkah. Karena dengan pekerjaan, status kami di lihat. Dengan pekerjaan juga kami bisa membeli gadget terbaru supaya bisa mengikuti arus zaman teknologi yang begitu deras. Dengan pekerjaan juga kami bisa liburan dengan teman – teman. Dengan pekerjaan juga kami bisa mengumpulkan pundi – pundi aset. Dan jangan lupa, status pekerjaan juga jadi modal jualan ke calon mertua.

Semua orang punya target masing – masing dalam hal pekerjaan. Dari mulai gaji (siapa enggak mau gaji besar kan?), nama perusahaan tempat mereka bekerja (karena makin terkenal, harga diri makin naik), posisi yang di incar (karena usia 30 kalau sudah bisa jadi Manajer, rasanya kalau “jualan” ke mertua bakal langsung di restui) atau lokasi kantor yang diinginkan (kalau bisa bekerja di daerah yang prestigious, kegantengan atau kecantikan bisa bertambah minimal 5% lah).

Walaupun tidak semua orang ingin jadi pegawai di usia 30. Kalau bisa jadi pengusaha, siapa yang tidak mau. Maka dari itu jualan workshop atau seminar “Entrepreneur” sangat di gemari saat ini. Asal punya ide yang inovatif (apapun yang diberi imbuhan depan “E-” atau “Digital” rasanya sudah bisa disematkan gelar “pengusaha muda”), punya aplikasi yang keren dengan flat design dan warna pastel. Dan menjadi Keynote Speaker di acara alumni sekolahnya.

“Pekerjaan asal halal, insya allah ada aja rejekinya”. Ya setidaknya bagi yang tidak bisa memenuhi targetnya, kalimat tadi bisa menutupi sedikit rasa kekecewaan.

Pasangan Hidup

Nah, ini baru yang paling menohok. Kalau di atas menikah. Itu kan tidak akan terwujud kalau tidak ada pasangannya. Bagi para Jones yang berharap ada soulmate-nya datang tetiba di depan mata akan terus berdoa kepada Tuhannya untuk mengirimkan paket kilat ini.

Sewaktu muda, rasanya requirements seorang calon pacar bakal sepanjang tol Cipali yang lurus doang itu. Sampai akhirnya tiba saatnya waktu dimana kami hanya mengharapkan orang yang minimal menyayangi kita dan punya satu visi untuk berjibaku bersama selama puluhan tahun mendatang. Makanya dating application menjamur di kalangan yang berumur. Walaupun banyak juga muda mudi yang berharap mendapatkan “teman bobo” dari sini. Tapi ya ini salah satu cara untuk mencari peruntungan dalam perjodohan. Karena makin berumur, waktu semakin berharga. Umur bertambah, uban bertambah dan saldo rekening bertambah juga. Amin.

Mungkin kita perlu mengadakan acara pengajian satu RW dengan mengundang anak yatim supaya doa mencari jodoh cepat dikabulkan. Itupun kalau masih ingat caranya membaca Al-quran

Namun, kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan melakukan. Walaupun yang menentukan putusan akhir bukan kita. Lakukan apa yang lo yakin, sisanya ya berdoa.

Berdoa mudah – mudahan tidak putus asa di tengah jalan dan malah masuk ke Club 27