Aku ini adalah dirimu

Penggalan lirik dari lagu Dewa berjudul Satu. Kalau kita baca sekilas memang seperti hanya seperti lirik puitis Dhani yang lain. Tapi coba kita ganti menjadi, “Aku ini adalah diri-Mu “. Maknanya akan jadi beda dan jadi pertanyaan. Kita yang adalah ciptaan-Nya kok berani -beraninya menyamakan derajat dengan Sang Pencipta. Zat yang dipercaya Agung dan bersemayam di dimensi yang kita tidak ketahui.

Bahkan sering kita diberitahukan oleh orang tua ataupun guru agama untuk tidak memikirkan itu. Jadi teringat sewaktu kelas 1 SMA, ada satu teman menanyakan ke guru agama, “Pak, sebenernya Tuhan itu ada dimana?”. Spontan sewaktu itu saya menjawab, “Ya enggak usah dipikir. Yang jelas Dia ada”. Dan dengan sigap, guru agama saya waktu itu menepuk pundak saya sambil berkata, “Ya benar Gugi”. Jawaban spontan saya berhasil di afirmasi oleh “Ahli” agama rasanya seperti menang medali emas di Olimpiade Agama.

Akan jadi debat kusir kalau membahas masalah Tuhan. Sama saja seperti membahas teori Bumi Datar vs Bulat. Yang sejatinya, apakah kita peduli kalau ternyata Bumi berbentuk jajaran genjang atau bahkan trapesium? Toh, kita hidup di bumi tanpa pernah melihat sendiri bagaimana bentuknya. Yang lebih menarik adalah membahas pilihan kata Dhani pada lirik Satu.

Aku ini adalah dirimu

Cinta ini adalah cintamu

Aku ini adalah dirimu

Jiwa ini adalah jiwamu

Rindu ini adalah rindumu

Darah ini adalah darahmu

Rasanya kalau melantunkan verse awal lagu Satu ini membawa kita dekat dengan belahan hati kita. Lirik tersebut mencoba menjadi medium antara kita dan dia. Mengesankan kalau kita tidak terpisah, kita ya Satu. Mungkin versi dangdutnya seperti Sepiring Berdua - Hj. Ida Laila yang hits di era 80an.

Tak ada yang lain selain dirimu

Yang selalu ku puja

Ku sebut namamu di setiap hembusan nafasku

Ku sebut namamu, ku sebut namamu

Reff tersebut melangutkan diri kepada belahan hati kita. Begitu dekatnya kita dengan dia sampai di granular aktivitas biologis kita. Begitu cintanya kita dengan terus menyebut namanya berkali-kali. Sebuah bukti bahwa afeksi yang begitu besar terjadi di diri kita.

Dengan tanganmu aku menyentuh. 

Dengan kakimu aku berjalan

Dengan matamu aku memandang

Dengan telingamu aku mendengar

Dengan lidahmu aku bicara

Dengan hatimu aku merasa

Pada verse terakhir ini, tanpa bantuannya kita seperti manusia yang paralisis. Semua indera yang disematkan di tubuh kita tidak ada artinya tanpa dia. Tanpa kuasanya, kita seperti boneka yang bersandar di panggung teatrikal menunggu pentas. Kita hanya meminjam tubuh tanpa punya andil. Atas seizinnya kita bisa hidup.

Lagu ini dibuat Dhani dengan paham ajaran Tasawuf atau Sufisme yang dia pelajari. Atau bisa dibilang ini berada di tingkatan Makrifat, yaitu tingkat spiritual paling tinggi setelah Hakekat, Tarekat, lalu paling dasar adalah Syariat. Pada kalimat pertama di lagu ini, “Aku adalah dirimu” sebenarnya mirip dengan perkataan Syekh Siti Jenar, “Aku adalah Tuhan” adalah Prinsip Kemanunggalan dalam ajaran tentang manunggaling kawula Gusti. Sebuah tingkatan spiritual yang tidak bisa diterima semua orang.

Oleh karena itu, lagu Satu dibalut dengan nada Pop dan menuliskan, “Aku adalah dirimu”, bukan “Aku adalah diri-Mu” membuat lagu ini bertafsir tentang romansa dengan lawan jenis bukan lain Zat. Tapi kecintaan Dhani tentang Sufisme dicurahkan dengan artwork album Laskar Cinta yang menyerupai kaligrafi bertuliskan Allah.

Artwork ini yang menjadi lambang Dewa di setiap panggungnya. Baik menjadi backdrop ataupun menjadi “alas” stagenya. Dan inilah yang menjadikan salah satu Ormas pada saat itu memprotes Dhani untuk tidak menggunakannya lagi.

Ah iya, pada verse terakhir lagu Satu ini sepertinya Dhani mengambil dari salah satu ajaran Syekh Siti Jenar yang mengumpamakan bahwa manusia hidup ini sesungguhnya mayat yang gentayangan untuk mencari pangan pakaian dan papan serta mengejar kekayaan yang dapat menyenangkan jasmani. Oleh karena itu dituliskan di verse tersebut kalau kita seperti meminjam tubuh.

Walaupun terdengar begitu dalam dan tingginya filosofi dari setiap lirik Dhani, tidak luput dari dasarnya sifat manusia yang penuh dengan cela. Bahwa sesungguhnya kesalahan hanya milik kita dan kesempurnaan hanya milik Andra and The Backbone.
Sekian. 

Advertisements
Aku ini adalah dirimu

Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)

mengadili persepsi
Lirik Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan). Diambil dari akun instagram @edykhemod

Gambar di atas adalah lirik dari band Seringai yaitu Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan). Band yang didirikan oleh senior kolot scene metal yaitu Arian, Ricky Siahaan dan Edy Khemod lalu masuknya Sammy membuat band ini menjadi wolf pack yang memiliki taring. Dan gambar diatas adalah postingan dari Edy Khemod pada akun instagramnya yang menjadi viral beberapa hari ini. Mengadili Persepsi menjadi representatif keadaan saat ini, bahwa suatu persepsi yang dibakukan dan tidak menerima perbedaan menjalar dengan cepatnya.

Tulisan ini tidak membahas secara detail mengenai lirik ataupun profil Seringai sendiri, karena ini hanya adalah opini dan bentuk apresiasi untuk karya mereka yang jadi melegenda karena lirik yang mengangkat social issue dan masih terus relevan. Apalagi dengan keadaan saat ini. Lagu ini pertama kali saya dengar sewaktu kuliah yaitu sekitar 10 tahun yang lalu.

Teriakan Arian menyambut kita dengan, “Individu, individu merdeka!” membuat saya membayangkan betapa epicnya jika melihat mereka perform dan semua penonton mengepalkan tangannya ke atas. Meneriakan hak masing – masing individu untuk merdeka tanpa dihakimi oleh yang lain.

“Mereka bermain tuhan”

Bermain Tuhan adalah permainan kata yang cukup berbahaya sebenarnya, mengesankan bahwa kita manusia dengan seenak udelnya memainkan Sang Penciptanya. Namun kalau membaca liriknya secara lengkap dan coba pahami dengan keadaan saat ini, maka kata Bermain Tuhan lebih mengena. Walaupun sudah 10 tahun lamanya lagu ini diciptakan, namun liriknya tak lekang oleh waktu.

Cara yang digunakan sebenarnya sama saja dengan puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Menggunakan agama dan Tuhan untuk menggiring opini untuk suatu tujuan. Namun karena kesakralannya tersebut banyak yang terjebak dengan konformitas (bisa baca di: https://www.wsj.com/articles/the-brain-science-of-conformity-1492722013). Persepsi yang dibuat massif menjadi ketakukan bila menjadi yang beda.

 

“Merasa benar, menjajah nalar”

Nalar menjadi hal yang tabu. Sesuatu yang haram. Nalar menjadi tidak layak ada di otak. Merasa kebenaran atas sebuah konstruksi sosial menjadi sesuatu hal yang mutlak. Tidak menerima perbedaan pendapat ataupun lainnya. Lagi, konformitas menjadi lekat.

“Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya”

Penggalan lirik diatas seperti cambukan untuk mengingatkan kalau kejadian seperti ini tidak bisa dibiarkan. Karena terlalu berlarut dengan masalah yang sama. Hampir 2 dekade lalu Indonesia mengalami tragedi yang terjadi dibanyak kota yaitu dengan konflik SARA. Berapa banyak korban yang terbunuh karena perbedaan? Terlahir dengan ras berbeda dengan temannya, memeluk agama yang berbeda dengan tetangganya menjadi suatu kesalahan karena menjadi minoritas. Bersusah payah menyatukan bangsa yang terdiri dari berbagai suku dan agama, lalu dihancurkan begitu saja? Kebencian menjadi bahan bakar yang ampuh. kebencian menjadi konten yang digemari, kebencian menjadi senjata pemusnah massal.

Mungkin damai tidak akan pernah ada dan kebencian atas perbedaan selalu ada. Namun yang bisa kita lakukan adalah meminimalisirnya. Bukan berarti saya tidak optimis dengan adanya utopia itu. Hanya sudah ribuan tahun bumi ini hidup dengan seperti ini. Jadi bersikap realistis tanpa berekspektasi lebih sepertinya jadi pilihan.

Kalaupun benci karena berbeda atas hal apapun, biarkan kebencian itu disimpan sendiri tanpa menghasut orang lain. Jangan sampai persepsi pribadi dibuat seolah – olah menjadi persepsi massif yang akhirnya menjadi konflik besar. Dan hal ini terjadi di berbagai level, dari mulai pertemanan sampai kelompok lebih besar yaitu bangsa.

Kita harus menjamin hak masing – masing individu. Karena Negara pun menjaminnya. Kita hidup bukan dengan diri kita sendiri saja. Kita hidup dengan manusia yang berbeda sampai setiap sel tubuhnya. Jangan sampai konflik membesar dan akhirnya melibatkan otot dan darah. Hidup akan lebih hikmat bila perbedaan menjadi kewajaran bukan kenistaan.

“Individu, Individu Merdeka!”

Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)

Mahameru Aksara

image

Sebenarnya sadar atau tidak, ternyata tulisan merepresentasikan apa yang sedang dipikirkan. Walaupun sebelum menulis hanya ada rasa keinginan mengeluarkan apa yang ada di kepala, bahkan pada saat itu tidak ada mood untuk menulis. Tapi terkadang mengalir begitu saja.

Bukan pujangga ataupun fanatik dengan sastra. Penulis amatir hanya mengungkapkan apa yang ada di otak tanpa memikirkan estetika dan pakem yang ada.

Kadang apa yang di rasa dan di pikir itu tidak bisa dikeluarkan dengan suara. Dengan tulisan, seperti ada penyaring yang membuat perasaan kitapun berubah asa.

Membuat notasi dari guratan tulisan, dengan notasi minor yang melantunkan kata hati dan pikir mungkin akan menjelma menjadi mahameru dari deretan aksara.

30Jan 01.36

Mahameru Aksara

3 tahun lagi menuju 30

image
Captured by @ekkidp

Technically dalam 3 tahun 2 bulan lagi gw baru berumur 30. Itupun juga kalau masih di perpanjang kontrak.

Statement “3 tahun lagi menuju 30” keluar dari seorang teman saat kami sedang liburan. Menurut gw, bisa – bisanya lagi liburan dimana kita enggak mau untuk memikirkan tentang duniawi, malah keluar statement yang membuat seolah gw dan teman yang lain merasa tertampar.

Fyi, dari sekitar 16 orang teman yang liburan. Hanya 2 orang yang (baru) menikah. Dan 2 orang tersebut memang sepasang suami istri saat ini. Sisanya yang lain ada yang sudah berpasangan, ada yang berencana untuk menikah, dan gerombolan Jones (jomblo ngenes).

Umur 30 kalau menurut gw pribadi adalah usia yang sudah mature. Persepsi yang dibuat oleh dunia sekitar adalah usia 30 bagi pria itu sudah menjadi seorang suami, seorang ayah, bekerja di perusahaan besar, tinggal dirumah sendiri (kalau masih nebeng sama orang tua ataupun mertua juga enggak masalah sih), punya mobil sendiri. Pokoknya sudah settled lah. Ini seperti sudah target banyaknya pria di Indonesia.

Menikah

Persepsi tersebut seperti Utopia bagi kaum pria. Dan mungkin bagi kaum wanita pun sama. Malah menurut gw, kalau wanita lebih berat lagi beban moral & sosial yang mereka pikul. Karena usia 30 sudah cukup terlambat untuk menikah. Walaupun gw yakin persepsi tersebut keluar dari generasi yang lebih di atas. Ya memang ada juga sih yang seumuran tapi persepsinya juga sama dengan mereka. Tapi, bagi wanita yang mau menginjak umur 30 tetapi masih menyendiri karena berbagai alasan, yang sport jantung adalah orang tuanya, “Kapan bisa mengantarkan anak gadisku ke pelaminan dan bisa secepatnya meminang bayi?”.

Tapi jangan salah, pria pun mengalami hal yang mirip dengan wanita. Ada beban moral dimana pria sebagai keluarga harus bisa menafkahi. Ini yang menurut pria adalah menjadi salah satu concern yang penting sewaktu memutuskan menikah. Maka dari itu, banyak pria yang menunda menikah karena belum merasa mapan. Selalu ada alasan dan batasan mengenai kata “mapan”. Walaupun banyak yang bilang, “kalau cari mapan, kapan nikahnya” atau “kalau sudah menikah, nanti juga ada rejekinya”. Kalimat tersebut biasanya keluar dari teman yang sudah mengarungi rumah tangga lebih dahulu.

Pekerjaan

Masalah mengenai status pekerjaan adalah menjadi momok bagi kami para pencari nafkah. Karena dengan pekerjaan, status kami di lihat. Dengan pekerjaan juga kami bisa membeli gadget terbaru supaya bisa mengikuti arus zaman teknologi yang begitu deras. Dengan pekerjaan juga kami bisa liburan dengan teman – teman. Dengan pekerjaan juga kami bisa mengumpulkan pundi – pundi aset. Dan jangan lupa, status pekerjaan juga jadi modal jualan ke calon mertua.

Semua orang punya target masing – masing dalam hal pekerjaan. Dari mulai gaji (siapa enggak mau gaji besar kan?), nama perusahaan tempat mereka bekerja (karena makin terkenal, harga diri makin naik), posisi yang di incar (karena usia 30 kalau sudah bisa jadi Manajer, rasanya kalau “jualan” ke mertua bakal langsung di restui) atau lokasi kantor yang diinginkan (kalau bisa bekerja di daerah yang prestigious, kegantengan atau kecantikan bisa bertambah minimal 5% lah).

Walaupun tidak semua orang ingin jadi pegawai di usia 30. Kalau bisa jadi pengusaha, siapa yang tidak mau. Maka dari itu jualan workshop atau seminar “Entrepreneur” sangat di gemari saat ini. Asal punya ide yang inovatif (apapun yang diberi imbuhan depan “E-” atau “Digital” rasanya sudah bisa disematkan gelar “pengusaha muda”), punya aplikasi yang keren dengan flat design dan warna pastel. Dan menjadi Keynote Speaker di acara alumni sekolahnya.

“Pekerjaan asal halal, insya allah ada aja rejekinya”. Ya setidaknya bagi yang tidak bisa memenuhi targetnya, kalimat tadi bisa menutupi sedikit rasa kekecewaan.

Pasangan Hidup

Nah, ini baru yang paling menohok. Kalau di atas menikah. Itu kan tidak akan terwujud kalau tidak ada pasangannya. Bagi para Jones yang berharap ada soulmate-nya datang tetiba di depan mata akan terus berdoa kepada Tuhannya untuk mengirimkan paket kilat ini.

Sewaktu muda, rasanya requirements seorang calon pacar bakal sepanjang tol Cipali yang lurus doang itu. Sampai akhirnya tiba saatnya waktu dimana kami hanya mengharapkan orang yang minimal menyayangi kita dan punya satu visi untuk berjibaku bersama selama puluhan tahun mendatang. Makanya dating application menjamur di kalangan yang berumur. Walaupun banyak juga muda mudi yang berharap mendapatkan “teman bobo” dari sini. Tapi ya ini salah satu cara untuk mencari peruntungan dalam perjodohan. Karena makin berumur, waktu semakin berharga. Umur bertambah, uban bertambah dan saldo rekening bertambah juga. Amin.

Mungkin kita perlu mengadakan acara pengajian satu RW dengan mengundang anak yatim supaya doa mencari jodoh cepat dikabulkan. Itupun kalau masih ingat caranya membaca Al-quran

Namun, kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan melakukan. Walaupun yang menentukan putusan akhir bukan kita. Lakukan apa yang lo yakin, sisanya ya berdoa.

Berdoa mudah – mudahan tidak putus asa di tengah jalan dan malah masuk ke Club 27

3 tahun lagi menuju 30

Aktivitas Malam

image

“Berapa lama lo tidur malam?”
“ya paling 4 – 5 jam”

Kalau di hitung, tidur malam gw paling cuman segitu sih. Karena gw rasa malam hari adalah waktu yang tersisa dari hari lo untuk di maksimalkan demi keharmonisan diri lo dengan jiwa lo!

Bagaimana memaksimalkan malam lo? Melakukan hal – hal yang lo suka dan yang lo pengen. Intinya ya aktualisasi diri sih. Kalau di gw sih, beberapa hal malam gw seperti; youtube (vlog, musicians gear, interview with artist, songs cover, cooking, gadgets review, so on), baca (quora, flipboard, so on), nulis (apapun yang ada di kepala dan bisa gw tulis) dan nonton tv (The comment & Tonight Show)

Menurut gw, kalau sampai rumah terus langsung tidur. Terus besok bangun pagi lagi. Terus sampai rumah langsung tidur lagi. Masa kita hidup kayak robot. Terjebak rutinitas.

Beberapa hari lalu, atasan gw ngomong ke gw dengan lirih sambil lalu, “Gi, tidur gih. Jangan begadang mulu”. Gw langsung ngomong, “kalau gw tidur cepet, kapan gw bacanya mas”. Dan langsung di respon, “bener juga sih Gi, gw pun juga begitu soalnya”. See? Hanya malam yang mengerti kita.

Apa yang lo luangkan beberapa jam setiap malam untuk baca, nulis, nonton, main gitar atau apapun. Itu semua adalah proses pembelajaran yang buat lo tambah “pinter”. Kata “pinter” disini terserah lo mau di translasikan apa.

Ya karena sudah jam 03.15 pagi. Bukan sudah malam lagi, tapi sudah pagi. Dan dalam beberapa jam lagi harus sudah melewati jalanan jakarta pagi hari yang tidak pernah santai!

Selamat malam! Eh, pagi deng

Aktivitas Malam

Manusia Bengong

“Buat saya menciptakan lagu bagus itu seperti pergi ke kamar mandi”, ucap Ahmad Dhani. Ini adalah pernyataan yang gue ingat pada saat di interview bagaimana dia membuat lagu – lagu yang mahadahsyat (sorry agak lebay, maklum baladewa)

Mungkin bagi pencipta lagu lainnya tidak sebegitu mudahnya membuat lagu seperti Ahmad Dhani, butuh waktu berhari – hari bahkan bertahun – tahun untuk menciptakan lagu yang benar – benar bagus. Inspirasi bisa dating kapan saja, dan bengong adalah aktifitas yang mungkin paling banyak dilakukan oleh semua orang bisa sedang berpikir.

Yovie Widianto mungkin sudah menghabiskan berhari – hari bengong demi mendapatkan lagu – lagu pop yang berbobot di awal masa karier nya, tapi seringkali ditolak oleh label karena terlalu “berat”. Maka dia hanya meluangkan waktu 5 menit, dan jadilah lagu “Cantik”. Lagu yang tidak sulit dan tidak melalui waktu yang lama untuk mengolahnya.

Kontemplasi atau bengong adalah kebutuhan dasar setiap dasar manusia menurut gue. Bahkan bila lo merasa itu adalah bukan kebutuhan, ada saat dimana lo tidak sadar dimana lo sedang bengong.

Kita sebagai manusia, melewati jutaan tahun hingga bisa diposisi saat ini. Dan itu tidak terjadi begitu saja dan waktu yang mengubah kita semua. Dengan ditemukannya api oleh Homo Erectus pada 400.000 tahun yang lalu, manusia pada saat itu bisa punya waktu lebih banyak untuk berkontemplasi. Manusia bisa mengolah makanan jauh lebih cepat dan jauh lebih bergizi. Dengan memasak maka volume otak membesar, saluran pencernaan lebih kecil, gigi dan dagu yang mengecil.

Setelah ditemukannya api, manusia saat itu bisa mulai menjelajahi daerahnya pada malam hari, api sebagai perlindungan dari binatang, sebagai penghangat disaat malam yang dingin.

Bagaimana dengan nabi Ibrahim yang selalu berkontemplasi melihat langit, bertanya – tanya apakah matahari itu tuhannya, apakah bintang itu tuhannya, apakah bulan juga tuhannya. Butuh waktu lama sekali sampai beliau mendapatkan wahyu.

Jadi bengong atau berkontemplasi, adalah proses berpikir. Jadi jangan mengganggu temen lo yang sedang bengong, mungkin saja setelah itu dia menemukan ide yang brilian

 

@gugiabdel

Manusia Bengong

Menikah harus mahal?

Sampai saat ini gue sendiri sudah bertemu dengan klien yang mau menikah cukup banyak. Dan biasanya yang akan gue tanyakan kalau bertemu dengan klien yang masih single , pasti akan gue tanyakan, “Gak buat tujuan untuk Dana Menikah?”. Biasanya bermula dari pertanyaan itu, lalu kami akan ngobrol lebih jauh mengenai Dana Menikah.

Dari semua klien yang gue temui yang kebanyakan cewe dan ngobrol tentang Dana Menikah, 95% mengatakan kalau tidak ingin mengadakan Pernikahan yang besar – besaran yang sampai mengeluarkan dana ratusan juta rupiah. Mereka lebih ingin kalau ada lebih dana, lebih baik untuk DP Rumah, Mobil, atau untuk tabungan pendidikan anak nanti.

Menurut gue, menikah itu tidak perlu megah. Karena upacara sakralnya ada di saat akad nikah. Di situlah proses inti dalam pernikahan. Resepsi hanya “publikasi” ke teman dan saudara bahwa lo akan melangsungkan pernikahan. Jadi agak gak make sense kalau biaya menikah sampai ratusan juta dalam kurang waktu seminggu. Padahal setelah pernikahan tersebut, ada puluhan tahun yang akan dijalankan bersama dengan pasangan.

Pentingnya bagi semua yang masih single untuk menyiapkan Dana Menikah. Memang tidak dipungkiri kalau masih banyak juga yang masih berharap bahwa orang tua yang akan menanggung biayanya. Namun, menurut gue inilah saatnya sebagai seorang anak tidak membebani orang tua. Toh, kita juga sudah punya penghasilan sendiri. Jadi seharusnya kita mampu membiayai pernikahan kita sendiri.

Buatlah perkiraan jangka waktu berapa lama lagi akan menikah (walaupun dalam faktanya banyak juga yang meleset). Perkirakanlah berapa nominal yang ingin dipersiapkan untuk mencapai tujuan ini. Lo bisa menabung atau berinvestasi, tergantung jangka waktu dan profil resiko lo. Saran gue untuk jangka waktu yang 1 – 3 tahun bisa menabung aja atau lo investasi di reksadana pasar uang. Untuk 3 – 5 tahun lo bisa investasi di reksadana pendapatan tetap.

Oke, sekarang bagaimana tahapannya untuk merencanakan Dana Menikah?

– Membicarakan dengan pasangan mengenai konsep acara pernikahan, karena dari konsep ini yang nantinya akan menjadi budget yang harus disiapkan.

– Membicarakan mengenai pembagian porsi untuk biaya pernikahan ini, misal; Pihak wanita yang membayar tempat resepsi, Pihak pria yang menanggung biaya katering.

– Jangan sungkan untuk berbicara dengan orang tua sejak jauh hari mengenai biaya pernikahan ini, ada pasangan yang benar – benar ingin membiayai pernikahaannya sendiri, namun tidak menutup kemungkinan bila orang tua akan membantu biaya pernikahannya nanti. Contoh, lo sudah menghitung budget pernikahan mereka. Ternyata pada hari H biaya tersebut membengkak karena orang tua ingin mengundang lebih banyak rekan –rekannya. Karena tidak dapat di pungkiri juga kalau resepsi pernikahan adalah ajang menunjukan prestige. Maka coba tanyakan kepada orang tua, apakah mereka ingin membantu biaya pernikahan lo. Kalau iya, berapa nominalnya. Karena dari nominal ini kamu bisa langsung berhitung mengenai budget pernikahan kamu.

– Lalu survey tempat dan bertanya ke teman – teman yang sudah menikah mengenai biaya dan vendor. Lo bisa dapat referensi vendor yang bagus dari temen lo

– Coba bernegosiasi dengan teman – teman atau saudara yang sekiranya mempunyai usaha yang berkaitan dengan persiapan menikah. Contoh: Teman yang punya percetakan bisa membantu kita untuk mengurangi cost cetak undangan, Teman yang berprofesi sebagai fotografer bisa membantu dalam dokumentasi, Saudara yang mempunyai usaha Catering bisa membantu untuk konsumsi pada saat pernikahan, dll. Dari kalangan terdekat ini yang bisa membantu kamu untuk meringankan biaya pernikahan nanti.

Ada salah satu ide yang gue dapat mengenai konsep pernikahan. Menurut gue, bisa aja ngadain akad di rumah atau di masjid. Disitu lo bisa undang saudara dekat dan temang dekat. Let’s say paling banyak 100 orang, jadi lo cuman harus siapin katering untuk 100 orang. Atau bisa juga tidak ada makan besar, jadi malam nanti lo bisa makan di restoran dengan keluarga besar dan teman dekat.  Lalu untuk merayakannya dengan teman kantor dan temen yang lainnya, bisa adakan makan bareng di restoran. Kan bisa se-simple itu sebenarnya. Seharusnya biayanya bisa di push banyak kalau begitu.

Banyak konsep dan ide sebenarnya untuk menikah ini. Jadi tidak harus megah atau glamor pada saat menikah. Karena ingat, kehidupan setelah resepsi pernikahan jauh lebih panjang.

Semoga lo bisa menemukan ide atau konsep yang sesuai dengan pernikahan lo nantinya.

@gugiabdel

Menikah harus mahal?