Bumi Damai

image

Kalau musik bisa menyatukan semua orang.
Kenapa bukan seorang musisi yang menjadi pemimpin?
Kalau seorang ibu bisa menyayangi anaknya.
Kenapa bukan seorang ibu yang menjadi pemimpin?
Kalau agama bisa menyebarkan kedamaian.
Kenapa bukan seorang tokoh agama yang menjadi pemimpin?

Dunia di penuhi oleh orang-orang (sok) pintar yang membuat yang bodoh bingung mempercayai siapa.
Dunia di penuhi oleh pemimpin (palsu) yang membuat rakyatnya bingung mengikuti yang mana.
Dunia pun di penuhi oleh (yang katanya) tokoh agama yang membuat umatnya bingung harus mendengarkan siapa.

Kenapa kita tidak bisa berdamai saja dengan sesama atas semua kejadian yang telah terjadi?
Apa susahnya berdamai dengan sesama manusia yang juga dilahirkan di bumi yang sesak ini.
Toh kita hidup di bumi yang sama dan udara dari langit yang sama.
Kenapa harus adu urat suara dan licik pikir untuk menaklukkan sesama manusia?

Walaupun sampai kapanpun kata damai itu mustahil terjadi di seluruh dunia.
Setidaknya dimulai dengan damai dengan diri sendiri.
Memaafkan kesalahan yang dibuat oleh tanganmu, akalmu, kakimu, matamu dan mulutmu.

Nanti akan datang jua kita tidak menginjak bumi lagi.
Pergi ke dimensi yang hanya di ketahui oleh pendahulu kita.

24Des 00.16

Bumi Damai

Hujan

image

Sebelumnya, selamat hari hujan.

Sudah 2 hari ini tidak ada keceriaan yang muncul dari atas sana.
Hanya rintikan bahkan derasnya hujan yang membuat semua orang termenung.
Mungkin ada juga yang bahagia dengan datangnya hujan deras ini.
Mereka yang bisa menikmati tenangnya bunyi rintikan hujan bersama kasihnya.
Bersama meminum secangkir teh di temani lagu cinta melengkapi kasih mereka.

Dan pasti ada juga mereka yang hanya meratapi hujan dan membayangkan kasih mereka yang tak sampai dalam genggamannya.
Hanya merangkai memori demi memori untuk memenuhi kenangan dia yang makin sepi.
Kenangan yang makin usang karena termakan waktu.

Hujan memang seperti dua bilah mata pisau. Bisa menyenangkan dan (maaf) menyakitkan.
Udara dingin, bunyi rintikan hujan, hari yang sendu, menjadikan hujan diartikan berbagai makna.
Kita pun hanya bisa berharap kalau matahari tidak lupa untuk datang kembali.
Cerahnya matahari yang membuat senyumnya bisa kita lihat kembali.
Senyum yang selalu mengingatkan kita kepada dia.
Dia yang selalu memenuhi memori tentangnya yang makin usang.

Andai isi kepalaku seperti galeri fotonya.
Aku bisa terus melihat paras indah & senyumnya yang bisa menemaniku di kala hujan ini.

Hujan, tolong cepatlah reda.
Supaya aku tidak terus terjebak dalam fantasi ini.
Matahari, tolong cepatlah muncul.
Supaya aku bisa menemui dia.

Hei kau, tunggu ya. Aku akan datang menjemputmu

Aside

Dosa, Malaikat dan Mati

image

Kau pun mengais dosa – dosamu yang dulu ketika kau tersentak dengan jeritan tobat yang kau dengar. Lama sekali kau mengais, sampai waktupun tiba.

Berharap hari kejayaanmu datang. Tetapi tidak ada yang kau perbuat, hanya dosa yang memenuhi buku perbuatanmu. Malaikat pun bersiap2 datang.

Malaikat pun terus mengelilingimu ketika kau mencari kunci tobatmu. Hanya rasa gelisah dan sesal yang menyelimutimu. tidak ada yang bisaku lakukan.

Sudahku peringatkan dari dulu. Tapi kau terus mengisi buku amalmu dengan dosa. Sekarang kau terima ganjarannya ketika malaikat menghunus jantungmu.

Suara mesin tik terdengar riuh rendah di telinga. Ku mengintip sedikit, ternyata malaikat tersebut sedang mengetik catatan dosaku selama ini.

Dalam tidurku terjaga. Dalam siang pun ku termenung. Dan dalam malam pun berpikir “Sampai kapan ku di hantui oleh malaikat?”.

Terluntai-luntai ia berjalan. Ku bertanya “kenapa?” Ia menjawab “aku cape, dosa ku terlalu berat untuk ku pikul” | tak lama ia pun meninggal.

Barisan malaikat memenuhi kuburan tersebut. Tanah liang lahat pun bergetar. Semua mayit ketakutan, mereka ingat dosa – dosanya dulu.

Tidurnya pun terhenyak, ketika cahaya mendekati badannya. Dalam setengah sadar dia melihat malaikat sedang mengambil jiwanya. Innalilahi.

Dini hari, kumpulan anak muda pulang dari suatu club malam. Terhenti langkahnya. Ternyata di depan mereka di hadang oleh barisan malaikat.

Hari hisab pun datang. Ia sudah mengikat tubuhnya sendiri. Supaya tubuhnya tidak memberi tau dosa – dosa yang di perbuatnya. Namun usahanya gagal. Neraka!

Gelap. Sempit. Pengap. Semua menjadi 1 dalam ruang sempit itu. Di sana hanya tangis yang ada. Meratapi dosa – dosa yang dilakukan. Liang lahat.

Derap langkahnya berenti. Mata terbelalak. Nanar matanya mengatakan dia sangat takut. Di depan dia berdiri 10 malaikat yg menghadang. Mati.

Oktober 2010

Dosa, Malaikat dan Mati

Aku, Malaikat dan Mimpi

Pernahku memulai perjalananku dalam mimpi. Namun terbangun karena riuh rendah suara yang pernah aku dengar. Ku bersigap untuk mengintip di sela pintu kamarku, ternyata malaikat atid dan raqib sedang mengetik amalanku di mesin tik yang disimpan oleh Ayahku.

“Ah, paling aku hanya bermimpi”. Ku lanjut tidur dengan menarik selimutku.

Aku pun memulai untuk bermimpi kembali, karena perjalananku masih jauh. Di dalamnya aku datang ke sebuah rumah yang ku kenal, namun tampak buram karena aku belum terbiasa dengan mimpi ini. Ku coba untuk masuk ke dalam rumah itu, ku tengok setelah pintu ku buka. Ternyata aku melihat diriku sendiri sedang mengintip di sela pintu. Ku tengok kanan, ternyata malaikat atid & raqib sedang mengetik amalanku. Aku bingung. Kemudian di tepuk pundakku, ku tengok ke belakang, ternyata Ayahku dan dia berkata “Apa yang kau lakukan di sini”.

Aku ternyata hidup di dimensi lain. Aku bisa ke masa lalu dan masa depan. Namun aku tidak bisa kembali ke dunia nyata. Ini duniaku. Dunia dimana betapa jauhpun aku pergi, aku hanya akan kembali ke rumahku.

Aku, Malaikat dan Mimpi

Malam yang kucari dan kutunggu

Malam sunyi sepi itu adalah waktu yang aku tunggu setiap hari.
Ah jangan lupa, angin yang sejuk menambah hikmat indahnya malam.
Namun masalahnya, tidak selalu bisa ku dapatkan itu.
Kadang sewaktu aku bisa merasakan, “ah ini malam yang selalu ku cari”.
Tapi tubuhku sudah meraung – raung ingin berbaring di kasur bulukku.

Adapun malam indah yang pernah kurasa, adalah salah satu malam yang terus membekas.
Malam dimana bukan hanya tubuh yang menikmati udara malam, namun hati yang berdebar dan mulut yang tak berhenti tersenyum.
Kurasa kalian pun pernah merasakan malam yang aku maksud itu.
Yaitu malam dimana kalian bertemu dengan seseorang yang membuat kalian sibuk.
Sibuk mencari kata atau kalimat apa yang membuat dia bisa terenyuh.
Terenyuh akan kata atau kalimat yang indah dan jujur itu.
Malam dimana kalian tidak bisa berbohong, bahkan untuk bilang, “rasanya aku ingin tidur, boleh tidak kita lanjutkan besok?” kalian pun tak sanggup.
Karena kalian tahu, momen seperti ini mungkin tidak akan terulang.

Malam demi malam kalian beradu hati dan pikiran.
Barangkali ada umpan yang kalian sengaja ulur dan dia tertarik dengan umpan itu.
Tidak hanya canda yang kalian lontarkan, namun kasih yang sebenarnya kau rasakan.
Jari kalian bergetar, takut akan melukai dirinya.
Padahal selama ini jari kalian tidak takut untuk melukai seekor nyamuk, bahkan melukai seseorang.

Ah, aku ini hanya melantur.
Padahal hati ini tidak bisa berbohong, kalau rindu menghantui.
Sebenarnya rindu itu jahat.
Padahal yang ku ingin adalah rindu yang bisa membuatku tersenyum.

Kau tahu? Aku ini paling pandai berbohong. Bahkan hatiku pun bisa tertipu dengan akalku.
Ada rasa dimana aku tidak ingin merasakannya.
Maka akalku bekerja keras untuk membelokan rasa.
Rasa dimana malam indah pun bisa digantikannya.
Rasa itu adalah rasa cinta.

Ah, cinta.
Dimana para pejantan hanya singgah.
Padahal cinta yang membesarkannya.
Dimana wanita tidak singgah, namun membuat kehidupan di dalamnya.

Dulu temanku pernah berkata, “kasih sayang terlebih dahulu, setelah itu cinta akan datang”.
Namun menurutku apa bedanya.
Kalau kau sudah bisa hilang akal, hati dan mulutmu terus tersenyum oleh si dia.
Apa kau bisa bedakan kasih sayang dan cinta?

Kadang disaat yang paling tidak tepat, dia bisa datang begitu saja.
Menoleh seperti berucap, “hei, aku disini”.
Mengambil nafas untuk bersiap.
Padahal aku sudah lupa bagaimana cara menangkapnya.

Ah sudahlah, mungkin ini bukan malamku.
Aku tidak tahu kapan malamku akan datang.
Malam dimana satu purnama tersisih oleh surya yang menjelang.
Malam dimana jaripun bergetar, padahal hati dan mulut tersenyum.
Kan ku tunggu malam itu datang,
Cinta

Malam yang kucari dan kutunggu