Pulchra Nocte

“Mas, bangun mas. Sudah jam setengah 8. Nanti kamu dimarahi atasan kamu lagi”.

Suara ibu yang tiap pagi buat gue tertarik dari dunia mimpi. Mata yang masih sulit dibuka karena terangnya matahari lewat jendela kamar yang langsung menghadap ke timur. Ini salah satu hal kenapa gue ingin sekali tinggal sendiri. Karena tiap pagi pasti ibu ke kamar untuk bukakan jendela supaya matahari pagi dan udaranya masuk, setelah itu disambung dengan teriakannya untuk membangunkan gue.

Continue reading “Pulchra Nocte”

Advertisements
Pulchra Nocte

Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)

mengadili persepsi
Lirik Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan). Diambil dari akun instagram @edykhemod

Gambar di atas adalah lirik dari band Seringai yaitu Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan). Band yang didirikan oleh senior kolot scene metal yaitu Arian, Ricky Siahaan dan Edy Khemod lalu masuknya Sammy membuat band ini menjadi wolf pack yang memiliki taring. Dan gambar diatas adalah postingan dari Edy Khemod pada akun instagramnya yang menjadi viral beberapa hari ini. Mengadili Persepsi menjadi representatif keadaan saat ini, bahwa suatu persepsi yang dibakukan dan tidak menerima perbedaan menjalar dengan cepatnya.

Continue reading “Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)”

Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)

Tamasya

Taman Cibodas

Saya & teman yang lain sedang tamasya di Taman Cibodas. Kegiatan ini sepertinya tidak pernah dilakukan sebelumnya. Karena kami anak rumahan yang terlalu nyaman kalau sudah duduk di sofa. Kami ke Taman Cibodas dengan bawa bekal makanan, tikar, dan laptop untuk nonton bareng. Aneh memang sih lagi tamasya di taman malah bawa laptop, tapi ya begitulah kami.

Saya mulai menggelar tikar secara seksama di permukaan yang rata supaya enak duduknya. Lalu di lanjut dengan teman yang lain menyiapkan segala bawaan kami untuk mulai menyantap bekal yang kami bawa. Karena ini tamasya “cantik” dan malas ribet. Jadi ya hanya bawa makanan yang siap saji saja.

Perjalanan kami dari rumah ke taman ini saja sudah memakan waktu yang lumayan cukup untuk mengistirahatkan mata. Apalagi jarak dari parkiran ke area ini juga melewati banyaknya anak tangga yang lumayan buat betis & lutut boleh beradu otot dengan abang odong – odong.

Continue reading “Tamasya”

Tamasya

Seni Memilih

Hidup itu pilihan. Bisa hanya satu atau puluhan pilihan yang terhampar. Yang paling sulit adalah memilih.

Dari kecil terbiasa dipilihkan. Makanan disiapkan & disuapi. Besar sedikit kita bisa memilih, walaupun hanya sekedar memilih mau nonton kartun yang mana.

Pilihan akan berujung kepada apa kata hati kita atau apa kata otak kita. Tapi seringnya mereka bertengkar. Karena yang otak tidak mau terima apa kata hati, karena (biasanya) tidak logis.

Continue reading “Seni Memilih”

Seni Memilih

Nyai Ontosoroh

“Wanita Solo” karya Basuki Abdullah

Ini bukan puisi untuk Nyai
Tapi untuk sesama yang terzalimi
Bahwasanya tidak akan ada kesetaraan, kedamaian dan keadilan yang penuh
Yang ada hanya derita dan pilu

Apa yang dilakukan Nyai adalah belajar
Menjadi terpelajar haruslah adil, bukan menjadi kerdil
Memperjuangkan hak tidak harus beradu bedil

Sadar bahwa kehidupan bukan suatu yang mutlak
Bukan bergantung takdir tapi bangkit dari titik nadir
Berjuang melawan penindasan walaupun keadilan tak kunjung hadir

Bicara lah, jangan hanya mengganguk mengalah
Karena hidup bukan teater bisu
Yang isinya dipenuhi dengan isu

1 April 02.33

Nyai Ontosoroh