Premis, Metode dan Hak

Ini tulisan untuk kamu. Iya, kamu.

Kamu yang menghancurkan premis yang aku buat selama ini.

Setidaknya ada hal yang aku dapat, bahwa tidak ada satupun metode yang pasti untuk menjawab masalah ini. Toh di dunia apa yang pasti selain kematian dan ketidakpastian.

Continue reading “Premis, Metode dan Hak”

Advertisements
Premis, Metode dan Hak

Tamasya

Taman Cibodas

Saya & teman yang lain sedang tamasya di Taman Cibodas. Kegiatan ini sepertinya tidak pernah dilakukan sebelumnya. Karena kami anak rumahan yang terlalu nyaman kalau sudah duduk di sofa. Kami ke Taman Cibodas dengan bawa bekal makanan, tikar, dan laptop untuk nonton bareng. Aneh memang sih lagi tamasya di taman malah bawa laptop, tapi ya begitulah kami.

Saya mulai menggelar tikar secara seksama di permukaan yang rata supaya enak duduknya. Lalu di lanjut dengan teman yang lain menyiapkan segala bawaan kami untuk mulai menyantap bekal yang kami bawa. Karena ini tamasya “cantik” dan malas ribet. Jadi ya hanya bawa makanan yang siap saji saja.

Perjalanan kami dari rumah ke taman ini saja sudah memakan waktu yang lumayan cukup untuk mengistirahatkan mata. Apalagi jarak dari parkiran ke area ini juga melewati banyaknya anak tangga yang lumayan buat betis & lutut boleh beradu otot dengan abang odong – odong.

Continue reading “Tamasya”

Tamasya

Seni Memilih

Hidup itu pilihan. Bisa hanya satu atau puluhan pilihan yang terhampar. Yang paling sulit adalah memilih.

Dari kecil terbiasa dipilihkan. Makanan disiapkan & disuapi. Besar sedikit kita bisa memilih, walaupun hanya sekedar memilih mau nonton kartun yang mana.

Pilihan akan berujung kepada apa kata hati kita atau apa kata otak kita. Tapi seringnya mereka bertengkar. Karena yang otak tidak mau terima apa kata hati, karena (biasanya) tidak logis.

Continue reading “Seni Memilih”

Seni Memilih

Nyai Ontosoroh

“Wanita Solo” karya Basuki Abdullah

Ini bukan puisi untuk Nyai
Tapi untuk sesama yang terzalimi
Bahwasanya tidak akan ada kesetaraan, kedamaian dan keadilan yang penuh
Yang ada hanya derita dan pilu

Apa yang dilakukan Nyai adalah belajar
Menjadi terpelajar haruslah adil, bukan menjadi kerdil
Memperjuangkan hak tidak harus beradu bedil

Sadar bahwa kehidupan bukan suatu yang mutlak
Bukan bergantung takdir tapi bangkit dari titik nadir
Berjuang melawan penindasan walaupun keadilan tak kunjung hadir

Bicara lah, jangan hanya mengganguk mengalah
Karena hidup bukan teater bisu
Yang isinya dipenuhi dengan isu

1 April 02.33

Nyai Ontosoroh

Sore

Salah satu scene pada webseries “Sore”

Dia datang tanpa disadari
Mencuri senyum dari air mukaku yang murung
Tak percaya kalau keindahan itu ada didepanku
Serasa semesta mengabulkan doaku

Pagi selalu menjadi musuh abadi
Tapi sore selalu mengingatkanku akan baiknya pagi
Sore selalu menemaniku menikmati senja
Dan malam akhirnya selalu menjadi residu indahnya senja

Kenapa senja itu menyenangkan?
Kadang dia merah merekah bahagia
Kadang dia hitam gelap berduka
Tapi langit selalu menerima senja apa adanya

Berharap di masa depan bertemu dengan sore kembali
Membangunkan aku dengan senyum di pagi hari
Mengingatkan aku pada cerahnya matahari menyinari sore
Semoga semesta dan langit mempertemukan kami kembali

—————

Tulisan ini ada karena terinspirasi oleh sebuah webseries berjudul “Sore” karya Yandy Laurens. Dan ada bait di tulisan ini dipenggal dari dialog pada webseries tersebut. 

19Mar 05.28

Sore

Perempuan


Teriakan lepas seorang perempuan itu menarik perhatian.

Jarang ada seorang hawa yang berani seperti itu.
Biasanya mereka hanya berlindung dibalik jargon “feminist”.
Ah aku malah melantur sexist.

Kesetaraan adalah suatu yang hakiki.
Jadi jangan malah kau maki.
Kodrat bukan berarti tak bisa lepas.
Tapi bagaimana menyikapi.

Tapi tau apa aku tentang perempuan.
Makhluk jelmaan (yang katanya) dari rusuk.
Malah suka merasuk pikiran & jadi impian.
Kadang malah sampai busuk.

13 Mar 23.50

Perempuan

Kausalitas

Karena terlalu sibuk merasa, jadi lupa akan asa 

Karena terlalu sibuk dengan ego, malah jadi bego

Karena terlalu sibuk dengan kerjaan, sekarang malah hilang pegangan

Karena terlalu logis, akhirnya salah hipotesis

Tapi kadang kalau terlalu puitis, malah jadi pesimis
Mencoba realis malah jadi surealis
Mimpi setinggi langit tapi semangat seperti dipingit
Mungkin waktu akan membaik kalau sudah laik

28Feb 00.45

Kausalitas