Pulchra Nocte

image_20170927_215423

“Coba gini deh, kamu tuh sebenernya suka enggak sih sama aku?”

Pertanyaan yang keluar dari mulut Kina beberapa hari lalu. Setelah kejadian tersebut, Kina enggak masuk kantor dengan alasan sakit. Gue bingung, kalau gue tanya dia sakit apa, takut jadi canggung. Kalau enggak di tanya, kesannya gue enggak perhatian.

Keadaan seperti ini sebenarnya sudah gue prediksi. Keadaan dimana gue bermain dengan garis prinsip sendiri untuk tidak “mendekati” perempuan dalam satu circle, yaitu kalau keadaan disini adalah satu kantor. Alhasil, gue jadi stres sendiri.

Memilih antara prinsip atau hati.

Continue reading “Pulchra Nocte”

Advertisements

Pulchra Nocte

“Mas, bangun mas. Sudah jam setengah 8. Nanti kamu dimarahi atasan kamu lagi”.

Suara ibu yang tiap pagi buat gue tertarik dari dunia mimpi. Mata yang masih sulit dibuka karena terangnya matahari lewat jendela kamar yang langsung menghadap ke timur. Ini salah satu hal kenapa gue ingin sekali tinggal sendiri. Karena tiap pagi pasti ibu ke kamar untuk bukakan jendela supaya matahari pagi dan udaranya masuk, setelah itu disambung dengan teriakannya untuk membangunkan gue.

Continue reading “Pulchra Nocte”

Aku, Malaikat dan Mimpi

Pernahku memulai perjalananku dalam mimpi. Namun terbangun karena riuh rendah suara yang pernah aku dengar. Ku bersigap untuk mengintip di sela pintu kamarku, ternyata malaikat atid dan raqib sedang mengetik amalanku di mesin tik yang disimpan oleh Ayahku.

“Ah, paling aku hanya bermimpi”. Ku lanjut tidur dengan menarik selimutku.

Aku pun memulai untuk bermimpi kembali, karena perjalananku masih jauh. Di dalamnya aku datang ke sebuah rumah yang ku kenal, namun tampak buram karena aku belum terbiasa dengan mimpi ini. Ku coba untuk masuk ke dalam rumah itu, ku tengok setelah pintu ku buka. Ternyata aku melihat diriku sendiri sedang mengintip di sela pintu. Ku tengok kanan, ternyata malaikat atid & raqib sedang mengetik amalanku. Aku bingung. Kemudian di tepuk pundakku, ku tengok ke belakang, ternyata Ayahku dan dia berkata “Apa yang kau lakukan di sini”.

Aku ternyata hidup di dimensi lain. Aku bisa ke masa lalu dan masa depan. Namun aku tidak bisa kembali ke dunia nyata. Ini duniaku. Dunia dimana betapa jauhpun aku pergi, aku hanya akan kembali ke rumahku.