Malaikat Commuter Line


“Hei, sorry. Hmm.. Sudah pernah ada yang pernah bilang kamu cantik pada saat pertama kali ketemu?” 

Sebuah pickup line norak yang sempat terlintas pada saat melihat di ujung gerbong ada seorang perempuan memakai blouse biru tua, rok pensil hitam dan kitten heels hitam dengan rambut lurus sebahu yang sedang serius sibuk mengetik pada layar smartphonenya. Mungkin di pagi hari ini sudah di bombardir oleh email kantor.

Biasanya gue selalu naik kereta sekitar jam 9. Baru kali ini berangkat jam 8 karena ada meeting. Karena kalau di jam biasa gue naik kereta, jarang banget ada yang secantik ini. Biasanya paling banter kelas cantiknya seperti artis FTV yang baru sekali main. Dan yang ada di depan gue ini kelasnya bukan artis lagi, tapi malaikat.

“Apa gue coba mendekat ya, toh juga di sebelah dia ada space kosong. Kali aja ada kesempatan ngobrol”.

Akhirnya setelah membaca surat Yusuf (berharap muka gue akan bersinar dan akan berhasil memikat dia) gue memberanikan diri untuk berjalan mendekat. Sambil sok menerima telepon, “halo…. halo…. sebentar gue cari sinyal dulu”. Akhirnya gue berada disebelah dia, “nah ini suaranya baru jelas. Sorry, boleh di jelasin lagi?”. Gue coba untuk ngobrol sedikit keras dan jelas supaya dia setidaknya menoleh ke arah gue. Dan gue berharap banget kalau surat Yusuf yang tadi dibaca mujarab.

Tidak sampai 1 menit gue tutup telepon karena takut dia keburu turun di stasiun berikutnya. Gue coba mengintip sedikit ke kanan, dia masih berkutat dengan emailnya. Sambil sesekali menggigit bibirnya. Lipstik nude melapisi bibir tipisnya yang mirip bibir Kirsten Dunst.

Tangan gue sudah mulai keringat dingin. Daritadi hanya berganti tangan yang berpegangan untuk menyeka keringat di jeans. Kalau sudah kepalang penasaran tapi grogi jadinya begini. Gue takut nanti kejang – kejang saking groginya.

“Dulu gue dipalakin preman aja bisa gue palak balik. Masa buat kenalan sama cewek aja segini susahnya”. Otak kanan gue sudah mulai mengeluarkan sugesti yang tidak masuk akal untuk mengalahkan otak kiri.

Ah, akhirnya gue melihat dia menurunkan handphonenya. Berarti dia sudah tidak sibuk. ini waktu yang tepat untuk memulai lembaran hidup baru dan memperbaiki garis keturunan keluarga gue.

“Akhirnya bisa break sebentar dari email kerjaan ya?”. Puji syukur bukan pickup line norak yang keluar dari mulut gue. Berguna juga keseringan nemenin adik gue nonton romantic comedy, jadi bisa ada improvisasi buat memulai obrolan sama perempuan.

“iya nih, sebenarnya aku paling sebel kalau pagi-pagi udah lihat email sebanyak ini dan isinya kebanyakan dengan subject ‘urgent’. Eh, sorry malah kelepasan curhat kerjaan. Sanguine aku keluar kalau lagi stres gini. Hehe..”

Mimpi apa gue kalau feedbacknya kayak gini. Pakai “aku” pula. Makasih ya Tuhan.

“Enggak apa-apa kok. Setidaknya kamu udah release emotion walaupun sedikit. Hehe..”

“Iya nih, agak mendingan sih. Setidaknya sebelum sampai kantor bisa sedikit lepas dari issue di email tadi”

“Kalau boleh tau, memang lagi ada issue apa sih?”

“Aduh maaf, bukan aku mau kasih tau. Tapi ini confidential. Sorry ya”

“Hehe.. Enggak apa-apa kok”.

Duh, ngapain juga sih gue tanya terlalu detail. Malah jadi jelek kan first impression gue. Bodoh banget.

Dan dia langsung lihat handphonenya begitu ada bunyi notifikasi. Dengan wajah seriusnya ini, gue rasa dia bisa jadi bintang iklan di segala brand. Bukan hanya kata “cantik” yang cukup merepresentasikan wajahnya. Gue enggak menemukan kata yang tepat untuk dia. Parasnya seperti memberi tauladan kepada adik – adik cabe kalau mau cantik tidak harus memakai make up tebal kayak mau ngelenong. Ah, ini sih flawless. Gue ingin berserah diri rasanya melihat dia sedikit tersenyum. Sepertinya ada kabar baik yang baru dia terima. Dengan wajah serius aja sudah bisa menaklukkan duniaku. Kalau dia tersenyum seperti ini, semesta akan bersujud di hadapan dia.
“Eh, sorry tadi chat masuk. Jadi fokus ke handphone”. 

“Iya, enggak apa-apa. Sok aja lanjutin chatnya. Kayaknya senang pas tadi baca chatnya”

“Iya nih, tadi suamiku bilang kalau dia nanti malam udah bisa pulang dari dinas luar kotanya”.

Gue langsung reflek lihat jari manisnya. Dan benar terlingkar cincin disana. Kenapa daritadi gue enggak fokus ke situ sih. Seperti ketabrak kereta rasanya. Tubuh ini diam tanpa ada satu helai bulu pun yang bergerak. Ini kayak naik Niagara-gara tapi di ulang 10x. Lemes banget. Ekspektasi gue sudah tinggi. Sebelumnya belum pernah motivasi hidup gue sekuat ini.

“Hei, kamu enggak apa-apa? Kok mukanya jadi pucet gitu”.

“Eh, iya nih. Kayaknya gegara belum sarapan tadi”

“Ya ampun kasian banget, ini aku ada roti. Tadi aku sempet bawa bekel. Makan aja dulu nih. Daripada sakit”.

Ini ujian atau apa ya Tuhan. Kok ada perempuan cantik, baik, dan ramah tapi kok sudah punya suami. Padahal tadi awalnya sudah bagus. Gue kira ini bakal jadi permulaan yang baik untuk akhir yang sempurna. Ternyata pupus.

“Enggak usah, makasih banyak. Nanti di kantor langsung sarapan kok”.

“Oh gitu, hmm. Yaudah deh. Aku juga punya maag. Makanya kalau belum sarapan aku sempatin buat bekel”.

~ SESAAT LAGI KERETA MEMASUKI STASIUN PAL MERAH ~

“Aku turun di pal merah. Makasih ya udah di ajak ngobrol. Maaf tadi kelepasan curhat kerjaan. Hehe.. Jangan lupa sarapan”.

“Iya, sama-sama. Makasih banyak ya”

Gue hanya bisa memberikan senyum miris tidak ikhlas. Sedangkan dia tersenyum layaknya malaikat yang bersinar. Dan akhirnya dia turun meninggalkan jasad gue membusuk di Commuter Line ini.

Memang too good to be true bisa hoki berkenalan dengan perempuan di random place & random moment seperti ini. Apalagi secantik dia yang benar-benar ramah. Perfect banget kayaknya.

Awas aja kalau muka suaminya ternyata enggak seganteng Adam Jordan atau Onky Alexander. Karena kalau secantik dia harus punya suami yang sama gantengnya. Sepertinya suaminya sudah baca surat Yusuf dari remaja. Makanya bisa mendapatkan perempuan secantik dia.

Ah, ternyata dari tadi gue lupa untuk berkenalan. Padahal kalau saja tahu namanya, setidaknya gue bisa kepoin dan masih bisa melihat dia di sosial medianya

Sudahlah, mari lanjutkan hidup dengan bekerja dan berharap jodoh datang tanpa PHP. Pokoknya PR gue adalah, jangan pernah lupa untuk lihat jari manis perempuan sebelum di ajak ngobrol.

Advertisements
Malaikat Commuter Line