Pulchra Nocte

image_20170927_215423

“Coba gini deh, kamu tuh sebenernya suka enggak sih sama aku?”

Pertanyaan yang keluar dari mulut Kina beberapa hari lalu. Setelah kejadian tersebut, Kina enggak masuk kantor dengan alasan sakit. Gue bingung, kalau gue tanya dia sakit apa, takut jadi canggung. Kalau enggak di tanya, kesannya gue enggak perhatian.

Keadaan seperti ini sebenarnya sudah gue prediksi. Keadaan dimana gue bermain dengan garis prinsip sendiri untuk tidak “mendekati” perempuan dalam satu circle, yaitu kalau keadaan disini adalah satu kantor. Alhasil, gue jadi stres sendiri.

Memilih antara prinsip atau hati.

Continue reading “Pulchra Nocte”

Advertisements

Kemalangan

image

Nada minor menemani deritamu
Air hujan membasuh lesuhmu
Malam menjamin ketenanganmu
Sunyi menemani kesendirianmu

Kau hanya perlu bersabar dengan jalan hidupmu
Kelak roda kehidupan berputar sesuai dengan perjuanganmu
Doamu kepada-Nya tidak menjadi lalu

29Jan 00.39

Aktivitas Malam

image

“Berapa lama lo tidur malam?”
“ya paling 4 – 5 jam”

Kalau di hitung, tidur malam gw paling cuman segitu sih. Karena gw rasa malam hari adalah waktu yang tersisa dari hari lo untuk di maksimalkan demi keharmonisan diri lo dengan jiwa lo!

Bagaimana memaksimalkan malam lo? Melakukan hal – hal yang lo suka dan yang lo pengen. Intinya ya aktualisasi diri sih. Kalau di gw sih, beberapa hal malam gw seperti; youtube (vlog, musicians gear, interview with artist, songs cover, cooking, gadgets review, so on), baca (quora, flipboard, so on), nulis (apapun yang ada di kepala dan bisa gw tulis) dan nonton tv (The comment & Tonight Show)

Menurut gw, kalau sampai rumah terus langsung tidur. Terus besok bangun pagi lagi. Terus sampai rumah langsung tidur lagi. Masa kita hidup kayak robot. Terjebak rutinitas.

Beberapa hari lalu, atasan gw ngomong ke gw dengan lirih sambil lalu, “Gi, tidur gih. Jangan begadang mulu”. Gw langsung ngomong, “kalau gw tidur cepet, kapan gw bacanya mas”. Dan langsung di respon, “bener juga sih Gi, gw pun juga begitu soalnya”. See? Hanya malam yang mengerti kita.

Apa yang lo luangkan beberapa jam setiap malam untuk baca, nulis, nonton, main gitar atau apapun. Itu semua adalah proses pembelajaran yang buat lo tambah “pinter”. Kata “pinter” disini terserah lo mau di translasikan apa.

Ya karena sudah jam 03.15 pagi. Bukan sudah malam lagi, tapi sudah pagi. Dan dalam beberapa jam lagi harus sudah melewati jalanan jakarta pagi hari yang tidak pernah santai!

Selamat malam! Eh, pagi deng

Malam yang kucari dan kutunggu

Malam sunyi sepi itu adalah waktu yang aku tunggu setiap hari.
Ah jangan lupa, angin yang sejuk menambah hikmat indahnya malam.
Namun masalahnya, tidak selalu bisa ku dapatkan itu.
Kadang sewaktu aku bisa merasakan, “ah ini malam yang selalu ku cari”.
Tapi tubuhku sudah meraung – raung ingin berbaring di kasur bulukku.

Adapun malam indah yang pernah kurasa, adalah salah satu malam yang terus membekas.
Malam dimana bukan hanya tubuh yang menikmati udara malam, namun hati yang berdebar dan mulut yang tak berhenti tersenyum.
Kurasa kalian pun pernah merasakan malam yang aku maksud itu.
Yaitu malam dimana kalian bertemu dengan seseorang yang membuat kalian sibuk.
Sibuk mencari kata atau kalimat apa yang membuat dia bisa terenyuh.
Terenyuh akan kata atau kalimat yang indah dan jujur itu.
Malam dimana kalian tidak bisa berbohong, bahkan untuk bilang, “rasanya aku ingin tidur, boleh tidak kita lanjutkan besok?” kalian pun tak sanggup.
Karena kalian tahu, momen seperti ini mungkin tidak akan terulang.

Malam demi malam kalian beradu hati dan pikiran.
Barangkali ada umpan yang kalian sengaja ulur dan dia tertarik dengan umpan itu.
Tidak hanya canda yang kalian lontarkan, namun kasih yang sebenarnya kau rasakan.
Jari kalian bergetar, takut akan melukai dirinya.
Padahal selama ini jari kalian tidak takut untuk melukai seekor nyamuk, bahkan melukai seseorang.

Ah, aku ini hanya melantur.
Padahal hati ini tidak bisa berbohong, kalau rindu menghantui.
Sebenarnya rindu itu jahat.
Padahal yang ku ingin adalah rindu yang bisa membuatku tersenyum.

Kau tahu? Aku ini paling pandai berbohong. Bahkan hatiku pun bisa tertipu dengan akalku.
Ada rasa dimana aku tidak ingin merasakannya.
Maka akalku bekerja keras untuk membelokan rasa.
Rasa dimana malam indah pun bisa digantikannya.
Rasa itu adalah rasa cinta.

Ah, cinta.
Dimana para pejantan hanya singgah.
Padahal cinta yang membesarkannya.
Dimana wanita tidak singgah, namun membuat kehidupan di dalamnya.

Dulu temanku pernah berkata, “kasih sayang terlebih dahulu, setelah itu cinta akan datang”.
Namun menurutku apa bedanya.
Kalau kau sudah bisa hilang akal, hati dan mulutmu terus tersenyum oleh si dia.
Apa kau bisa bedakan kasih sayang dan cinta?

Kadang disaat yang paling tidak tepat, dia bisa datang begitu saja.
Menoleh seperti berucap, “hei, aku disini”.
Mengambil nafas untuk bersiap.
Padahal aku sudah lupa bagaimana cara menangkapnya.

Ah sudahlah, mungkin ini bukan malamku.
Aku tidak tahu kapan malamku akan datang.
Malam dimana satu purnama tersisih oleh surya yang menjelang.
Malam dimana jaripun bergetar, padahal hati dan mulut tersenyum.
Kan ku tunggu malam itu datang,
Cinta