3 tahun lagi menuju 30

image
Captured by @ekkidp

Technically dalam 3 tahun 2 bulan lagi gw baru berumur 30. Itupun juga kalau masih di perpanjang kontrak.

Statement “3 tahun lagi menuju 30” keluar dari seorang teman saat kami sedang liburan. Menurut gw, bisa – bisanya lagi liburan dimana kita enggak mau untuk memikirkan tentang duniawi, malah keluar statement yang membuat seolah gw dan teman yang lain merasa tertampar.

Fyi, dari sekitar 16 orang teman yang liburan. Hanya 2 orang yang (baru) menikah. Dan 2 orang tersebut memang sepasang suami istri saat ini. Sisanya yang lain ada yang sudah berpasangan, ada yang berencana untuk menikah, dan gerombolan Jones (jomblo ngenes).

Umur 30 kalau menurut gw pribadi adalah usia yang sudah mature. Persepsi yang dibuat oleh dunia sekitar adalah usia 30 bagi pria itu sudah menjadi seorang suami, seorang ayah, bekerja di perusahaan besar, tinggal dirumah sendiri (kalau masih nebeng sama orang tua ataupun mertua juga enggak masalah sih), punya mobil sendiri. Pokoknya sudah settled lah. Ini seperti sudah target banyaknya pria di Indonesia.

Menikah

Persepsi tersebut seperti Utopia bagi kaum pria. Dan mungkin bagi kaum wanita pun sama. Malah menurut gw, kalau wanita lebih berat lagi beban moral & sosial yang mereka pikul. Karena usia 30 sudah cukup terlambat untuk menikah. Walaupun gw yakin persepsi tersebut keluar dari generasi yang lebih di atas. Ya memang ada juga sih yang seumuran tapi persepsinya juga sama dengan mereka. Tapi, bagi wanita yang mau menginjak umur 30 tetapi masih menyendiri karena berbagai alasan, yang sport jantung adalah orang tuanya, “Kapan bisa mengantarkan anak gadisku ke pelaminan dan bisa secepatnya meminang bayi?”.

Tapi jangan salah, pria pun mengalami hal yang mirip dengan wanita. Ada beban moral dimana pria sebagai keluarga harus bisa menafkahi. Ini yang menurut pria adalah menjadi salah satu concern yang penting sewaktu memutuskan menikah. Maka dari itu, banyak pria yang menunda menikah karena belum merasa mapan. Selalu ada alasan dan batasan mengenai kata “mapan”. Walaupun banyak yang bilang, “kalau cari mapan, kapan nikahnya” atau “kalau sudah menikah, nanti juga ada rejekinya”. Kalimat tersebut biasanya keluar dari teman yang sudah mengarungi rumah tangga lebih dahulu.

Pekerjaan

Masalah mengenai status pekerjaan adalah menjadi momok bagi kami para pencari nafkah. Karena dengan pekerjaan, status kami di lihat. Dengan pekerjaan juga kami bisa membeli gadget terbaru supaya bisa mengikuti arus zaman teknologi yang begitu deras. Dengan pekerjaan juga kami bisa liburan dengan teman – teman. Dengan pekerjaan juga kami bisa mengumpulkan pundi – pundi aset. Dan jangan lupa, status pekerjaan juga jadi modal jualan ke calon mertua.

Semua orang punya target masing – masing dalam hal pekerjaan. Dari mulai gaji (siapa enggak mau gaji besar kan?), nama perusahaan tempat mereka bekerja (karena makin terkenal, harga diri makin naik), posisi yang di incar (karena usia 30 kalau sudah bisa jadi Manajer, rasanya kalau “jualan” ke mertua bakal langsung di restui) atau lokasi kantor yang diinginkan (kalau bisa bekerja di daerah yang prestigious, kegantengan atau kecantikan bisa bertambah minimal 5% lah).

Walaupun tidak semua orang ingin jadi pegawai di usia 30. Kalau bisa jadi pengusaha, siapa yang tidak mau. Maka dari itu jualan workshop atau seminar “Entrepreneur” sangat di gemari saat ini. Asal punya ide yang inovatif (apapun yang diberi imbuhan depan “E-” atau “Digital” rasanya sudah bisa disematkan gelar “pengusaha muda”), punya aplikasi yang keren dengan flat design dan warna pastel. Dan menjadi Keynote Speaker di acara alumni sekolahnya.

“Pekerjaan asal halal, insya allah ada aja rejekinya”. Ya setidaknya bagi yang tidak bisa memenuhi targetnya, kalimat tadi bisa menutupi sedikit rasa kekecewaan.

Pasangan Hidup

Nah, ini baru yang paling menohok. Kalau di atas menikah. Itu kan tidak akan terwujud kalau tidak ada pasangannya. Bagi para Jones yang berharap ada soulmate-nya datang tetiba di depan mata akan terus berdoa kepada Tuhannya untuk mengirimkan paket kilat ini.

Sewaktu muda, rasanya requirements seorang calon pacar bakal sepanjang tol Cipali yang lurus doang itu. Sampai akhirnya tiba saatnya waktu dimana kami hanya mengharapkan orang yang minimal menyayangi kita dan punya satu visi untuk berjibaku bersama selama puluhan tahun mendatang. Makanya dating application menjamur di kalangan yang berumur. Walaupun banyak juga muda mudi yang berharap mendapatkan “teman bobo” dari sini. Tapi ya ini salah satu cara untuk mencari peruntungan dalam perjodohan. Karena makin berumur, waktu semakin berharga. Umur bertambah, uban bertambah dan saldo rekening bertambah juga. Amin.

Mungkin kita perlu mengadakan acara pengajian satu RW dengan mengundang anak yatim supaya doa mencari jodoh cepat dikabulkan. Itupun kalau masih ingat caranya membaca Al-quran

Namun, kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan melakukan. Walaupun yang menentukan putusan akhir bukan kita. Lakukan apa yang lo yakin, sisanya ya berdoa.

Berdoa mudah – mudahan tidak putus asa di tengah jalan dan malah masuk ke Club 27

Menikah harus mahal?

Sampai saat ini gue sendiri sudah bertemu dengan klien yang mau menikah cukup banyak. Dan biasanya yang akan gue tanyakan kalau bertemu dengan klien yang masih single , pasti akan gue tanyakan, “Gak buat tujuan untuk Dana Menikah?”. Biasanya bermula dari pertanyaan itu, lalu kami akan ngobrol lebih jauh mengenai Dana Menikah.

Dari semua klien yang gue temui yang kebanyakan cewe dan ngobrol tentang Dana Menikah, 95% mengatakan kalau tidak ingin mengadakan Pernikahan yang besar – besaran yang sampai mengeluarkan dana ratusan juta rupiah. Mereka lebih ingin kalau ada lebih dana, lebih baik untuk DP Rumah, Mobil, atau untuk tabungan pendidikan anak nanti.

Menurut gue, menikah itu tidak perlu megah. Karena upacara sakralnya ada di saat akad nikah. Di situlah proses inti dalam pernikahan. Resepsi hanya “publikasi” ke teman dan saudara bahwa lo akan melangsungkan pernikahan. Jadi agak gak make sense kalau biaya menikah sampai ratusan juta dalam kurang waktu seminggu. Padahal setelah pernikahan tersebut, ada puluhan tahun yang akan dijalankan bersama dengan pasangan.

Pentingnya bagi semua yang masih single untuk menyiapkan Dana Menikah. Memang tidak dipungkiri kalau masih banyak juga yang masih berharap bahwa orang tua yang akan menanggung biayanya. Namun, menurut gue inilah saatnya sebagai seorang anak tidak membebani orang tua. Toh, kita juga sudah punya penghasilan sendiri. Jadi seharusnya kita mampu membiayai pernikahan kita sendiri.

Buatlah perkiraan jangka waktu berapa lama lagi akan menikah (walaupun dalam faktanya banyak juga yang meleset). Perkirakanlah berapa nominal yang ingin dipersiapkan untuk mencapai tujuan ini. Lo bisa menabung atau berinvestasi, tergantung jangka waktu dan profil resiko lo. Saran gue untuk jangka waktu yang 1 – 3 tahun bisa menabung aja atau lo investasi di reksadana pasar uang. Untuk 3 – 5 tahun lo bisa investasi di reksadana pendapatan tetap.

Oke, sekarang bagaimana tahapannya untuk merencanakan Dana Menikah?

– Membicarakan dengan pasangan mengenai konsep acara pernikahan, karena dari konsep ini yang nantinya akan menjadi budget yang harus disiapkan.

– Membicarakan mengenai pembagian porsi untuk biaya pernikahan ini, misal; Pihak wanita yang membayar tempat resepsi, Pihak pria yang menanggung biaya katering.

– Jangan sungkan untuk berbicara dengan orang tua sejak jauh hari mengenai biaya pernikahan ini, ada pasangan yang benar – benar ingin membiayai pernikahaannya sendiri, namun tidak menutup kemungkinan bila orang tua akan membantu biaya pernikahannya nanti. Contoh, lo sudah menghitung budget pernikahan mereka. Ternyata pada hari H biaya tersebut membengkak karena orang tua ingin mengundang lebih banyak rekan –rekannya. Karena tidak dapat di pungkiri juga kalau resepsi pernikahan adalah ajang menunjukan prestige. Maka coba tanyakan kepada orang tua, apakah mereka ingin membantu biaya pernikahan lo. Kalau iya, berapa nominalnya. Karena dari nominal ini kamu bisa langsung berhitung mengenai budget pernikahan kamu.

– Lalu survey tempat dan bertanya ke teman – teman yang sudah menikah mengenai biaya dan vendor. Lo bisa dapat referensi vendor yang bagus dari temen lo

– Coba bernegosiasi dengan teman – teman atau saudara yang sekiranya mempunyai usaha yang berkaitan dengan persiapan menikah. Contoh: Teman yang punya percetakan bisa membantu kita untuk mengurangi cost cetak undangan, Teman yang berprofesi sebagai fotografer bisa membantu dalam dokumentasi, Saudara yang mempunyai usaha Catering bisa membantu untuk konsumsi pada saat pernikahan, dll. Dari kalangan terdekat ini yang bisa membantu kamu untuk meringankan biaya pernikahan nanti.

Ada salah satu ide yang gue dapat mengenai konsep pernikahan. Menurut gue, bisa aja ngadain akad di rumah atau di masjid. Disitu lo bisa undang saudara dekat dan temang dekat. Let’s say paling banyak 100 orang, jadi lo cuman harus siapin katering untuk 100 orang. Atau bisa juga tidak ada makan besar, jadi malam nanti lo bisa makan di restoran dengan keluarga besar dan teman dekat.  Lalu untuk merayakannya dengan teman kantor dan temen yang lainnya, bisa adakan makan bareng di restoran. Kan bisa se-simple itu sebenarnya. Seharusnya biayanya bisa di push banyak kalau begitu.

Banyak konsep dan ide sebenarnya untuk menikah ini. Jadi tidak harus megah atau glamor pada saat menikah. Karena ingat, kehidupan setelah resepsi pernikahan jauh lebih panjang.

Semoga lo bisa menemukan ide atau konsep yang sesuai dengan pernikahan lo nantinya.

@gugiabdel