Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)

mengadili persepsi
Lirik Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan). Diambil dari akun instagram @edykhemod

Gambar di atas adalah lirik dari band Seringai yaitu Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan). Band yang didirikan oleh senior kolot scene metal yaitu Arian, Ricky Siahaan dan Edy Khemod lalu masuknya Sammy membuat band ini menjadi wolf pack yang memiliki taring. Dan gambar diatas adalah postingan dari Edy Khemod pada akun instagramnya yang menjadi viral beberapa hari ini. Mengadili Persepsi menjadi representatif keadaan saat ini, bahwa suatu persepsi yang dibakukan dan tidak menerima perbedaan menjalar dengan cepatnya.

Tulisan ini tidak membahas secara detail mengenai lirik ataupun profil Seringai sendiri, karena ini hanya adalah opini dan bentuk apresiasi untuk karya mereka yang jadi melegenda karena lirik yang mengangkat social issue dan masih terus relevan. Apalagi dengan keadaan saat ini. Lagu ini pertama kali saya dengar sewaktu kuliah yaitu sekitar 10 tahun yang lalu.

Teriakan Arian menyambut kita dengan, “Individu, individu merdeka!” membuat saya membayangkan betapa epicnya jika melihat mereka perform dan semua penonton mengepalkan tangannya ke atas. Meneriakan hak masing – masing individu untuk merdeka tanpa dihakimi oleh yang lain.

“Mereka bermain tuhan”

Bermain Tuhan adalah permainan kata yang cukup berbahaya sebenarnya, mengesankan bahwa kita manusia dengan seenak udelnya memainkan Sang Penciptanya. Namun kalau membaca liriknya secara lengkap dan coba pahami dengan keadaan saat ini, maka kata Bermain Tuhan lebih mengena. Walaupun sudah 10 tahun lamanya lagu ini diciptakan, namun liriknya tak lekang oleh waktu.

Cara yang digunakan sebenarnya sama saja dengan puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Menggunakan agama dan Tuhan untuk menggiring opini untuk suatu tujuan. Namun karena kesakralannya tersebut banyak yang terjebak dengan konformitas (bisa baca di: https://www.wsj.com/articles/the-brain-science-of-conformity-1492722013). Persepsi yang dibuat massif menjadi ketakukan bila menjadi yang beda.

 

“Merasa benar, menjajah nalar”

Nalar menjadi hal yang tabu. Sesuatu yang haram. Nalar menjadi tidak layak ada di otak. Merasa kebenaran atas sebuah konstruksi sosial menjadi sesuatu hal yang mutlak. Tidak menerima perbedaan pendapat ataupun lainnya. Lagi, konformitas menjadi lekat.

“Dan kalau kita membiarkan saja, anak kita berikutnya”

Penggalan lirik diatas seperti cambukan untuk mengingatkan kalau kejadian seperti ini tidak bisa dibiarkan. Karena terlalu berlarut dengan masalah yang sama. Hampir 2 dekade lalu Indonesia mengalami tragedi yang terjadi dibanyak kota yaitu dengan konflik SARA. Berapa banyak korban yang terbunuh karena perbedaan? Terlahir dengan ras berbeda dengan temannya, memeluk agama yang berbeda dengan tetangganya menjadi suatu kesalahan karena menjadi minoritas. Bersusah payah menyatukan bangsa yang terdiri dari berbagai suku dan agama, lalu dihancurkan begitu saja? Kebencian menjadi bahan bakar yang ampuh. kebencian menjadi konten yang digemari, kebencian menjadi senjata pemusnah massal.

Mungkin damai tidak akan pernah ada dan kebencian atas perbedaan selalu ada. Namun yang bisa kita lakukan adalah meminimalisirnya. Bukan berarti saya tidak optimis dengan adanya utopia itu. Hanya sudah ribuan tahun bumi ini hidup dengan seperti ini. Jadi bersikap realistis tanpa berekspektasi lebih sepertinya jadi pilihan.

Kalaupun benci karena berbeda atas hal apapun, biarkan kebencian itu disimpan sendiri tanpa menghasut orang lain. Jangan sampai persepsi pribadi dibuat seolah – olah menjadi persepsi massif yang akhirnya menjadi konflik besar. Dan hal ini terjadi di berbagai level, dari mulai pertemanan sampai kelompok lebih besar yaitu bangsa.

Kita harus menjamin hak masing – masing individu. Karena Negara pun menjaminnya. Kita hidup bukan dengan diri kita sendiri saja. Kita hidup dengan manusia yang berbeda sampai setiap sel tubuhnya. Jangan sampai konflik membesar dan akhirnya melibatkan otot dan darah. Hidup akan lebih hikmat bila perbedaan menjadi kewajaran bukan kenistaan.

“Individu, Individu Merdeka!”

Advertisements
Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)