Seni Memilih

Hidup itu pilihan. Bisa hanya satu atau puluhan pilihan yang terhampar. Yang paling sulit adalah memilih.

Dari kecil terbiasa dipilihkan. Makanan disiapkan & disuapi. Besar sedikit kita bisa memilih, walaupun hanya sekedar memilih mau nonton kartun yang mana.

Pilihan akan berujung kepada apa kata hati kita atau apa kata otak kita. Tapi seringnya mereka bertengkar. Karena yang otak tidak mau terima apa kata hati, karena (biasanya) tidak logis.

Makin banyak pengalaman kadang bukan membuat mudah memilih, tapi seringnya membuat bingung. Karena terlalu banyak skenario. Padahal kalau hidup ini ibarat film, sutradara (yaitu kita) punya hak prerogatif untuk memilih skenario yang cocok.

Dan kalau hidup ini adalah film, kita seringkali takut kalau skenario yang dipilih akhirnya tidak memuaskan penonton. Padahal penonton ya hanya menonton, bukan pemain. Yang main kan kita sendiri. Dan beberapa supporting actor yang membantu membuat film (baca: hidup) ini jadi blockbuster.

Tapi apa jadinya kalau hidup adalah sebuah video game. Dimana kita bisa kembali ke check point kita kalau kita salah? Apakah kita akan belajar dari kesalahan atau malah terus mencoba dengan hal yang sama padahal kita tahu ini tidak akan berhasil?

Atau apakah hidup ini layaknya panggung sandiwara seperti yang dinyanyikan oleh Nike Ardilla, “Dunia ini panggung sandiwara
ceritanya mudah berubah”.

Apapun itu, memilih adalah suatu kenyataan yang kita hadapi tiap hari dari mulai pagi, “enakan lanjut tidur sebentar lagi atau langsung mandi?” sampai ingin tidur, “nonton 1 episode lagi atau tidur ya?”.

Akan sulit membuat konklusi apakah lebih baik memilih dengan hati atau otak bila dihadapi pilihan. Atau memang sebaiknya biar waktu yang menjawab?

14 Apr 2.46

Advertisements
Seni Memilih