Tamasya

Taman Cibodas

Saya & teman yang lain sedang tamasya di Taman Cibodas. Kegiatan ini sepertinya tidak pernah dilakukan sebelumnya. Karena kami anak rumahan yang terlalu nyaman kalau sudah duduk di sofa. Kami ke Taman Cibodas dengan bawa bekal makanan, tikar, dan laptop untuk nonton bareng. Aneh memang sih lagi tamasya di taman malah bawa laptop, tapi ya begitulah kami.

Saya mulai menggelar tikar secara seksama di permukaan yang rata supaya enak duduknya. Lalu di lanjut dengan teman yang lain menyiapkan segala bawaan kami untuk mulai menyantap bekal yang kami bawa. Karena ini tamasya “cantik” dan malas ribet. Jadi ya hanya bawa makanan yang siap saji saja.

Perjalanan kami dari rumah ke taman ini saja sudah memakan waktu yang lumayan cukup untuk mengistirahatkan mata. Apalagi jarak dari parkiran ke area ini juga melewati banyaknya anak tangga yang lumayan buat betis & lutut boleh beradu otot dengan abang odong – odong.

Dengan hikmat kami melahap semua bekal yang kami sudah siapkan dengan sisipan foto – foto (sok) candid yang memperlihatkan aktivitas kami yang (sok) beda dari biasanya. Anak kantoran yang biasanya menghabiskan waktu senggangnya paling banter ke mall atau kafe hits di Jakarta. Sekarang mencoba untuk tamasya lesehan di taman supaya terlihat layaknya New Yorker menghabiskan pagi mereka di Central Park sewaktu summer.

Tujuan kami sampai niat bawa laptop adalah nonton bareng, tapi baru ingat bahwa kapasitas baterai laptop apakah sebanding dengan durasi film yang kita mau tonton. Tapi film yang mau di tonton juga genre comedy yang durasinya hanya 1 setengah jam. Kenapa memilih comedy? Karena ringan, bisa ketawa bareng, dan sebagai timer kita juga kalau filmnya selesai berarti kita harus bersiap pulang karena takut panas matahari. Rada aneh emang, mau habiskan waktu di taman tapi malah takut panas.

Sewaktu lagi seru nonton, teman yang lain satu per satu pergi. Mereka terdistraksi dengan sekumpulan anak kecil yang asik bermain layang – layang. Sedangkan saya terhipnotis dengan film ini. Padahal film ini sudah saya tonton mungkin lebih dari 5x. Tapi acting Sacha Baron Cohen benar – benar ajaib. Maka tersisa saya yang tidak peduli dengan aktivitas menerbangkan layang – layang itu. Dan ternyata si Dia yang juga lagi seru nonton. Tapi saya pun tidak menanyakan kenapa Dia tidak ikut bersama teman yang lain, terlalu malas untuk ngobrol.

Saya melihat ada gerakan mendekat dari ujung mata saya. Tapi mencoba untuk menghiraukannya. Sampai akhirnya Dia menyenderkan kepalanya di tangan kiri saya yang sedang bertumpu di atas lutut. Itu rasanya mengalahkan jantung yang berdetak kencang sewaktu masih kecil di kejar anjing komplek. Rasa seperti ini yang sudah lama sekali tidak saya rasakan. Dan ini yang selalu terjadi dikala Dia ada, saya harus melawan gugup setiap kali Dia ada. Kenapa begitu? Karena saya tidak mau kelihatan begitu gugup. Padahal tangan keringat dingin & jantung berdetak kencang. Dalam hati sewaktu lihat dia bersandar, “ini mungkin balasan Tuhan sewaktu kemarin saya bersedekah”. 

Dia dengan tenangnya bersandar & tertidur pulas di tangan saya dengan tangannya mendekap kaki saya. Disini yang membuat saya bingung, apakah memang Dia seperti ini ke semua orang, atau memang Dia menaruh rasa ke saya (ngarep ceritanya). Karena tidak sepatah katapun yang Dia ucapkan dari awal nonton. Tetiba mendekat & bersandar. Rasanya hati seperti di Surga.

Karena dia terlelap tenang di tangan saya dan perasaan senang yang tak terbendung lagi. Saya pun mencoba memegang tangannya yang hangat itu. Kapan lagi bisa memegang tangan orang yang kamu suka. Ini pun akhirnya saya beranikan diri dengan menganalisa terlebih dahulu segala skenario yang muncul kalau Dia sampai bangun.

Lalu action kedua yang saya lakukan ini sangat berani (baca: oportunis bukan pervert). Karena kalau orangnya tidak suka & merasa terganggu, mungkin saya akan kena pasal perbuatan yang tidak menyenangkan. Semoga tidak ditambah dengan pasal berlapis untuk pelecehan seksual. Saya beranikan diri mengecup keningnya. Tidak sampai sedetik bibir ini ada di keningnya. Bodohnya saya tidak melihat sekitar karena takut ada teman yang melihat. Kalau sampai mereka lihat, ah sudah pasti saya jadi bulan – bulanan. Belum sampai otak ini mencari alasan kalau ada teman yang melihat.

Dan………. Diapun terbangun dari tidurnya.

Sontak saya terkejut sewaktu Dia bangun & merubah posisinya jadi duduk tegak menghadap saya sembari ngulet & ngucek matanya. Saya hanya bisa diam seperti kucing ketangkap basah nyolong ikan dari meja makan.

Dia dengan tenang mengambil tangan saya sambil menatap dan ngomong, “lain kali kalau kamu pengen cium aku ngomong aja. Jangan nyuri nyuri pas aku tidur gitu ya. Okay?”.

Itu rasanya ya, sepertinya semua perasaan senang selama hidup ini kalau diakumulasikan juga tidak akan bisa mengalahkan perasaan senang sewaktu mendengar perkataan Dia. Rasanya seperti ingin mati saat itu juga. Karena mati bahagia sepertinya tidak menyiksa.

Saya hanya bisa membalas dengan tatapan malu dengan bibir yang bergetar dan berucap, “i y a”.

——————-

Ini adalah cerpen pertama saya. Yang mungkin nanti bisa bersambung dengan cerpen yang lain. Inspirasi menulis cerpen hadir setelah membaca “Jakarta Kafe” karya Tatyana. Semoga cerpen berikutnya bisa lebih rapih dalam segi penulisan, penokohan dan isi cerita.

Advertisements
Tamasya